Modernisasi harus dimulai dari kebutuhan petani
AI pertanian adalah penggunaan kecerdasan buatan untuk mengolah data lahan dan produksi agar petani dapat mengambil keputusan lebih tepat tentang penanaman, perawatan, pemupukan, dan panen. Teknologi ini hanya akan berguna jika sesuai dengan kebutuhan pengguna dan didukung akses serta pendampingan.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mendorong pemanfaatan teknologi modern asal China untuk mempercepat modernisasi pertanian, termasuk mekanisasi, kecerdasan buatan, drone tanpa awak, dan robot pertanian. Dorongan itu dibahas dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian China Zhang Zhu di Beijing pada 2 November 2026. Amran menginginkan kerja sama dari hulu hingga hilir, mulai dari benih dan alat mesin pertanian sampai pembangunan klaster produksi. Transfer teknologi menjadi agenda penting, tetapi ukuran keberhasilannya bukan banyaknya mesin yang didatangkan. Teknologi harus mampu menyelesaikan masalah nyata di lahan, mudah dipakai, dan meningkatkan hasil tanpa membebani petani dengan sistem yang tidak mereka kuasai.
Dari sensor lahan hingga drone dan robot
Manfaat paling dekat bagi petani adalah keputusan yang lebih terukur. Sensor tanah dapat membantu memperkirakan kebutuhan air dan pupuk, sementara AI berpotensi mengolah informasi itu untuk mendukung perawatan tanaman. Drone pertanian dapat membantu pemantauan lahan dan pekerjaan budidaya, sedangkan robot pertanian diarahkan untuk mendukung kegiatan produksi. Namun, teknologi tidak otomatis menurunkan biaya: hasilnya bergantung pada ketepatan alat, ketersediaan data, kemampuan pengguna, dan kecocokannya dengan kondisi kebun atau sawah.
Digitalisasi pangan juga dapat membantu menekan biaya produksi, mempermudah proses tanam, perawatan, pemupukan, panen, dan distribusi. Sustainability Analyst CNBC Indonesia Research, Salma Laiqa, mencontohkan teknologi produksi ikan nila di Jawa Barat yang mampu meningkatkan produksi. Contoh ini memberi alasan untuk memperluas uji coba, tetapi bukan untuk menganggap satu solusi akan cocok bagi semua petani dan nelayan. Pemerintah perlu mendampingi pengguna agar teknologi yang dipilih benar-benar tepat guna, bukan sekadar hadir sebagai perangkat baru.
Produksi sawit ikut mendorong agenda AI
Dorongan teknologi tidak berhenti pada tanaman pangan. Indonesia dan negara produsen sawit lainnya membahas pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi produksi serta keberlanjutan industri dalam Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan keempat di Shanghai. Forum itu melibatkan sekitar 220 peserta dari 11 negara. CPOPC mencatat negara anggotanya memasok sekitar 89 persen minyak sawit dunia, sehingga perubahan produktivitas dan praktik di negara-negara tersebut memiliki dampak luas bagi rantai pasok.
AI dapat membantu mendukung produksi sawit, tetapi target peningkatan hasil harus berjalan bersama penggunaan sumber daya yang bertanggung jawab. Kebutuhan minyak nabati dunia terus meningkat, sementara perubahan kebijakan lingkungan dan perdagangan dapat memengaruhi akses pasar, biaya produksi, dan keputusan investasi. Karena itu, teknologi seharusnya menjadi bagian dari strategi produktivitas dan keberlanjutan, bukan dalih untuk mengejar volume tanpa memperhatikan dampak. Kerja sama produsen dengan China juga penting untuk menyelaraskan kepentingan perdagangan, standar keberlanjutan, dan penguatan rantai pasok.
Tantangan utama: akses, keterampilan, dan tindak lanjut
Janji AI dan mesin baru berhadapan dengan kesenjangan kemampuan serta akses. Petani dan nelayan memerlukan pelatihan untuk memilih, mengoperasikan, dan merawat teknologi; mereka juga perlu dukungan agar perangkat sesuai dengan skala usaha dan kondisi setempat. Tanpa pendampingan, teknologi yang dirancang untuk menekan biaya justru berisiko sulit dimanfaatkan oleh kelompok yang paling membutuhkan peningkatan produktivitas. Pemerintah perlu memastikan uji coba mengukur manfaat praktis, termasuk kemudahan penggunaan dan dampaknya pada hasil, bukan hanya jumlah alat yang dibagikan.
China menyatakan siap memperdalam pembahasan teknis dan kolaborasi penelitian, termasuk untuk drone tanpa awak, robot pertanian, dan AI, serta mengorganisasikan delegasi perusahaan untuk menjajaki peluang investasi. Kedua negara sepakat memperkuat komunikasi dan pembahasan teknis sebagai tindak lanjut. Langkah berikutnya semestinya menempatkan petani dan nelayan dalam proses perancangan serta pengujian, dengan pendampingan yang berkelanjutan. Modernisasi pertanian baru layak disebut berhasil ketika teknologi yang dibawa benar-benar bekerja di lapangan dan manfaatnya dapat dirasakan oleh penggunanya.






