Inti Sengketa: Ketika Idola Menggugat Label yang Mereka Dirikan
Sengketa hukum antara Chen, Baekhyun, dan Xiumin (CBX) dengan INB100 adalah gugatan kontrak K-pop yang berfokus pada penangguhan kontrak eksklusif dan keabsahannya, melibatkan situasi unik di mana para idol menggugat label yang pada awalnya mereka dirikan sendiri, sehingga menyoroti ketegangan antara hak atas pendapatan, kendali artistik, dan kewajiban hukum dalam industri hiburan Korea modern.
Secara garis besar, CBX menempuh jalur hukum terhadap INB100 dengan mengajukan permohonan penghentian efek kontrak eksklusif setelah sebelumnya menyatakan pemutusan kontrak sepihak. Bagi penggemar, ini bukan sekadar drama internal agensi, tetapi momen penting yang menguji seberapa jauh sebuah kontrak boleh membatasi gerak artis ketika kepercayaan keuangan runtuh.
Sidang atas permohonan penangguhan kontrak ini digelar di Pengadilan Distrik Pusat Seoul dan dipimpin oleh Hakim Lee Sang-hoon. Pada saat yang sama, CBX juga menggugat keabsahan kontrak eksklusif dengan INB100, label yang dibangun oleh mereka sendiri, sehingga sengketa CBX INB100 sengketa ini otomatis menjadi contoh ekstrem tentang bagaimana kekuatan kontrak bisa berbalik arah terhadap kreator yang tadinya berharap mendapat otonomi lebih besar.

Dari Royalti Macet ke Gugatan Sela: Mengapa CBX Bergerak Sekarang?
Pemicu utama gugatan kontrak K-pop ini adalah uang: tepatnya, royalti dan pembagian pendapatan yang disebut belum dibayar oleh agensi. CBX mengirim pemberitahuan resmi soal masalah pembayaran sejak Maret, lalu mengumumkan pengakhiran kontrak eksklusif pada April ketika persoalan itu tidak kunjung diselesaikan. Ketika komunikasi dan kepercayaan runtuh, satu-satunya jalan yang tersisa adalah pengadilan.
Langkah mereka bukan sekadar pemutusan kontrak, tetapi permohonan penangguhan kontrak eksklusif melalui gugatan sela (gachyeobun), yaitu permintaan agar efek kontrak dihentikan sementara selama perkara utama berjalan. Jika pengadilan mengabulkan penangguhan ini, keberlakuan kontrak akan dibekukan sampai putusan tingkat pertama atas gugatan utama keluar. Dalam bahasa sederhana, CBX berusaha mengamankan ruang gerak legal untuk tetap bekerja tanpa terikat oleh kontrak yang mereka anggap cacat.
Menariknya, sidang perdana penangguhan kontrak sempat berlangsung kurang dari 10 menit karena perwakilan hukum INB100 tidak hadir dan belum menyerahkan dokumen tertulis apa pun. Menurut laporan, CEO INB100 Cha Ga-won saat ini ditahan dan tidak dapat dihubungi. Ketidakhadiran ini mempertegas kesan bahwa masalah keuangan dan tata kelola di balik sengketa CBX INB100 sengketa jauh lebih serius daripada sekadar keterlambatan administrasi.
Paradoks INB100: Label Impian yang Berbalik Menjerat
Secara teori, mendirikan label sendiri adalah cara artis mengambil kembali kendali atas karier mereka. INB100 lahir dengan semangat itu ketika Baekhyun mendirikannya pada Juni 2023, sebelum Chen dan Xiumin bergabung pada Januari 2024. Namun, hanya beberapa bulan kemudian, kepemilikan dialihkan ke One Hundred Label milik Cha Ga-won, menempatkan perusahaan di bawah payung manajemen baru.
Di sinilah paradoks penangguhan kontrak eksklusif CBX terasa: kontrak yang seharusnya melindungi kepentingan mereka sebagai pemilik dan artis malah berubah menjadi belenggu ketika struktur kepemilikan bergeser. INB100 kini tidak lagi sepenuhnya “label mereka”, tetapi bagian dari jaringan bisnis yang sedang dilanda krisis kepercayaan. Kontroversi terhadap Cha Ga-won—termasuk dugaan penipuan bisnis yang memanfaatkan kekayaan intelektual artis dan memicu kerugian yang diperkirakan mencapai 30 miliar won—membuat reputasi manajemen ini runtuh di mata publik dan para talenta.
Menurut laporan, Cha Ga-won telah ditangkap dan didakwa, dengan sidang pertamanya dijadwalkan pada 13 Oktober mendatang. Dalam konteks ini, tindakan Chen Baekhyun Xiumin bukan tampak sebagai pengkhianatan terhadap label sendiri, tetapi sebagai upaya menyelamatkan integritas profesional di tengah kapal manajemen yang oleng.
Konsekuensi Lebih Luas: Kontrak Eksklusif K-pop di Persimpangan
Kasus CBX hanyalah satu titik dalam pola yang lebih besar. Sejumlah artis lain—termasuk grup dan figur publik—diberitakan juga menyampaikan pemutusan kontrak eksklusif dengan alasan tunggakan pembayaran royalti yang serupa. Deretan kasus ini menunjukkan bahwa sengketa mereka bukan insiden terisolasi, melainkan gejala sistemik: kontrak panjang, struktur bagi hasil yang rumit, dan transparansi yang dipertanyakan.
Dampaknya sudah terasa ke karya: sengketa hukum berkepanjangan antara INB100 dan agensi utama EXO membuat CBX absen dari penggarapan album penuh kedelapan grup, “Reverxe”. Ketika kontrak eksklusif yang semestinya menjamin stabilitas malah menghambat aktivitas kreatif, wajar jika publik mulai mempertanyakan apakah model kontrak saat ini masih layak dipertahankan.
Ke depan, putusan atas permohonan penangguhan kontrak eksklusif dan gugatan utama CBX akan menjadi rujukan penting: seberapa jauh pengadilan berani membatasi kekuasaan perusahaan saat ada indikasi pelanggaran hak finansial artis. Jika CBX menang, standar baru soal akuntabilitas keuangan dan fleksibilitas kontrak bisa terbentuk; jika kalah, pesan yang dikirim ke industri jelas: menandatangani kontrak, bahkan dengan label yang kita dirikan sendiri, tetap bisa berujung pada kehilangan kendali atas nasib kreatif dan finansial.






