Pertanian modern membutuhkan generasi baru
Transformasi pertanian adalah perubahan cara sektor pertanian bekerja—dari praktik konvensional menuju sistem yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan dengan dukungan teknologi serta sumber daya manusia yang terampil. Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa mendorong pemuda mengambil peran dalam perubahan itu melalui inovasi, teknologi, dan penguatan kapasitas manusia demi kedaulatan pangan berkelanjutan. Pesannya tepat: sektor ini tak akan menarik generasi penerus jika terus dipandang sebagai pekerjaan berat tanpa ruang untuk gagasan baru. Saleh menyebut anak muda sebagai pencipta modernisasi teknologi dan digitalisasi pangan sekaligus penggagas inovasi budidaya. Artinya, keterlibatan pemuda di sektor pertanian seharusnya bukan sekadar menambah tenaga kerja, melainkan memberi mereka ruang untuk merancang cara produksi yang lebih baik.
Ajakan itu juga menantang anggapan bahwa bertani harus selalu kotor dan melelahkan. Teknologi pertanian modern dan digitalisasi dapat mengubah pengelolaan budidaya serta usaha tani agar lebih efisien. Namun, alat saja tidak cukup: petani muda memerlukan pengetahuan, akses pada infrastruktur, dan kesempatan mengembangkan usaha. Pemerintah menyebut tenaga kerja pertanian meningkat 4,66 persen pada 2026. Angka tersebut memberi momentum, tetapi bukan bukti bahwa regenerasi telah tuntas. Ukuran keberhasilan berikutnya adalah apakah lebih banyak anak muda dapat masuk, bertahan, dan memperoleh manfaat dari pertanian yang produktif.
Dua penekanan, satu agenda perubahan
Dua pernyataan Saleh membawa tekanan yang saling melengkapi. Pernyataan pertama menempatkan transformasi pertanian dalam kerangka luas: inovasi, teknologi, penguatan sumber daya manusia, dan kedaulatan pangan berkelanjutan. Pernyataan lainnya lebih menonjolkan penggunaan inovasi dan teknologi modern untuk membuat sektor ini produktif, efisien, dan menarik bagi generasi penerus. Perbedaan tekanannya penting. Perangkat digital dan metode budidaya baru dapat memperbaiki kerja di lapangan, sementara penguatan manusia menentukan apakah perubahan itu bisa diterapkan dan dipertahankan. Jika kebijakan hanya berbicara tentang teknologi, petani muda berisiko menjadi pengguna alat tanpa kuasa menentukan arah usaha. Inovasi pertanian akan lebih bermakna ketika disertai keterampilan, akses, dan ruang bagi pemuda untuk mengambil keputusan.
Peluang bagi generasi muda terbuka dalam pengembangan budidaya, pemanfaatan data dan digitalisasi pangan, serta pengelolaan usaha tani yang lebih produktif dan efisien. Mereka dapat membawa cara kerja baru, tetapi transformasi tidak boleh dibebankan kepada anak muda seorang diri. Pendampingan, infrastruktur, dan kebijakan yang membuka akses menjadi syarat agar gagasan bisa berkembang menjadi praktik. Kenaikan tenaga kerja 4,66 persen pada 2026 perlu digunakan sebagai kesempatan untuk memperluas regenerasi, bukan sekadar angka yang dirayakan. Pemerintah berharap porsi tenaga kerja dari kalangan milenial terus bertambah; harapan itu baru berarti jika jalan masuk ke sektor ini jelas dan berkelanjutan.
Inovasi juga harus tangguh menghadapi iklim
Pembaruan pertanian bukan hanya soal menghasilkan lebih banyak, tetapi juga membaca risiko sebelum mengganggu produksi. Saleh menyoroti krisis pangan global, dinamika geopolitik, dan perubahan iklim sebagai ancaman yang perlu diantisipasi. Karena itu, ia menekankan pentingnya intelijen pertanian untuk menganalisis keadaan dan memperkirakan potensi gangguan. Bagi pemuda, ini membuka ruang kontribusi yang melampaui pekerjaan di lahan: kemampuan mengolah informasi dapat membantu perencanaan tanam dan pengelolaan usaha. Namun, keputusan berbasis data harus berpijak pada kondisi petani dan lingkungan setempat. Teknologi hanya berguna jika membantu orang mengambil keputusan yang tepat, bukan menambah kerumitan atau menggantikan pengetahuan lapangan.
El Nino dan La Nina dapat mengubah pola tanam serta produktivitas, sehingga pemerintah menekankan adaptasi melalui peningkatan Luas Tambah Tanam, optimalisasi pompa, dan penguatan infrastruktur pertanian. Prinsipnya bukan memaksa alam mengikuti target produksi, melainkan menyesuaikan strategi dengan keadaan. Di sinilah inovasi pertanian dapat memberi manfaat langsung: membantu petani mengatur waktu tanam, menggunakan sumber daya lebih cermat, dan menjaga hasil ketika cuaca berubah. Keterlibatan generasi muda patut didorong, tetapi harus disertai dukungan nyata agar ide dan keterampilan mereka bisa dipakai menghadapi risiko pangan.
Dari ajakan menuju perubahan nyata
Ajakan Wamentan memiliki arah yang meyakinkan: jadikan pertanian lebih modern dan menarik dengan melibatkan pemuda sebagai pencipta teknologi, penggerak inovasi, dan pengelola usaha. Akan tetapi, seruan saja tidak cukup untuk mengubah citra pekerjaan atau memperkuat kedaulatan pangan. Pemerintah perlu memastikan regenerasi berjalan bersama peningkatan kapasitas, akses infrastruktur, dan dukungan bagi penerapan teknologi. Kenaikan jumlah tenaga kerja menjadi titik awal, bukan garis akhir. Jika anak muda diberi ruang untuk mengembangkan gagasan sekaligus memperoleh manfaat dari usaha tani, sektor ini dapat menjadi pilihan kerja yang produktif dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, transformasi pertanian akan berhasil bukan karena teknologi hadir di lahan, melainkan karena teknologi menjawab kebutuhan petani dan memperkuat kemampuan mereka menghadapi perubahan. Pemuda membawa peluang untuk memperbarui budidaya dan pengelolaan pangan; pemerintah perlu mengubah peluang itu menjadi jalan yang dapat ditempuh. Memadukan inovasi, keterampilan, dan adaptasi terhadap alam adalah langkah yang lebih masuk akal menuju pertanian yang tangguh. Dengan demikian, keterlibatan generasi muda bukan pelengkap agenda pangan, tetapi bagian penting dari masa depan sektor pertanian.






