Kebiasaan membaca tumbuh dari lingkungan terdekat
Gerakan literasi komunitas adalah upaya bersama keluarga, perpustakaan, sekolah, pemerintah daerah, dan warga untuk mendekatkan buku serta pengalaman belajar kepada anak dalam keseharian mereka. Kekuatan gerakan ini bukan pada kemeriahan satu acara, melainkan pada kebiasaan yang tetap hidup setelah acara usai. Di Jeneponto, festival literasi berlangsung pada 27–29 Oktober 2026 dan dibuka Bupati Paris Yasir di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan pada 27 Oktober. Pengukuhan Bunda Literasi kecamatan dirancang untuk memperluas ajakan membaca hingga tingkat keluarga dan kecamatan. Festival itu juga menghadirkan stan pameran serta lomba mewarnai dan menggambar untuk mengenalkan kegiatan literasi sekaligus mendorong kreativitas anak. Arah ini tepat: minat baca sejak dini lebih mungkin bertahan jika anak melihat buku hadir di rumah, sekolah, dan ruang publik—bukan hanya saat perayaan.

Kegiatan kreatif mengubah buku menjadi pengalaman
Anak tidak selalu tertarik pada ajakan membaca yang disampaikan sebagai kewajiban. Gerakan literasi anak akan lebih mengena ketika cerita, permainan, dan kesempatan berekspresi menjadi pintu masuk. Di Taman Baca Masyarakat Rumah Baca Cahaya Ilmu, Jakarta Utara, anak-anak mengikuti kegiatan membaca, mewarnai, menari, dan bertutur pada 19 Oktober 2026. Di Surabaya, ratusan siswa mengikuti festival literasi pada 23 Oktober 2026 dengan kegiatan seperti lomba cerdas cermat, bertutur, dan mengeja. Perpustakaan keliling dan mobil dongeng turut hadir di sekolah, memberi anak cara lain untuk bertemu buku dan cerita. Ragam kegiatan ini bukan hiasan pelengkap: anak dapat memilih aktivitas yang cocok dengan minatnya, lalu perlahan membangun rasa ingin tahu terhadap bacaan. Tantangannya, kegiatan serupa perlu berulang agar antusiasme sesaat berubah menjadi kebiasaan.

Perpustakaan perlu menjadi ruang yang mengundang
Di tengah keseharian yang akrab dengan gawai, perpustakaan tidak cukup hanya menyediakan rak dan meja baca. Ruang yang nyaman, koleksi yang beragam, dan kesempatan membaca bersama keluarga dapat membuat anak betah menjelajah buku. Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Blitar telah menyediakan ruang baca anak dengan pilihan bacaan beragam, sementara pengunjung datang bersama orang tua untuk memilih buku. Seorang pengunjung, Feriana, mengatakan tempat yang nyaman dan koleksi beragam membuat anak penasaran membaca. Pengalaman itu menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan bukan soal meniru layar digital, melainkan menawarkan sesuatu yang tidak diberikan layar: ruang bersama, pendampingan, dan pilihan bacaan yang bisa disentuh. Perpustakaan komunitas dan taman baca juga penting karena menghadirkan pengalaman serupa lebih dekat dengan lingkungan warga. Akses yang dekat dapat membantu keluarga menjadikan kunjungan membaca sebagai kegiatan rutin, bukan agenda langka.
Kolaborasi harus berlanjut setelah festival
Ekosistem literasi tidak dapat dibebankan kepada sekolah atau pustakawan saja. Pemerintah daerah dapat membuka akses dan menguatkan layanan, komunitas menghidupkan kegiatan, lembaga sosial membantu menyediakan bahan bacaan, sementara keluarga menjaga kebiasaan di rumah. Contohnya, Ikatan Keluarga Sastra Indonesia menghimpun buku cerita anak untuk rumah belajar Sa Belajar Sa Bisa di Werianggi, Papua Barat; Penerbit Erlangga turut menyumbangkan buku dan panggung boneka. Donasi itu selanjutnya akan dikelola tim rumah belajar untuk mendukung kegiatan belajar. Di Jeneponto, pemerintah berharap gerakan literasi berlanjut di rumah, sekolah, dan masyarakat setelah festival selesai. Harapan tersebut perlu diterjemahkan menjadi jadwal membaca bersama, pendampingan, serta koleksi yang terus digunakan. Festival literasi anak dapat menjadi pemantik, tetapi ukuran keberhasilannya adalah apakah anak kembali membaca ketika panggung dibongkar dan kegiatan berakhir.







