Makassar Mengincar Posisinya sebagai Destinasi Baru Asia Tenggara
Makassar sedang membangun dirinya sebagai destinasi baru di Asia Tenggara dengan menggabungkan wisata budaya Makassar, wisata bahari, kuliner khas Makassar, dan ekonomi kreatif dalam satu strategi promosi internasional yang terencana, memanfaatkan forum global dan nasional untuk menegaskan identitas kota pelabuhan yang modern, kreatif, dan tetap berakar pada warisan lokal.
Langkah ini bukan sekadar promosi pariwisata, tetapi pernyataan ambisi: Makassar ingin diakui sebagai kota yang layak huni, berkelanjutan, dan menarik bagi wisatawan serta pelaku ekonomi kreatif. Di forum wali kota dunia yang digelar di lingkungan PBB di Jenewa pada 12–13 Oktober 2026, Munafri Arifuddin alias Appi membawa gagasan masa depan ekonomi kreatif anak muda sebagai bagian dari narasi kota yang tangguh dan inklusif. Sementara di forum APEKSI Rembuk Kebudayaan di Singkawang, Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham menonjolkan kekayaan budaya, kuliner, dan wisata bahari sebagai wajah lain dari daya tarik Makassar.
Creative Hub Makassar: Ekonomi Kreatif sebagai Tulang Punggung Baru Kota
Inti strategi Makassar di panggung internasional adalah Creative Hub Makassar, atau Makassar Creative Hub (MCH), yang diposisikan sebagai mesin penggerak ekonomi baru berbasis kreativitas generasi muda. Di hadapan lebih dari 60 wali kota dari berbagai penjuru dunia, Appi menjelaskan bahwa MCH dirancang untuk mengubah ide, kreativitas, dan bakat anak muda menjadi peluang usaha, lapangan kerja, dan kekuatan ekonomi kota yang lebih inklusif. Kutipan yang paling penting di forum itu jelas: “Makassar Creative Hub merupakan salah satu program unggulan yang bertujuan meningkatkan kreativitas dan inovasi, sekaligus berkontribusi terhadap perekonomian kota yang lebih inklusif.”
Yang menarik, MCH tidak diposisikan sebagai co-working space biasa. Pemerintah kota menyebutnya sebagai ruang inkubasi, ekosistem kolaborasi, dan penggerak ekonomi bagi kreator, wirausahawan digital, serta perajin lokal. Akses program ini diberikan secara gratis, sehingga anak muda yang minim modal tetapi kaya gagasan tetap punya pintu masuk ke sektor ekonomi kreatif. Bidang yang digarap pun luas: dari desain busana, penulisan fiksi, perfilman, kuliner, hingga seni pertunjukan. Dengan dukungan teknologi, kecerdasan buatan, dan media sosial, MCH jelas diarahkan menjadi jembatan antara kreativitas lokal dan pasar global—sebuah fondasi penting bila Makassar serius ingin naik kelas sebagai destinasi internasional.
Wisata Budaya Makassar dan Kuliner: Identitas Kota Makan Enak
Jika Creative Hub Makassar adalah otak ekonomi baru, maka wisata budaya Makassar dan kuliner khas Makassar adalah wajah emosional kota yang dijual ke wisatawan. Di forum APEKSI Rembuk Kebudayaan Kota Kita Singkawang, pemerintah kota menayangkan video promosi berisi potensi wisata budaya, kuliner, dan daya tarik pariwisata Makassar. Aliyah Mustika Ilham menegaskan bahwa kekayaan kuliner adalah identitas yang melekat kuat dan menjadi magnet bagi tamu yang datang. Julukan “Kota Makan Enak” bukan sekadar slogan; itu adalah strategi branding yang menempatkan makanan sebagai pintu masuk mengenal budaya Makassar.
Keunggulan kuliner khas Makassar adalah ritme yang menyertai satu hari penuh: nasi kuning dan coto Makassar untuk sarapan, aneka hidangan laut pada siang hari, hingga songkolo bagadang sebagai teman malam dan tengah malam. Pola ini menjadikan kuliner bukan pelengkap, melainkan pengalaman utama wisata. Pemerintah kota tampak sadar bahwa warisan kuliner adalah bagian dari budaya yang harus dijaga, dilestarikan, dan dipromosikan terus-menerus. Dengan menjadikan kuliner sebagai narasi utama di forum antarkota, Makassar mengirim pesan jelas: wisata budaya di sini tidak berhenti pada museum dan monumen, tetapi hidup di meja makan, di dapur, dan di kebiasaan harian warganya.
Kapal Pinisi dan Wisata Bahari: Menjual Sunset sebagai Pengalaman Premium
Di sisi lain, Makassar memanfaatkan posisi geografisnya sebagai kota pesisir dengan mengangkat destinasi bahari sebagai kartu truf. Aliyah Mustika Ilham memaparkan bahwa Makassar memiliki sekitar 12 pulau yang menjadi potensi wisata bahari. Dari semua tawaran, sunset sailing dengan kapal pinisi Makassar muncul sebagai pengalaman favorit tamu: menikmati matahari terbenam dari atas kapal tradisional yang melegenda, ditemani kuliner khas Makassar yang disajikan di atas kapal. Pemerintah kota bahkan menyiapkan dua kapal pinisi untuk mendukung paket wisata ini, sementara layanan lain ditopang oleh pihak swasta.
Pendekatan ini cerdas karena menggabungkan tiga elemen sekaligus: warisan maritim melalui kapal pinisi, destinasi bahari dengan panorama pulau dan laut, serta kuliner khas Makassar sebagai pengikat pengalaman. Sunset sailing bukan sekadar tur melihat matahari tenggelam; ia menjadi simbol bagaimana Makassar menjual keindahan alam yang dikemas dalam narasi budaya. Jika dikembangkan serius, paket semacam ini berpotensi menempatkan Makassar dalam peta destinasi bahari Asia Tenggara yang menawarkan kombinasi laut, sejarah, dan rasa—bukan hanya pantai dan foto.
Menuju Destinasi Berkelas Dunia: Tantangan dan Peluang
Rangkaian inisiatif ini menunjukkan bahwa pemerintah kota tidak lagi melihat pariwisata sebagai sektor pelengkap, melainkan sebagai bagian dari strategi pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan. Di forum PBB, Appi menekankan bahwa kota layak huni dan berkelanjutan membutuhkan langkah nyata, termasuk membuka ruang bagi generasi muda untuk menciptakan peluang ekonomi baru. Di forum APEKSI, Aliyah berharap promosi wisata budaya, kuliner, dan bahari dapat memperluas promosi Makassar sekaligus membuka peluang kolaborasi antarpemerintah daerah dalam pengembangan pariwisata.
Ke depan, pemerintah kota berkomitmen memperluas jangkauan Makassar Creative Hub agar semakin banyak masyarakat merasakan manfaatnya. Investasi pada kreativitas generasi muda dipandang sebagai fondasi ekonomi yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Di sisi pariwisata, ajakan terbuka kepada para kepala daerah dan peserta forum untuk berkunjung dan merasakan langsung kekayaan kuliner serta keindahan wisata bahari menunjukkan kepercayaan diri bahwa Makassar siap menyambut tamu dari berbagai penjuru. Tantangannya kini adalah konsistensi: menjaga kualitas layanan, melindungi warisan budaya, dan memastikan ekonomi kreatif benar-benar mengangkat kesejahteraan warga. Jika itu tercapai, ambisi menjadi destinasi wisata internasional berkelas dunia bukan lagi sekadar wacana, melainkan target yang realistis.






