Penyelundupan sabu perbatasan: jalur tikus jadi medan perang baru
Penyelundupan sabu perbatasan adalah upaya terorganisasi memasukkan narkotika jenis sabu melintasi garis batas resmi dengan memanfaatkan celah pengawasan, terutama jalur tikus, untuk memasok pasar gelap dan menghindari penindakan aparat yang bertugas menjaga keamanan perbatasan RI-Malaysia. Di perbatasan Kalimantan Barat, fenomena ini bukan lagi insiden sporadis, tetapi pola operasi yang terus berulang dan kian berani. Dua pengungkapan sabu dalam hitungan hari menunjukkan bahwa garis batas bukan sekadar garis di peta, melainkan medan perang senyap antara Satgas Pamtas operasi dan jaringan sindikat yang menguasai jalur tikus narkoba. Pertanyaannya: seberapa siap negara menjadikan perbatasan sebagai garda terdepan perang narkotika, bukan hanya sebagai akses keluar-masuk barang?
Dua operasi beruntun: dari Bengkayang ke Sanggau
Rangkaian operasi Satgas Pamtas Yonarmed 19/Bogani memperlihatkan pola yang mengkhawatirkan sekaligus memberi harapan. Pada Senin malam, 21 September 2026, penyelundupan digagalkan di jalur tidak resmi Desa Jagoi Babang, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, setelah informasi intelijen menyebut adanya pergerakan narkotika yang memanfaatkan jalur tikus di kawasan perbatasan. Dalam operasi ini, Satgas Pamtas Sektor Barat menggagalkan peredaran sabu seberat 1,93 kilogram yang hendak dibawa lewat jalur tikus di Jagoi Babang. Belum sepekan, Sabtu 26 September 2026 sekitar pukul 14.50, Satgas Pamtas Yonarmed 19/Bogani bersama Satgas Intelijen kembali mengamankan 13 paket sabu dengan berat total 14,472 kilogram di Dusun Entungun, Desa Balai Karangan, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Dua titik berbeda, pola ancaman sama: sabu dari arah Malaysia menuju pasar lokal.
Modus jalur tikus: WNI di garis depan sindikat
Operasi di Jagoi Babang membuka fakta pahit: penyelundup bukan hanya aktor asing, tetapi juga warga negara sendiri yang menjadi kepanjangan tangan jaringan narkoba. Saat Toyota Hilux silver yang dicurigai membawa sabu diminta berhenti, pengemudi memilih tancap gas hingga mobil terperosok di samping rumah warga, lalu melarikan diri dalam gelap. Di dalam mobil ditemukan lima paket sabu dalam bungkus Guanyin Wang dengan total berat 1.913,3 gram atau sekitar 1,9 kilogram. Lebih penting lagi, ditemukan dokumen identitas WNI atas nama pria berinisial P, uang tunai rupiah dan ringgit, serta tas hitam. Inilah wajah nyata jalur tikus narkoba: rute informal yang selama ini dianggap ‘jalur warga’ berubah menjadi koridor logistik sindikat, dioperasikan orang-orang lokal yang paham betul celah pengawasan dan kebiasaan aparat.
Strategi Satgas Pamtas: intelijen, pengintaian, dan penyekatan
Keberhasilan dua operasi ini tidak lahir dari patroli rutin semata, melainkan dari pendekatan intelijen yang lebih tajam. Dansatgas Pamtas RI-Malaysia Yonarmed 19/Bogani, Letkol Arm Hanafi Solaeman, menjelaskan bahwa operasi di Jagoi Babang diawali informasi intelijen tentang pergerakan narkotika yang memanfaatkan jalur tikus di perbatasan. Tim Pos Koki Jagoi Babang yang dipimpin Sertu Umar Karepesina lalu melakukan pengintaian dan penyekatan hingga mendapati kendaraan target keluar dari area pengintaian sekitar pukul 20.14 WIB. Kutipan yang layak dicatat dari Hanafi adalah, “Kami tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi jalur-jalur tikus di perbatasan untuk dijadikan perlintasan narkotika. Pengawasan di titik-titik rawan akan terus kami perketat”. Ini menunjukkan pergeseran strategi: jalur resmi tetap penting, tetapi fokus utama operasi kini berpindah ke titik-titik tidak resmi yang selama ini dianggap area abu-abu.
Eskalasi ancaman dan kebutuhan penguatan keamanan perbatasan
Jika disusun secara kronologis, dua pengungkapan beruntun dalam kurang dari sepekan menggambarkan eskalasi upaya penyelundupan sabu dari arah Malaysia menuju pasar lokal. Belasan kilogram sabu yang gagal lewat hanya potret dari arus yang tampaknya jauh lebih besar, mengingat sebagian pelaku berhasil kabur dan sindikat punya banyak jalur. Jalur tikus perbatasan disebut sebagai “surga” bagi penyelundup narkoba, dan label ini belum berlebihan. Fakta bahwa jalur-jalur ini kini menjadi fokus utama operasi keamanan perbatasan menunjukkan adanya pergeseran medan konflik: perang narkoba bukan lagi dominan di kota-kota besar, tetapi di hutan, kebun, dan jalan setapak yang menghubungkan dua negara. Tanpa penguatan personel, teknologi pemantauan, dan kerja sama intelijen lintas instansi, Satgas Pamtas akan dipaksa berperang di medan yang selalu menguntungkan sindikat.





