Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari 2.000 ke 3.000 Gerai: Mengapa Waralaba Cepat Memilih Mitra Lokal

Dari 2.000 ke 3.000 Gerai: Mengapa Waralaba Cepat Memilih Mitra Lokal
Minat|Asia Tenggara

Ekspansi Waralaba Asia: Pertumbuhan Cepat yang Bertumpu pada Mitra Lokal

Ekspansi waralaba Asia adalah strategi pertumbuhan agresif jaringan ritel dan F&B asal Asia ke berbagai pasar regional melalui pembukaan gerai baru dalam jumlah besar, yang mengandalkan skema franchise dan kemitraan bisnis lokal untuk mempercepat penetrasi, menekan biaya operasional langsung, dan menyesuaikan konsep merek dengan selera konsumen setempat dalam waktu singkat. Dalam konteks ini, Mixue tampil sebagai contoh ekstrem: jaringan waralaba F&B asal Cina ini telah mengoperasikan 65 ribu gerai di 17 negara hingga Juni 2026, dengan lebih dari 55 ribu gerai terkonsentrasi di dataran Cina. Di luar pasar asalnya, ekspansi regional bukan lagi sekadar menambah titik penjualan, tetapi menjadi pertarungan strategi franchise regional—siapa yang paling cepat memanfaatkan pengusaha lokal, dialah yang memenangkan jalan utama di pasar es krim dan minuman manis yang semakin padat.

Mixue: Dari 2.000 ke 3.000 Gerai, Bukan Sekadar Mengejar Angka

Target Mixue untuk meningkatkan jumlah gerai dari 2.000 menjadi 3.000 di satu pasar dalam waktu dekat adalah pernyataan ambisi sekaligus ujian kualitas strategi mereka. Di pasar tersebut, 2.000 gerai sudah menjadikannya basis terbesar kedua setelah Cina, padahal Mixue secara global telah menembus 65 ribu gerai di 17 negara. Jika perusahaan tetap menyebut pasar ini “sangat potensial” di tengah ramainya bisnis F&B segmen es krim, itu berarti mereka melihat ruang tumbuh bukan hanya di kota besar, tapi juga di lapisan konsumen yang belum tersentuh merek es krim kekinian. Kutipan kunci datang dari Bing Shikuan: “Setiap tahun, kita punya target pengembangan bisnis, dan tujuan ini tidak akan berhenti”. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa ekspansi bukan kampanye musiman, tetapi rencana jangka panjang yang akan menguji daya tahan model waralaba mereka.

Kemitraan Bisnis Lokal: Mesin Utama Strategi Franchise Regional

Lonjakan Mixue dari 2.000 ke target 3.000 gerai sangat bergantung pada kemitraan bisnis lokal, bukan ekspansi korporat murni. Hingga saat ini, lebih dari 1.400 pengusaha lokal telah menjadi mitra waralaba Mixue melalui skema franchise. Artinya, setiap gerai baru lebih banyak didanai, dikelola, dan dipelihara oleh pemilik lokal yang punya intuisi terhadap lokasi dan perilaku konsumen setempat. Model ini secara praktis mengurangi risiko operasional di tingkat pusat: beban sewa, gaji, dan pengelolaan harian tidak sepenuhnya ditanggung perusahaan, sementara merek menikmati pertumbuhan gerai ritel yang nyaris eksponensial. Selain itu, jaringan ini telah menyerap lebih dari 12.800 tenaga kerja, dengan lebih dari 96 persen karyawan adalah masyarakat lokal—bukti bahwa franchise bukan hanya alat ekspansi, tetapi juga pencipta ekosistem ekonomi di sekitar merek.

Belajar dari Lotte: Ekspansi Tanpa Franchise Pun Tetap Butuh Pasar Lokal

Fenomena ekspansi waralaba Asia tidak berdiri sendiri; grup besar yang tidak sepenuhnya bertumpu pada franchise pun menunjukkan pola serupa. Bisnis Grup Lotte di satu pasar terus berkembang, dengan pendapatan lebih dari 2 triliun won atau sekitar Rp24 triliun sepanjang 2025. Sejak jaringan ritelnya mulai beroperasi pada 2008, Lotte menumbuhkan 12 perusahaan afiliasi di berbagai bidang, dari ritel, kimia, logistik, teknologi informasi hingga konstruksi. Pertumbuhan ini memicu kebutuhan tenaga kerja baru: sekitar 8.000 tenaga kerja lokal sudah dipekerjakan, dengan target penambahan 300 pekerja hingga akhir 2026. Antusiasme terhadap Lotte Global Job Fair 2026—lebih dari 2.000 orang mendaftar secara daring—menunjukkan bahwa kehadiran pemain regional besar bisa menjadi magnet tenaga kerja dan memperkuat akar lokal ekspansi mereka, meski struktur kepemilikan gerai tidak berbasis franchise.

Ke Depan: Gerai Bertambah, Pabrik Lokal dan Kualitas Profit Jadi Penentu

Langkah ekspansi cepat tanpa kontrol kualitas akan berakhir pada gerai kosong dan mitra merugi. Mixue tampak menyadari risiko ini ketika menegaskan bahwa penambahan gerai ke angka 3.000 harus dibarengi strategi yang cermat; mereka tidak ingin hanya mengejar jumlah gerai, tetapi memastikan setiap gerai menguntungkan bagi franchisee. Dari sisi suplai, bahan baku utama es krim masih mengalir dari pabrik pusat di Zhengzhou yang dibangun pada 2012, sehingga penguatan sistem gudang dan distribusi nasional menjadi agenda penting. Rencana membangun pabrik khusus bahan baku di pasar lokal—dengan memanfaatkan kopi dan buah-buahan setempat—menunjukkan babak baru ekspansi: bukan hanya waralaba, tetapi industrialisasi rantai pasok di dekat konsumen. Jika langkah ini terwujud, strategi franchise regional akan naik kelas, dari sekadar jaringan gerai menjadi ekosistem produksi dan konsumsi yang lebih tertanam.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!