Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Spin-Off Telkom InfraNexia: Menggeser Fokus ke Layanan dan Ekosistem Digital

Spin-Off Telkom InfraNexia: Menggeser Fokus ke Layanan dan Ekosistem Digital
Minat|Asia Tenggara

Spin-off Telkom–InfraNexia: Mengapa Pemisahan Infrastruktur Ini Penting?

Spin-off Telkom InfraNexia adalah langkah pemisahan bisnis dan aset wholesale fiber connectivity Telkom ke anak usaha khusus bernama PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia), yang kini mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan serat optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL), dengan nilai transaksi sekitar Rp85,7 triliun, sehingga fungsi pengelolaan infrastruktur dan layanan dipisah agar masing-masing bisa tumbuh lebih fokus dan produktif.

Telkom resmi menyelesaikan spin-off ini setelah pemegang saham independen menyetujui pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar secara daring pada 30 September. Pada hari yang sama, ditandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) oleh Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf sebagai tonggak penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2. Fakta bahwa transaksi ini dikategorikan sebagai transaksi afiliasi dan tunduk pada regulasi OJK menunjukkan bahwa pemisahan infrastruktur bukan sekadar manuver kosmetik, tetapi pengaturan ulang struktural yang diawasi ketat.

Di balik langkah ini, Telkom sedang menggeser peran dari Operating Holding menjadi Strategic Holding dengan model Holding Company–Operating Company (HoldCo–OpCo). Artinya, Telkom tidak lagi ingin menjadi operator serba bisa yang mengendalikan detail operasional infrastruktur, melainkan pengelola portofolio yang menyiapkan panggung bagi entitas-operasi seperti InfraNexia untuk bergerak lebih lincah. Pemisahan jaringan serat optik Indonesia ke satu entitas khusus mencerminkan pandangan bahwa infrastruktur digital sudah menjadi kelas aset tersendiri yang layak diperlakukan seperti bisnis B2B dengan logika industri, bukan sekadar “pipa” internal.

Spin-Off Telkom InfraNexia: Menggeser Fokus ke Layanan dan Ekosistem Digital

Skala Jaringan Serat Optik dan Ambisi AI Ready Infrastructure

Spin-off Telkom InfraNexia pada dasarnya mengonsolidasikan lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom ke satu perusahaan yang memang didesain sebagai operating company jaringan. Setelah konsolidasi, InfraNexia mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan serat optik yang membentang di berbagai wilayah, termasuk 26.000 kilometer SKKL domestik. Angka ini menegaskan bahwa InfraNexia bukan sekadar pemain baru, melainkan penjaga tulang punggung infrastruktur digital Indonesia yang selama ini menjadi fondasi konektivitas nasional.

Persetujuan spin-off di RUPSLB menjadikan InfraNexia sebagai perusahaan yang menggawangi bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup, dengan mandat jelas untuk memonetisasi aset bernilai tinggi dan mencari kemitraan strategis guna menangkap peluang pertumbuhan. “Skala tersebut mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk 26.000 km SKKL domestik, dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp85,7 triliun” adalah gambaran paling telanjang tentang besarnya kapital yang kini dipusatkan di InfraNexia.

Lebih jauh, InfraNexia diarahkan menjadi AI Ready Infrastructure yang terbuka untuk berbagai pelaku industri guna mendukung pertumbuhan ekosistem digital dan AI nasional. Selain memperluas skala jaringan, perusahaan ini mempercepat modernisasi operasi melalui otomasi, integrasi sistem, dan pengembangan autonomous network untuk meningkatkan efisiensi serta keandalan layanan. Di sinilah makna strategisnya: jaringan serat optik Indonesia tidak lagi sekadar jalur data, tetapi diposisikan sebagai platform yang siap menampung traffic AI, cloud, dan layanan digital generasi berikutnya.

Spin-Off Telkom InfraNexia: Menggeser Fokus ke Layanan dan Ekosistem Digital

Perubahan Peran Telkom: Dari Operating ke Strategic Holding

Telkom terang-terangan memakai spin-off Telkom InfraNexia sebagai alat untuk mengubah dirinya dari Operating Holding menjadi Strategic Holding dengan skema HoldCo–OpCo. Dengan model ini, Telkom memusatkan diri pada pengaturan portofolio, monetisasi aset bernilai tinggi, dan pembangunan sinergi antaranak usaha secara berkelanjutan, sementara InfraNexia dan entitas lain bergerak di lini bisnis masing-masing. Ini adalah pengakuan bahwa mengurus jaringan serat optik Indonesia hingga ke level teknis bukan lagi fungsi paling efektif bagi kantor pusat Telkom.

