Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Perahu Pemancing Terbalik di Cilegon, Dua Orang Tewas

Perahu Pemancing Terbalik di Cilegon, Dua Orang Tewas
Minat|Asia Tenggara

Ombak membalikkan perahu kayu

Kecelakaan perahu pemancing di Cilegon adalah insiden laut ketika perahu kayu yang membawa tiga orang terbalik setelah dihantam ombak besar di perairan Pulau Tempurung, Merak, pada Senin, 26 Oktober 2026. Dua orang meninggal dunia dan satu orang selamat, sebuah akibat tragis yang menegaskan betapa cepat kondisi di laut dapat berubah saat warga beraktivitas di perairan terbuka. Ketiga penumpang sedang memancing ketika ombak menghantam perahu dan membuatnya terbalik. Peristiwa perahu terbalik Cilegon ini bukan sekadar kabar duka: ia menjadi pengingat bahwa kegiatan rekreasi di laut tetap membawa risiko serius, terutama ketika cuaca dan gelombang tidak bersahabat. Informasi yang tersedia menyebut ombak sebagai pemicu langsung, tetapi tidak merinci kondisi cuaca lebih jauh. Karena itu, kewaspadaan dan perlengkapan keselamatan seharusnya menjadi bagian wajib dari setiap perjalanan.

Perahu Pemancing Terbalik di Cilegon, Dua Orang Tewas

Pertolongan dari kapal feri

Setelah terbalik, para korban bertahan dengan mengapung di laut sekitar satu setengah jam. Kejadian pertama kali diketahui penumpang KMP SMS Sagita sekitar pukul 15.20 WIB. Kru kapal feri itu kemudian bermanuver mendekati lokasi dan melemparkan pelampung penolong untuk membantu evakuasi. Ujang Sutisna, 34 tahun, warga Kota Serang, menjadi satu-satunya korban yang berhasil diselamatkan oleh kru kapal. Ia dibawa ke Pelabuhan Merak, lalu dirujuk ke Puskesmas Pulomerak untuk mendapatkan penanganan medis. Respons kapal yang melintas menjadi penentu penting dalam proses penyelamatan, tetapi keberhasilan ini tidak menghapus kenyataan bahwa korban harus bertahan lama di tengah laut. Peristiwa tersebut juga memperlihatkan nilai kesiapsiagaan di jalur pelayaran sibuk: pengamatan cepat dan perlengkapan penyelamat dapat membuka peluang bagi korban untuk bertahan.

Dua korban meninggal, kewaspadaan perlu ditingkatkan

Dua pemancing lainnya, Afendi, 36 tahun, warga Kota Serang, dan Sugiarto, 38 tahun, warga Temu Putih, Cilegon, ditemukan meninggal dunia. Jasad mereka dievakuasi oleh kapal nelayan setempat menuju Pelabuhan Merak sebelum dibawa ke RSUD Cilegon. Dengan dua pemancing tewas dan satu orang selamat, kecelakaan laut Cilegon ini menunjukkan bahwa akibat ombak Pulau Tempurung tidak berhenti pada perahu yang terbalik; keselamatan penumpang bergantung pula pada kesiapan menghadapi keadaan darurat. Tim SAR gabungan mengimbau nelayan dan pengguna transportasi laut di perairan Banten agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca buruk serta melengkapi diri dengan alat keselamatan yang memadai. Imbauan itu perlu diperlakukan sebagai langkah dasar, bukan formalitas setelah tragedi. Sebelum melaut, pengguna perahu perlu memastikan perlengkapan keselamatan tersedia dan memperhatikan risiko gelombang. Kesimpulannya, kewaspadaan tidak menjamin laut selalu aman, tetapi dapat memperbesar peluang bertahan ketika keadaan berubah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!