Perpisahan Berlapis Emas: Inti Kisah Anthony Vaccarello
Saint Laurent Spring/Summer 2027 adalah koleksi serba emas yang dirancang Anthony Vaccarello sebagai salam perpisahan emosional setelah sepuluh tahun memimpin arah kreatif rumah mode, menegaskan identitas modern Saint Laurent sekaligus menutup satu era dengan teatrikalitas glamor yang padat simbol dan narasi visual.
Anthony Vaccarello resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai direktur kreatif setelah 10 tahun menakhodai rumah mode mewah asal Prancis tersebut, sebuah kabar yang diumumkan secara resmi pada 9 Oktober 2026. Peragaan koleksi Spring 2027 di Paris Fashion Week menjadi suguhan Saint Laurent terakhirnya, dan di sini ia memilih emas sebagai bahasa akhir: 49 tampilan bernuansa emas, kemudian 10 tampilan serba hitam sebagai epilog visual. Ini bukan sekadar Saint Laurent koleksi emas; ini adalah Anthony Vaccarello perpisahan yang dirajut dengan kesadaran sejarah. Dengan latar Menara Eiffel yang magis, pertunjukan berlangsung tepat 10 tahun dua hari setelah debutnya, sehingga catwalk berubah menjadi buku harian terbuka tentang bagaimana sebuah dekade berakhir di tengah sorotan dunia mode.

Bahasa Emas: Dari Byzantine Gold ke Safari Jacket
Kekuatan koleksi ini ada pada cara Vaccarello memperlakukan emas bukan sebagai efek spesial, melainkan sebagai alfabet baru Saint Laurent. Ia mendedikasikan koleksi terbarunya untuk warna emas, menggunakan berbagai macam jenis emas: Byzantine gold, pale gold, Renaissance gold, matte gold, Art Deco gold, hingga burnished gold. Saint Laurent koleksi emas ini membuktikan bahwa emas bukan satu nada, melainkan orkestra penuh nuansa. Garis desainnya tetap berakar pada ikon rumah mode: jaket safari, blus, wrap skirt, hingga trench coat dan rok pensil. Kemilau warna emas mengangkat busana yang tampak kasual menjadi sesuatu yang terasa mewah dan teatrikal.
Ia mengkreasikan slip dress dengan bordir, tailoring dress, hingga sleeveless dress beraksen ruffles, sembari bermain dengan motif leopard dan tekstur untuk menghindari kelelahan visual. Saint Laurent tampak kembali pada akar glamornya, namun dengan ketegangan baru: emas yang monumental, tapi dipotong dalam siluet yang tajam dan sensual. Pergeseran tiba di akhir pertunjukan ketika emas digantikan parade busana hitam, mengubah atmosfer glamor menjadi lebih seksi dan fierce. Permainan palet dari emas ke hitam menjadi gestur paling simbolis dalam pertunjukan tersebut, seolah menutup sebuah era dengan perpisahan yang elegan dan melankolis.

Catwalk Sebagai Ritual Perpisahan di Paris Fashion Week
Paris Fashion Week 2027 untuk Saint Laurent berubah menjadi ritual perpisahan yang dirancang dengan ketelitian emosional. Atmosfer sebagai sebuah perpisahan sudah terasa sejak sebelum lampu panggung menyala: Vaccarello memilih tidak menjalani wawancara praperagaan, menggantinya dengan bunga calla lily hitam dan catatan bahwa koleksi ini bersifat personal serta emosional. Musik Miles Davis dari film Elevator to the Gallows mengiringi suasana sebelum pertunjukan, menambah lapisan melankolia.
Momen paling emosional terjadi ketika setelah berjalan bersama para model, Vaccarello menyeberangi catwalk untuk menyerahkan sesuatu kepada putranya, gestur yang memicu interpretasi bahwa ia seakan menyerahkan kunci simbolis rumah mode tersebut. 49 tampilan emas yang kemudian digantikan 10 tampilan hitam terasa seperti dua bab dalam satu cerita. Koleksi ini jelas bukan koleksi haute couture final dalam pengertian teknis, tetapi secara naratif ia berfungsi sebagai koleksi perpisahan paling terstruktur yang pernah ia buat. Dengan latar Menara Eiffel, panggung itu mengikat awal dan akhir kariernya di Saint Laurent dalam satu lingkaran penuh.

Satu Dekade Mengukir Identitas Modern Saint Laurent
Untuk memahami bobot perpisahan ini, kita perlu melihat bagaimana Vaccarello mengubah DNA Saint Laurent selama satu dekade. Ketika ditunjuk sebagai direktur kreatif pada April 2016 menggantikan Hedi Slimane, ia sudah dikenal dengan karya sensual dan berani di label lain serta labelnya sendiri. Tantangannya besar: di era Slimane, pendapatan Saint Laurent meningkat dari 354 juta euro pada 2011 menjadi 974 juta euro pada 2015. Namun ia tidak sekadar menjaga momentum; ia membawa identitas Saint Laurent ke arah yang lebih tajam dengan memadukan konstruksi busana terstruktur, siluet sensual, dan estetika Parisian yang kuat.
Ia pernah menjelaskan bahwa latar Belgia memberinya cara membangun dan mendekonstruksi pakaian, sementara sisi Italia menyumbang sensualitas. Perpaduan ini menjadi ciri khas: kode desain khas Yves Saint Laurent diinterpretasikan ulang menjadi dramatis sekaligus modern. Salah satu pernyataan yang mudah dikutip dari masa ini: pendapatan Saint Laurent mencapai 3,3 miliar euro pada 2022, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan ketika ia mulai menjabat. Warisan Vaccarello juga terlihat dari perluasan pengaruh Saint Laurent ke film dan budaya populer, serta dari pertunjukan debutnya berlatar Menara Eiffel yang menjadi show paling banyak ditonton di platform mode besar pada musim itu.
Babak Baru Saint Laurent: Emas Hari Ini, Tanda Tanya Esok
Kepergian Vaccarello datang di tengah konteks bisnis yang berubah. Setelah mencapai puncak pendapatan pada 2022, Saint Laurent menghadapi tiga tahun penurunan seiring perlambatan industri barang mewah global, dengan pendapatan sekitar 2,64 miliar euro pada 2025. Kepergiannya terjadi ketika grup yang menaungi Saint Laurent sedang berupaya memperkuat kembali kinerja bisnisnya. Saint Laurent menyatakan akan mengumumkan sosok pengganti dalam waktu dekat, meski hingga pengumuman kepergiannya, nama penerus belum diungkapkan.
Calon penerus akan menghadapi tugas rumit: menjaga kekuatan kreatif Saint Laurent sekaligus mendukung ambisi bisnis rumah mode ini. Di sisi kreatif, Vaccarello meninggalkan identitas yang konsisten dan mudah dikenali, seperti dicatat oleh para pemimpin perusahaan yang memuji visinya dan standar tingginya. Bagi Saint Laurent, babak baru segera dimulai, namun ia dimulai dengan pantulan emas yang sulit dilupakan. Koleksi perpisahan ini terasa seperti manifest: jika masa depannya harus berubah, maka titik berangkatnya adalah gagasan bahwa glamor bisa tajam, sensual bisa terstruktur, dan perpisahan bisa seindah kilau emas di bawah bayang-bayang Menara Eiffel.







