Mengapa Han So Hee Sengaja ‘Melupakan’ The Intern Versi Hollywood
Han So Hee The Intern adalah pendekatan akting di mana sang aktris membangun karakter CEO Sun Woo dari nol, dengan sengaja mengabaikan referensi film asli agar dapat mengekspresikan kompleksitas seorang pemimpin muda yang ambisius sekaligus rentan, sehingga tercipta interpretasi baru yang khas, membumi, dan relevan dengan dinamika dunia kerja modern yang lintas generasi.
Keputusan Han So Hee untuk tidak menautkan diri pada bayang-bayang Anne Hathaway adalah pernyataan sikap kreatif, bukan sekadar gaya akting. Ia mengaku, “Saya berusaha berakting dengan melupakan film aslinya. Untuk menunjukkan Sun Woo versi Han So Hee, saya berakting dengan cara yang membuat kepribadian karakter tersebut terpancar secara alami.” Dalam konteks remake film Korea, ini berarti penonton tidak akan disuguhi kopi-tempel The Intern, melainkan pembacaan baru atas seorang CEO muda yang memimpin startup fashion Wootutu yang berkembang pesat dan menjadi dark horse dalam waktu tiga tahun saja. Sikap ini menegaskan bahwa remake yang sehat harus berani menegosiasikan ulang karakter, bukan sekadar mengganti bahasa dan latar kota.
Sun Woo: CEO Muda, Ambisius, dan Tersandera Burnout
Salah satu alasan karakter CEO Sun Woo terasa menjanjikan adalah kompleksitas yang sengaja ditonjolkan. Sun Woo digambarkan sebagai CEO Wootutu, sebuah perusahaan rintisan yang berkembang pesat dan menarik perhatian industri fashion tak lama setelah didirikan. Ia adalah pemimpin yang sangat kompeten, yang berhasil membesarkan perusahaan dengan cepat berkat naluri dan tekad yang luar biasa. Namun, narasi tidak memberi ruang pada fantasi girlboss tanpa cacat.
Di balik kesuksesan sosok yang tak pernah berhenti melangkah maju ini, beban pekerjaan, burnout, maupun kehidupan pribadinya perlahan menjadi terlalu berat untuk ditanggung. Di sini, teknik akting Han So Hee dituntut untuk memadukan karisma seorang pemimpin dengan kelelahan yang tidak mewujud dalam melodrama berlebihan, melainkan keletihan sehari-hari yang akrab bagi pekerja kantoran mana pun. Ketika Gi Ho, seorang pemagang senior dengan pengalaman kerja 37 tahun, bergabung ke perusahaan miliknya, dinamika lintas generasi itu memaksa Sun Woo berhadapan dengan cara kerja dan nilai yang berbeda. Jika digarap dengan jeli, hubungan ini bisa mengubah Sun Woo dari CEO muda cemerlang menjadi karakter yang menyoal mitos produktivitas tanpa batas.

Teknik Akting Han So Hee: Dari Genre Intens ke Peran yang Membumi
Transformasi Han So Hee dalam remake film Korea The Intern bukan hanya soal styling pirang mencolok dan gaun hitam elegan di konferensi pers, melainkan perpindahan genre akting. Ia menyebut bahwa setelah terus-menerus memerankan karakter dalam genre yang intens, ia sangat bersemangat untuk mencoba peran yang lebih membumi untuk pertama kalinya, peran yang menghadirkan nuansa kenyataan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ini menjelaskan mengapa ia mengambil risiko menjauh dari blueprint Hollywood.
Teknik akting Han So Hee kali ini bertumpu pada kealamian, bukan pada emosi yang meledak-ledak. Dengan secara sadar menghapus memori film asli dari proses kreatif, ia memberikan ruang bagi intuisi dan observasi personal terhadap figur CEO muda di ekosistem startup. Sun Woo yang ia sebut “sedikit bodoh” saat konferensi pers, mengisyaratkan adanya celah humanis dalam sosok pemimpin yang biasanya digambarkan serba sempurna. Ini bukan penghinaan, melainkan strategi: menjadikan kebodohan kecil, kecerobohan, dan kekurangmatangan sebagai pintu masuk empati penonton. Ketika sutradara memuji energi unik Han So Hee yang membuat Sun Woo jauh lebih memikat, itu menegaskan bahwa pendekatan personal ini berhasil terbaca di layar.

Konferensi Pers: Sun Woo Sudah Lahir Sebelum Film Tayang
Pada konferensi pers The Intern yang digelar di CGV I'Park Mall, Yongsan-gu, Seoul, Han So Hee tampil seolah Sun Woo sudah keluar dari layar. Gaya rambut pirang mencolok yang dipadukan dengan gaun hitam, styling ala CEO yang elegan sekaligus rapi, menunjukkan bahwa pembangunan karakter tidak berhenti di set syuting. Ia mengirim pesan visual: ini bukan sekadar peran, tapi sosok yang ia bawa ke ruang publik.
Di acara yang menampilkan pose hati hingga pose penuh karisma, ia tetap menekankan bahwa Sun Woo versi dirinya tidak sedang berusaha menyaingi pendahulunya, melainkan menyimpang dengan sadar. Sikap antusias terhadap kesempatan beradu akting dengan Choi Min Sik—yang ia sebut sebagai peluang yang mungkin tidak datang lagi untuk kedua kalinya dalam hidupnya—menambah bobot komitmennya. Ada sense bahwa ia memandang proyek ini sebagai latihan akting yang penting: menguji kemampuan menghidupkan karakter yang dekat dengan kenyataan, tanpa bergantung pada intensitas dramatis yang selama ini membuat namanya populer.
Dinamika Lintas Generasi dan Harapan Penonton terhadap Remake
Remake Korea The Intern mengisahkan kehidupan kantor yang melibatkan perbedaan generasi dan jabatan, dimulai ketika Gi Ho, intern berusia senior dengan pengalaman karier selama 37 tahun, bergabung ke perusahaan milik Sun Woo. Di atas kertas, ini tampak seperti pengulangan formula mentor-murid. Namun, dengan karakter CEO Sun Woo yang ambisius sekaligus kelelahan, dan sosok Gi Ho yang kepribadianya sangat bertolak belakang, film ini berpotensi mengomentari cara generasi berbeda memandang kerja, loyalitas, dan keseimbangan hidup.
Versi remake ini sudah membuat banyak penonton penasaran bagaimana para karakter dan ceritanya akan dikemas. Di Korea Selatan, film The Intern dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 September 2026. Untuk penayangannya di Indonesia, informasi masih menunggu. Waktu tunggu ini justru membuka ruang diskusi: apakah kita menginginkan remake yang setia, atau interpretasi yang berani seperti yang dijanjikan Han So Hee? Jika komitmen yang tampak di konferensi pers dan testimoni sutradara serta lawan main dapat terwujud di layar, The Intern versi Korea berpotensi menjadi contoh bagaimana sebuah remake bisa berdiri tegak sebagai karya baru, bukan sekadar bayangan film Hollywood.






