Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Panggung Hiburan ke Dapur Bisnis: Dua Kisah Pivot Kuliner

Dari Panggung Hiburan ke Dapur Bisnis: Dua Kisah Pivot Kuliner
Minat|Diskusi Resep

Karir Pivot Kuliner: Saat Dapur Menjadi Jalan Hidup Baru

Karir pivot kuliner adalah perpindahan sengaja dari profesi non-memasak ke dunia usaha makanan, biasanya dipicu krisis atau perubahan hidup, lalu dijalankan melalui eksperimen di dapur, belajar dari konsumen, dan mengubah hobi memasak menjadi bisnis kuliner pemula yang mampu menopang ekonomi keluarga serta membuka peluang kerja bagi orang sekitar. Dua nama yang menonjol dalam tren ini adalah Enno Lerian dan Solihin. Keduanya datang dari latar yang jauh dari wajan dan kuali, namun memilih dapur sebagai panggung baru. Kisah mereka penting karena menantang anggapan bahwa entrepreneur makanan lokal harus berangkat dari pendidikan resmi tata boga. Justru, keberanian mengambil risiko, disiplin belajar, dan fokus pada kualitas rasa menjadi faktor penentu. Di tengah ekonomi yang gampang goyah, pola seperti inilah yang patut dicontoh oleh pekerja yang ingin mencari usaha martabak sukses atau produk rumahan lain sebagai penopang baru.

Enno Lerian: Dari Lagu Anak ke Bebek Goreng dan Puding Rumahan

Enno Lerian dikenal publik sebagai penyanyi cilik era 1990-an lewat lagu “Si Nyamuk Nakal”, tetapi kesibukannya kini jauh dari panggung hiburan; ia menekuni bisnis kuliner yang berangkat dari kecintaannya pada dunia memasak. Perubahan itu bukan terjadi tiba-tiba, melainkan tumbuh pelan dari kebiasaan berada di dapur selama pandemi Covid-19, ketika hampir tiap hari ia memasak di rumah dan menyadari betapa kuat minatnya pada makanan rumahan. Dari rutinitas itu lahir langkah konkret: melanjutkan usaha bebek goreng keluarga dan memasarkan puding buatannya secara pre-order, yang mendapat respons positif dari pelanggan di media sosial. Di balik layar, ada ambisi lama untuk membangun usaha keluarga bersama suami, berakar dari bisnis kuliner sang ibu. Enno sendiri mengaku dulu tak pernah membayangkan bahwa dirinya yang akan turun langsung mengolah menu dagangan. Pilihan itu menunjukkan satu hal: masa krisis bisa melahirkan peluang jika kebiasaan sehari-hari diperlakukan serius sebagai cikal bakal bisnis.

Solihin dan Martabak Hari: Belajar dari Pasar, Bukan dari Kelas

Jika Enno bertolak dari dunia hiburan, Solihin berangkat dari proyek teknik dan konstruksi. Saat pekerjaan konstruksi sepi dan sebagai pekerja lepas ia tak lagi mendapat borongan, Solihin mencari alternatif dan banting setir ke kuliner dengan membangun usaha Martabak Hari. Sekitar satu dekade lalu ia mulai mencoba membuat martabak meski tidak memiliki latar belakang di bidang kuliner. Percobaan awal gagal; martabak kurang diminati dan produksi sedikit pun sulit habis. Titik baliknya adalah keputusan untuk belajar langsung di lapangan: mendatangi pasar dan pedagang makanan, mempelajari bumbu dan rempah yang digunakan, serta menguji berbagai racikan hingga menemukan rasa yang cocok di lidah konsumen. Setelah rasa diterima, tantangan beralih ke pemasaran. Strateginya lugas: berjualan secara mobile dari satu pasar ke pasar lain, menjemput bola di lokasi ramai. Pola ini perlahan membentuk pelanggan tetap, bahkan membawa Martabak Hari ke acara kampus, perusahaan, kegiatan masyarakat, dan pesanan besar hingga sekitar 1.500 porsi dalam satu kegiatan.

Dari Panggung Hiburan ke Dapur Bisnis: Dua Kisah Pivot Kuliner

Dampak Nyata dan Pola Sukses: Kualitas Rasa, Komitmen, dan Jejaring

Yang membuat kisah Enno dan Solihin relevan bukan sekadar plot dramatisnya, melainkan dampak praktis terhadap hidup mereka dan orang sekitar. Produk bebek goreng dan puding rumahan yang dipasarkan secara pre-order menjadikan Enno contoh bahwa pengalaman panjang di dunia hiburan tidak menutup peluang untuk membangun babak baru sebagai pelaku usaha kuliner. Sementara itu, Martabak Hari yang beralamat di Jalan Raya Bukit Sejahtera, Kecamatan Gandus, Palembang, telah menjadi salah satu sumber penghasilan utama bagi keluarga Solihin; usaha ini membantu menyekolahkan anak, membiayai kuliah, menutup biaya hidup, sekaligus memberi nafkah tambahan bagi tetangga dan teman yang dia libatkan dalam produksi. “Alhamdulillah, untuk keluarga sendiri bisa menopang… sekaligus membantu tetangga dan teman-teman untuk sama-sama mencari nafkah,” ujar Solihin. Polanya jelas: keberanian mengambil risiko, komitmen jangka panjang, fokus pada kualitas rasa, dan kesediaan mengembangkan jaringan lewat kegiatan UMKM yang didukung lembaga keuangan regional sebagai mitra binaan jangka panjang.

Dari Panggung Hiburan ke Dapur Bisnis: Dua Kisah Pivot Kuliner

Pelajaran untuk Calon Entrepreneur Kuliner Tanpa Latar Belakang Memasak

Bagi calon entrepreneur makanan lokal yang ingin masuk industri kuliner tanpa pengalaman sebelumnya, dua kisah ini lebih berguna daripada teori bisnis abstrak. Enno membuktikan bahwa kecintaan pada memasak yang tumbuh dari rutinitas pandemi bisa diangkat menjadi bisnis kuliner pemula, selama ada keberanian menjual dan memanfaatkan kedekatan dengan konsumen di media sosial. Solihin menunjukkan bahwa usaha martabak sukses tidak mensyaratkan ijazah kuliner; yang dibutuhkan adalah kesediaan belajar langsung dari pasar, mengamati bumbu, menguji racikan, hingga menemukan cita rasa yang sesuai selera lokal. Dukungan mitra pembina seperti bank yang menyediakan akses permodalan, edukasi bisnis, pendampingan usaha, klinik UMKM, dan perluasan pasar serta digitalisasi memperkuat fondasi usaha kecil agar bisa naik kelas dalam jangka panjang. Pada akhirnya, karir pivot kuliner bukan soal latar belakang, melainkan soal komitmen: siapa yang mau terus belajar, menjaga kualitas produk, dan mencari cara kreatif untuk bertemu pelanggan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!