Gerai yang lebih dari sekadar tempat berbelanja
Konsep retail Vans adalah pendekatan desain toko yang menyatukan penjualan produk dengan budaya skateboard, seni, musik, dan kegiatan komunitas kreatif. Di Grand Indonesia, pendekatan ini terasa lebih bermakna daripada sekadar pembaruan dekorasi: gerai seluas 100 meter persegi itu menjadi yang pertama dengan konsep tersebut di Asia Tenggara. Vans membuka kembali toko Vans Jakarta ini pada 30 Oktober 2026, menghadirkan ruang yang mengajak pengunjung melihat identitas merek melalui lingkungan, bukan hanya produk. Pilihan menjadikan Jakarta lokasi perkenalan regional memberi kota ini peran penting dalam arah baru pengalaman ritel Vans. Namun nilai utamanya bukan klaim sebagai yang pertama, melainkan upaya memberi ruang nyata bagi kreativitas lokal.

Beton ekspos menggantikan kayu gelap
Perubahan paling kentara ada pada material. Jika gerai sebelumnya mengandalkan perpaduan kayu gelap dan besi hitam, desain baru memakai beton ekspos bertekstur, logam abu-abu, serta pola geometris yang terinspirasi skatepark. Peralihan ini membuat interior terasa lebih terbuka dan berkarakter, sekaligus menjauh dari tampilan toko konvensional. Bahasa desainnya selaras dengan akar Vans di budaya skateboard, tetapi tidak berhenti pada nostalgia: konstruksi logam dan permukaan kasar memberi panggung visual yang cocok untuk karya seni kontemporer. Bagi pengunjung, ini berarti pengalaman toko lebih kuat dan mudah diingat. Tantangannya adalah memastikan estetika tidak mengalahkan fungsi belanja; konsep yang bagus tetap perlu membuat produk mudah ditemukan dan ruang nyaman digunakan.
Seniman lokal menjadi bagian dari identitas ruang
Kolaborasi dengan seniman lokal membuat gerai ini memiliki cerita yang lebih spesifik daripada sekadar menempelkan logo pada interior. Karya utama OFF (THROUGH) THE WALL oleh Rony Rahardian, yang dikenal sebagai Rebellionik, mengambil inspirasi dari pola waffle sole Vans dan memadukan logam, aluminium, stiker, kayu, serta cermin. Gerai juga menampilkan Layers of The System dari The Popo, karya keramik Anoma Studio, sepatu keramik Vans Authentic dari Holiday/Ceramic, Si Paling Off The Wall dari Senikanji, dan Planet WKWK-99X dari Dwiky KA. Ragam medium tersebut menjadikan toko sebagai ruang pertemuan desain dan budaya urban. Pendekatan ini patut diapresiasi karena memberi visibilitas bagi kreator Indonesia, bukan hanya memakai seni sebagai ornamen tanpa konteks.
Ruang komunitas, dengan akses yang masih terbatas
Pembukaan gerai disertai acara Friday, I'm in Vans yang melibatkan komunitas, musisi, dan pelaku kreatif. Diskusi The Wafflesound Talks menghadirkan Baskara Putra atau Hindia bersama Sammy Bramantyo dari Seringai untuk membahas musik dan ekspresi, sementara The Art of Recycle mempertemukan Rebellionik dengan Robert Wanasida dari Kopi Nako Daur Baur. Vans juga merilis Premium Old Skool 36 Harris Tweed, Premium Old Skool 36 Flames, dan VANSZA Authentic Kickdown pada 30 Oktober 2026. Ketiganya dijual terbatas berdasarkan urutan kedatangan, tetapi jumlah stok dan harga tidak diumumkan. Koleksi khusus menambah daya tarik, meski sistem terbatas dapat membuat akses tidak merata. Belum ada pengumuman tentang gerai serupa di kota atau negara lain. Pada akhirnya, konsep ini paling menjanjikan bila seni dan komunitas tetap menjadi bagian rutin toko, bukan hanya perayaan pembukaan.






