Telur dan susu: kunci protein hewani anak yang terjangkau
Telur dan susu sebagai sumber protein hewani anak adalah bahan pangan sederhana, mudah diperoleh, dan relatif terjangkau yang bila dikonsumsi teratur sejak usia dini dapat membantu cegah stunting usia dini, mendukung pertumbuhan fisik, dan perkembangan kecerdasan, sekaligus menjadi fondasi pola makan bergizi seimbang keluarga dalam jangka panjang. Inilah inti yang sering dilupakan: pencegahan stunting tidak selalu membutuhkan makanan mahal, tetapi membutuhkan kebiasaan yang konsisten. Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Berau menegaskan bahwa telur dan susu dapat menjadi pilihan sumber protein untuk mendukung kebutuhan nutrisi anak karena mudah diperoleh dan relatif terjangkau. Jika orang tua menunggu sampai anak sakit atau tampak pendek dulu baru peduli gizi, itu sudah terlambat; kebiasaan harus dibangun sejak balita.

Pembiasaan sejak balita: cegah stunting usia dini di rumah
Stunting tidak muncul tiba-tiba; ia adalah hasil dari kekurangan gizi kronis, terutama kurang protein hewani anak, sejak masa balita. Pembiasaan pola makan bergizi sejak usia dini terbukti menjadi langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak sekaligus mencegah stunting. Itu berarti telur dan susu balita seharusnya menjadi menu rutin, bukan menu sesekali. Telur dan susu membantu memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa pertumbuhan, dari kesehatan tulang hingga perkembangan otak. Orang tua sering beralasan gizi seimbang keluarga itu mahal, padahal pemenuhan gizi tidak selalu harus bergantung pada bahan pangan dengan harga tinggi; keluarga dapat memanfaatkan sumber protein yang tersedia di sekitar mereka, seperti telur dan susu, dengan tetap memperhatikan variasi dan keseimbangan makanan.
Sekolah dasar: laboratorium kecil pembentuk kebiasaan makan sehat
Jika rumah adalah titik awal, maka sekolah dasar adalah penguat kebiasaan makan sehat. DTPHP Berau menyasar siswa kelas I dan II SD 002 Tanjung Redeb melalui sosialisasi Gerakan Makan Telur dan Minum Susu (Gema Tiramisu) di GOR Pemuda Tanjung Redeb pada 20/10/26 untuk mengenalkan pentingnya pangan bergizi, khususnya telur dan susu. Kegiatan lain di Berau Expo 2026 juga menargetkan siswa kelas I dan II sekolah dasar untuk edukasi protein hewani anak melalui Gema Teramisu. Ini bukan sekadar acara seremonial; pemahaman mengenai makanan bergizi perlu diberikan sejak usia sekolah agar dapat membentuk kebiasaan yang berkelanjutan. Ketika guru dilibatkan dan meneruskan informasi kepada murid lain, edukasi tidak berhenti di arena pameran, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah.
Peran komunitas dan keterbatasan anggaran: jangan tunggu program sempurna
Kampanye gizi tidak hidup di ruang hampa; ia bergantung pada anggaran, kreativitas, dan dukungan komunitas. Tahun ini, keterbatasan anggaran akibat kebijakan efisiensi membuat pelaksanaan program harus disesuaikan. Penyesuaian dilakukan dengan memusatkan kegiatan di Berau Expo 2026 sebagai sarana mengenalkan pentingnya konsumsi protein hewani kepada anak-anak sekolah dasar. Menurut DTPHP, kegiatan Gema Tiramisu dan Gema Teramisu sementara difokuskan pada sosialisasi dan edukasi di momen expo ini. Memanfaatkan gelaran expo menjadi langkah yang tepat untuk tetap melaksanakan edukasi, meski jangkauan ke sekolah-sekolah belum seluas tahun sebelumnya. Orang tua dan komunitas tidak boleh menunggu program sempurna; mereka bisa menjadikan informasi dari acara komunitas sebagai pemicu perubahan pola makan di rumah.
Langkah praktis untuk orang tua: dari pameran ke meja makan
Edukasi publik seperti Gema Tiramisu dan Gema Teramisu akan sia-sia jika tidak diterjemahkan menjadi kebiasaan di rumah. Pesannya jelas: nutrisi terjangkau anak bisa dimulai dari telur dan susu yang mudah ditemukan dan relatif terjangkau. Orang tua dapat menyusun menu mingguan yang memasukkan telur dan susu beberapa kali, sambil tetap menjaga gizi seimbang keluarga dengan sayur, buah, dan sumber karbohidrat. Anak perlu diajak memahami bahwa makanan bergizi bisa dimulai dari pilihan sederhana yang tersedia di lingkungan mereka, termasuk telur dan susu. Dengan begitu, kampanye cegah stunting usia dini tidak berhenti di panggung expo, tetapi hidup di meja makan setiap hari. Kesimpulannya, keputusan kecil orang tua hari ini—menyajikan telur dan susu secara rutin—adalah investasi besar untuk masa depan anak.






