Definisi Kontroversi: Ketika Film Menyentuh Luka Sejarah
The Assassin(s) Lee Min Ho adalah film drama misteri yang diadaptasi dari tragedi percobaan pembunuhan terhadap Presiden Park Chung Hee dan Ibu Negara Yuk Young So pada 15 Agustus 1974, yang memicu kontroversi luas karena dituduh mendistorsi sejarah resmi insiden tersebut melalui pilihan cerita, dialog, dan representasi politiknya. Sejak dirilis pada 23 September 2026 di momen libur Chuseok, film ini langsung diserbu tuduhan distorsi sejarah terhadap elemen-elemen tertentu dalam narasi. Di atas kertas, ini adalah proyek Lee Min Ho terbaru yang tampak aman: cast papan atas, tragedi bersejarah, dan genre misteri. Namun penerimaan publik menunjukkan hal sebaliknya. The Assassin(s) bukan sekadar kontroversi film Korea biasa, melainkan contoh bagaimana distorsi sejarah film dapat menggeser fokus dari kualitas sinema ke pertarungan tafsir sejarah dan moral. Pertanyaannya: sejauh mana kreativitas boleh mengubah peristiwa yang masih menjadi luka politik?
Kesuksesan Komersial vs Tuduhan Distorsi Sejarah
Ironisnya, di tengah kecaman, The Assassin(s) justru berjaya di bioskop. Sejak penayangan perdana pada 23 September, film ini bertengger di posisi teratas selama libur panjang dan meraup 432.341 penonton hanya pada Sabtu, 26 September, dengan akumulasi lebih dari 1,3 juta penonton saat itu. Di hari yang sama, Tazza: The Song of Beelzebub hanya menarik 663.140 penonton dan berada di posisi kedua. Angka ini menjadikan The Assassin(s) fenomena: publik mengkritik, tetapi tetap menonton. Namun di balik tiket yang laris, tuduhan distorsi sejarah film tak surut. Film ini menggambarkan insiden percobaan pembunuhan di Teater Nasional sebagai misteri dengan kemungkinan keterlibatan lebih dari satu pihak, sementara catatan resmi menyebut Mun Se Gwang sebagai pelaku tunggal yang bertindak atas perintah Korea Utara. Ketegangan utama muncul ketika tafsir sinematik bersinggungan dengan versi sejarah yang dianggap final oleh sebagian kalangan politik.
Isi Cerita yang Memantik Tuduhan Propaganda
Sebagai karya fiksi berbasis sejarah, The Assassin(s) memilih sudut pandang polisi dan wartawan yang menjaga Teater Nasional pada hari tragedi penembakan Yuk Young So. Lee Min Ho terbaru di sini berperan sebagai Han Yeong Il, seorang reporter pemula yang perlahan diseret ke pusaran intrik. Di tingkat cerita dan dialog, film menaburkan premis bahwa Mun Se Gwang mungkin tidak bergerak sendiri, seolah ada campur tangan pihak lain di balik layar. Inilah titik rawan yang memicu tuduhan bahwa film tersebut adalah propaganda politik untuk menggiring opini bahwa mantan Presiden Park Chung Hee terlibat dalam pembunuhan tersebut. Seorang anggota dewan menuduh film memutarbalikkan sejarah karena digambarkan seakan pembunuhan dilakukan oleh Presiden, bukan oleh Korea Utara. Ketika narasi sinematik mulai membayangkan konspirasi berbeda dari hasil penyelidikan resmi, batas antara interpretasi kreatif dan tuduhan manipulasi sejarah pun kabur.

Dampak Langsung pada Industri dan Reputasi Lee Min Ho
Kontroversi The Assassin(s) tidak berhenti di layar. Hive Media Corp. mengumumkan pembatalan seluruh penampilan terkait film ini di Festival Film Internasional Busan, termasuk upacara pembukaan dan acara Outdoor Stage Greeting yang dijadwalkan 7 Oktober, dengan alasan mempertimbangkan keselamatan penonton dan peserta. Di level individu, acara Actors' House: Lee Min Ho di festival yang sama juga dibatalkan karena kaitannya dengan kontroversi seputar film barunya. Ini menunjukkan bahwa kontroversi film Korea dapat merembet ke agenda industri dan citra aktor. Lee Min Ho sendiri bukan pendatang baru dalam pusaran kritik: sebelumnya The King: Eternal Monarch sempat dikritik karena desain arsitektur istana dan kapal perang yang dinilai mirip atribut Jepang dan memicu sensitivitas sejarah, serta akting dan romansa yang dianggap kurang hidup. Ketika pola serupa berulang, wajar jika sebagian publik mulai mempertanyakan pilihan proyek yang ia ambil, terutama yang menyentuh tema sejarah dan politik.
Di Antara Kebebasan Artistik dan Tanggung Jawab Sejarah
Setelah dihujani kritik, tim produksi The Assassin(s) menolak klaim bahwa mereka mendistorsi sejarah dan menegaskan tidak bermaksud menetapkan hasil sejarah baru atau mengubah fakta yang ada. Secara prinsip, argumen ini masuk akal: film fiksi seharusnya punya ruang untuk menafsir, mengajukan pertanyaan, dan mengisi celah misteri. Namun ketika materi yang diangkat adalah percobaan pembunuhan presiden, kematian ibu negara, dan peran Korea Utara, ruang kreatif itu otomatis menjadi medan pertarungan ideologi. Di titik ini, pembuat film dan aktor seperti Lee Min Ho perlu menyadari bahwa setiap pilihan dialog, framing, dan karakter bukan hanya soal cerita, tetapi juga soal memori kolektif. The Assassin(s) berhasil secara komersial, tetapi dibayar dengan reputasi yang diguncang dan festival yang menjauh. Kesimpulannya, sinema yang menyentuh sejarah kelam membutuhkan dua hal: keberanian artistik dan kesadaran politik yang matang. Tanpa keduanya, film mudah berubah dari karya seni menjadi bahan bakar konflik.






