Seni Rupa Interior: Dari Dinding Galeri ke Ruang Hidup
Seni rupa interior adalah pendekatan penataan ruang yang menempatkan lukisan, patung, dan instalasi artistik sebagai elemen utama dalam merancang ruang hidup, sehingga karya seni tidak lagi berdiri sendiri di galeri netral, tetapi menyatu dengan furnitur, material, dan pencahayaan untuk membentuk pengalaman ruang yang fungsional sekaligus emosional.
WARI’ Art/Interior 2026 mengambil posisi tegas: menikmati seni tidak harus di ruangan putih yang steril. Pameran seni interior ini digelar di showroom Javier, Jakarta Design Center (JDC), Petamburan, Jakarta, pada 20–24 Oktober 2026, dan mempertemukan seni rupa kontemporer dengan desain interior, furnitur, pencahayaan, serta eksplorasi material dalam satu kesatuan ruang. Alih-alih menjadikan karya sebagai dekorasi terakhir, pameran ini menjadikan seni sebagai titik awal perancangan ruang. Ini adalah kritik halus terhadap kebiasaan lama: memilih lukisan setelah sofa dan cat dinding ditentukan. Di WARI’, ruang justru “mengikuti” karya, bukan sebaliknya.

Desain Kolaboratif: Martin Lim dan Tim Menggoyang Pakem Interior
WARI’ Art/Interior 2026 adalah eksperimen desain kolaboratif yang terstruktur, bukan sekadar pameran yang menempelkan karya di dinding. Tiga kolaborator utama—Martin Lim, Budi Kurniawan, dan Nicolaus F. Kuswanto—merancang ruang bersama para seniman seperti Andry Boy Kurniawan, Apin, Arief Witjaksana, Indra Evendi bersama Alex Bayusaputro, dan Yudi Sulistyo. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa seni rupa interior membutuhkan dialog intens antara kurator, desainer interior, dan seniman, bukan keputusan sepihak di akhir proyek.
Diprakarsai desainer interior Martin Lim melalui Javier yang mengkurasi karya, WARI’ melibatkan BK Studio di bawah Budi Kurniawan untuk penataan spasial dan dekoratif, serta Galeri ZEN1 yang dipimpin Nicolaus Fransiskus Kuswanto untuk menghadirkan karya para seniman. Di sini, desain kolaboratif bukan jargon pemasaran; setiap keputusan—dari warna dinding sampai arah lampu—dibangun untuk menegaskan karakter karya. Seperti ditegaskan Martin, “Melalui WARI’, kami ingin membuka ruang baru agar karya mereka dapat diapresiasi oleh audiens yang lebih luas, sekaligus membangun hubungan yang lebih dekat antara seni dan kehidupan sehari-hari.”
Filosofi Bugis dalam Desain: Wari’ sebagai Cara Menata dan Memaknai Ruang
Keunikan WARI’ tidak berhenti pada kolaborasi; ia berakar pada filosofi Bugis desain tentang pengaturan, kedudukan, dan penempatan. Nama WARI’ terinspirasi dari konsep “wari’” dalam tatanan adat Bugis yang berkaitan dengan bagaimana sesuatu ditempatkan dan diberi posisi. Ini bukan sekadar label etnik, tetapi kerangka berpikir: setiap karya seni harus “tahu diri” terhadap ruang, dan ruang pun menghormati keberadaan karya.
Filosofi Bugis desain ini diterjemahkan melalui penataan karya seni dengan mempertimbangkan karakter ruangan, proporsi, material, hingga pencahayaan. Sebuah patung bisa menjadi titik perhatian ketika ditempatkan di area tertentu, sementara lukisan dengan warna kuat tampil lebih menonjol dengan latar yang tepat. Di sini, seni tidak hanya hadir sebagai objek indah, tetapi sebagai penanda hirarki ruang: mana area yang mengundang kontemplasi, mana yang mendorong percakapan. Pendekatan ini mengajarkan bahwa identitas ruang tidak lahir dari gaya dekoratif semata, melainkan dari cara kita memberi “kedudukan” pada objek di dalamnya.
Ruang Hidup yang Bercerita: Dari Galeri ke Hunian Sehari-hari
Poin paling penting dari WARI’ Art/Interior 2026 adalah pesan bahwa karya seni layak hadir di ruang hidup sehari-hari, bukan hanya di galeri. Lukisan, patung, atau objek artistik menghadirkan pengalaman berbeda ketika ditempatkan di antara furnitur, tekstur material, pencahayaan, dan elemen dekoratif yang menyatu dengan interior. Dalam praktik desain interior konvensional, karya seni sering dipilih setelah ruangan selesai dirancang; WARI’ menentang pola ini dengan mempertemukan seni dan desain sejak tahap konsep.
Dampaknya terasa jelas: pengunjung dapat melihat bagaimana warna dinding, tekstur material, bentuk furnitur, dan arah pencahayaan membangun karakter sebuah karya. Sebuah ruang tidak lagi netral, tetapi bercerita—tentang selera, nilai, dan cara pemilik rumah memaknai hidup. Di sinilah seni rupa interior menemukan relevansinya: ia mengubah rumah menjadi narasi visual, bukan katalog furnitur. Kesimpulannya, jika kita ingin ruang yang lebih bermakna, kita perlu berhenti memperlakukan seni sebagai pelengkap, dan mulai menjadikannya tokoh utama dalam cerita interior kita.






