Low-waist, Gen Z, dan makna baru di balik sepotong pinggang
Tren low-waist Gen Z adalah kebangkitan kembali celana berpotongan rendah ala era Y2K yang menyatu dengan siluet longgar dan estetika kasual, dipopulerkan lewat media sosial, budaya pop, dan street style, sehingga bergeser dari sekadar gaya nostalgik menjadi bahasa visual untuk berbicara tentang kenyamanan, ekspresi diri, dan cara baru memandang tubuh muda di era digital.
Tren gaya berpakaian low-waist kembali menjadi perhatian di kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z, dengan celana berpotongan di bawah pinggang yang identik dengan fesyen awal 2000-an dan kini muncul lagi di konten OOTD, panggung hiburan, sampai gaya kasual sehari-hari anak muda. Banyak yang melihatnya sebagai nostalgia Y2K fashion, tetapi di tangan Gen Z, low-waist menjadi arena eksperimen: dipadukan baby tee, oversized jacket, hoodie, dan sneakers sehingga tampil jauh lebih santai dan mudah dipakai dalam rutinitas harian. Jika dulu low-rise sering diasosiasikan dengan tubuh super kurus, kini ia hadir berdampingan dengan celana baggy tren yang memberi ruang gerak untuk bentuk tubuh yang lebih beragam.
Dari sarung sampai celana gombrong: siklus celana longgar dan tubuh yang leluasa
Untuk memahami kenapa low-waist dan siluet longgar terasa begitu natural bagi Gen Z, kita perlu menengok sejarah celana baggy tren yang jauh lebih tua dari FYP mana pun. Tren celana baggy pants atau celana longgar sudah melalui beberapa fase transformasi budaya, mulai dari masa kolonial hingga budaya urban modern, dan saat ini kembali banyak digunakan oleh anak muda. Pergeseran besar terjadi pada dekade 1920 ketika masyarakat perlahan meninggalkan sarung dan mulai memilih celana panjang bergaya Barat sebagai bagian dari pakaian sehari-hari.
Setelah itu muncul era “celana gombrong” atau cutbray ala musisi dangdut yang menjadi simbol streetwear lokal pada 1970–1990-an sebelum sempat dicap ketinggalan zaman. Kemudian, baggy pants versi hip-hop dan skateboard mengambil alih, menampilkan potongan sangat lebar di paha dan lutut yang memberi kesan oversized dan kebebasan bergerak. Kini, data Edited Market Intelligence mencatat penjualan celana bersiluet longgar melonjak hingga 74 persen secara global dibanding periode 2021–2022. Fenomena kembalinya celana longgar ini menegaskan bahwa tren fashion berjalan siklis, dan setiap siklus membuka peluang penerimaan tubuh yang lebih leluasa.

Nostalgia Y2K versus standar kecantikan baru di era filter
Kembalinya low-waist tidak bisa dilepaskan dari kebangkitan estetika Y2K yang menonjolkan warna cerah, aksesori unik, dan siluet pakaian yang berani, lalu dipadukan dengan kreativitas digital Gen Z sehingga nostalgia Y2K fashion kembali mendapatkan tempat di tengah tren fesyen yang terus berubah. Namun romantisasi Y2K datang berdampingan dengan kembalinya glorifikasi tubuh sangat kurus, terutama di budaya populer dan hiburan, sementara penggunaan obat penurun berat badan, prosedur kecantikan, filter digital, dan kecerdasan buatan membuat citra tubuh “sempurna” terasa makin mudah diakses di layar, tetapi sulit diwujudkan di kehidupan nyata. Tampilan yang terlihat sempurna ini dapat menciptakan standar yang sulit dicapai dan membuat banyak orang kembali mempertanyakan hubungan mereka dengan tubuh sendiri.
Di titik ini, body positivity fashion menghadapi ujian baru. Gerakan body positivity tidak berhenti pada ajakan mencintai tubuh, tetapi berkembang dengan mendorong keberagaman representasi dan kebebasan setiap orang menentukan pilihan terhadap tubuhnya, termasuk hak untuk tidak mengalami diskriminasi karena bentuk atau ukuran tubuh. Seiring perubahan tren kecantikan, pembahasan tentang body positivity ikut berkembang, dan media sosial, teknologi digital, serta tren penurunan berat badan menjadi tantangan baru yang memengaruhi cara masyarakat melihat tubuh. Pertanyaannya: apakah low-waist versi Y2K 2.0 akan ikut terseret standar kurus ekstrem, atau justru dipakai Gen Z untuk menggeser narasi ke arah penerimaan tubuh yang lebih realistis?
Runway, street style, dan politik halus di balik pinggang turun
Di jalanan dan kampus, low-waist kini muncul dalam aktivitas nonformal seperti konser, festival, kegiatan organisasi, hingga nongkrong; bagi banyak mahasiswa, busana menjadi sarana ekspresi identitas dan cara mengikuti budaya populer global. Fenomena ini sejalan dengan meningkatnya minat terhadap model potongan loose dan relaxed fit, yang di kawasan Asia—khususnya pada sektor menswear—mencatat peningkatan pencarian hingga 2,5 kali lipat, terutama di pasar tertentu yang didominasi anak muda. Low-waist yang dipadukan dengan potongan longgar membuat tubuh bergerak lebih bebas, visualnya terasa santai, dan secara simbolik menggeser fokus dari “merampingkan” badan ke arah “merayakan” siluet yang apa adanya.
Namun kebebasan bergaya ini tidak berdiri di ruang hampa. Di kampus misalnya, low-waist mungkin cocok untuk konser atau kegiatan komunitas, tetapi belum tentu sesuai untuk ruang kelas, laboratorium, atau forum resmi; tren fesyen tetap perlu disesuaikan dengan situasi, posisi, dan tempat agar selaras dengan aturan dan kebutuhan. Di sisi lain, gerakan body positivity mengingatkan bahwa penerimaan tubuh tidak berarti harus menyukainya setiap saat, tetapi menjamin hak hidup tanpa diskriminasi berbasis bentuk tubuh. Di persimpangan inilah low-waist dan celana baggy bisa dibaca bukan sekadar mode, melainkan negosiasi halus antara norma sosial, estetika global, dan kenyamanan pribadi.

Menuju masa depan fesyen yang lebih jujur pada tubuh
Kombinasi tren low-waist Gen Z, nostalgia Y2K fashion, dan kembalinya celana baggy tren menunjukkan satu hal: standar kecantikan evolusi bukan proses linear yang pelan-pelan makin inklusif, melainkan tarik-menarik antara ideal tubuh kurus, teknologi filter, dan dorongan untuk menerima tubuh apa adanya. Saat celana longgar dan pinggang turun muncul kembali di runway dan street fashion, kita melihat bagaimana pola siklus fashion membuka ruang tafsir baru atas tubuh: dari sarung ke celana kolonial, dari celana gombrong hingga hip-hop baggy, lalu ke low-waist berpotongan longgar yang digemari Gen Z hari ini.
Ke depan, tantangannya bukan sekadar memilih ikut tren atau tidak, melainkan bagaimana memakai tren sebagai alat negosiasi dengan tubuh sendiri: apakah low-waist membuatmu merasa nyaman, bisa bergerak bebas, dan tidak terjebak standar yang mustahil dicapai? Tren akan terus berputar, tetapi yang menentukan arah selalu manusia yang memakainya. Jika body positivity fashion ingin tetap relevan, ia harus hadir bukan hanya sebagai slogan di media sosial, melainkan sebagai keputusan konkret di depan lemari pakaian setiap hari.