Pembentukan InfraNexia sebagai operating company bisnis infrastruktur jaringan adalah bagian dari implementasi strategi TLKM 30 yang memprioritaskan monetisasi dan kemitraan strategis. RUPSLB yang sama tidak hanya menyetujui spin-off, tetapi juga mengubah susunan pengurus Telkom untuk memperkuat tata kelola dan mendukung sukses agenda transformasi TLKM 30. Nanang Hendarno, sebagai Direktur Utama Telkom, menegaskan bahwa kepercayaan pemegang saham terhadap spin-off adalah langkah penting membangun struktur bisnis yang lebih fokus dan memberi ruang fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang.

Secara strategis, Telkom sedang menyatukan agenda yang lebih luas: membangun payung transformasi AI, cloud, dan keamanan siber di seluruh grup, dengan pertumbuhan berkelanjutan lewat bisnis infrastruktur digital. Transformasi ini memerlukan pemisahan fungsi: Telkom sebagai pengarah dan pengelola nilai, InfraNexia sebagai pengelola infrastruktur fisik. Pendekatan ini mengikuti pola global: operator besar mulai memisahkan menara dan jaringan ke entitas khusus demi efisiensi dan fleksibilitas finansial. Bedanya, di kasus ini, jaringan serat optik ditempatkan sebagai inti ekosistem digital Indonesia, bukan sekadar aset untuk dijual putus.

Spin-Off Telkom InfraNexia: Menggeser Fokus ke Layanan dan Ekosistem Digital

InfraNexia dan Penguatan Ekosistem Infrastruktur Digital

Dengan lebih dari 90 persen aset jaringan Telkom berada di bawah kendali InfraNexia, perusahaan ini otomatis menjadi salah satu fondasi utama infrastruktur digital Indonesia. Model bisnis yang terbuka dan fokus pada segmen B2B infrastructure TelkomGroup diarahkan untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan memperbesar kontribusi pasar eksternal. Artinya, jaringan serat optik yang tadinya dominan melayani kebutuhan internal grup kini secara sadar didorong menjadi platform wholesale fiber connectivity bagi lebih banyak pelaku industri.

Pemegang saham menyetujui spin-off Telkom InfraNexia bukan hanya untuk menata neraca, tetapi untuk memperkuat bisnis infrastruktur digital, mengoptimalkan aset jaringan, dan membuka peluang pertumbuhan baru, terutama di segmen business-to-business (B2B) infrastructure. Langkah ini juga bersinggungan dengan agenda pengembangan data center berkapasitas besar bersama Danantara sebagai wujud kesiapan infrastruktur digital menyambut era AI. Jika berhasil, InfraNexia akan menjadi simpul penting yang menghubungkan jaringan serat optik Indonesia dengan pusat data dan layanan AI yang semakin haus bandwidth.

Dalam pernyataannya, Nanang Hendarno berharap transformasi ini memberi dampak nyata pada kinerja, penciptaan nilai, dan kontribusi bagi ekosistem digital Indonesia. Dengan pengelolaan infrastruktur berskala nasional, modernisasi melalui otomasi dan autonomous network, serta orientasi pada AI Ready Infrastructure, InfraNexia berpotensi mengurangi fragmentasi jaringan dan meningkatkan keandalan layanan. Namun, keberhasilan strategi ini akan ditentukan oleh dua hal: kemampuan InfraNexia menjaga kualitas layanan wholesale fiber connectivity bagi pasar luas, dan kedisiplinan Telkom sebagai Strategic Holding untuk tidak kembali mencampuri operasional secara mikro.

Kesimpulan: Memisahkan “Pipa” untuk Memperkuat Layanan dan Nilai

Spin-off Telkom InfraNexia menandai perubahan mendasar: jaringan serat optik Indonesia diposisikan sebagai kelas aset tersendiri, diurus oleh operating company yang fokus dan modern, sementara Telkom mengalihkan energi ke peran Strategic Holding, transformasi AI, cloud, dan keamanan siber. Dengan sekitar 112.000 kilometer serat optik dan transaksi Rp85,7 triliun yang dikonsolidasikan ke InfraNexia, langkah ini adalah taruhan besar bahwa pemisahan “pipa” dari layanan akan memicu produktivitas infrastruktur dan memperkuat ekosistem digital melalui model wholesale fiber connectivity ke pasar yang lebih luas.

Dari sudut pandang strategi, keputusan ini masuk akal: aset fisik yang besar butuh disiplin pengelolaan tersendiri, sementara layanan digital dan AI membutuhkan ketangkasan bisnis yang berbeda. RUPSLB, penandatangan

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!