Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Uggs ke Prada: Seni Transisi Gaya Sehari ala Bella Hadid

Dari Uggs ke Prada: Seni Transisi Gaya Sehari ala Bella Hadid
Minat|Tren Fashion

Transisi Gaya Sehari: Bukan Sekadar Outfit, Tapi Strategi

Styling transisi casual formal adalah cara seseorang menyusun pakaian sehingga tampilan santai dan tampilan profesional atau glamor dapat saling terhubung dalam satu hari, melalui permainan layering, aksesori, dan pemilihan material yang membuat setiap perubahan outfit terasa mulus, tetap mencerminkan gaya personal, dan relevan dengan berbagai agenda yang berbeda dalam ritme hidup urban. Pada hari terakhir rangkaian Fashion Week di New York City, Bella Hadid menunjukkan bahwa konsep ini bukan teori gaya, melainkan strategi hidup yang efektif. Alih-alih bergantung pada runway, ia memanfaatkan kota sebagai panggung, berganti karakter dari cowgirl low-key di pagi hari menjadi tamu glamor berbalut Prada vintage di malam hari dalam hitungan jam.

Dari Western Casual ke Prada Vintage: Masterclass Wardrobe Fleksibel

Pagi Bella dimulai dengan formula cool girl aesthetic yang membumi: T-shirt putih, kemeja flanel penuh warna, dan jaket suede karamel yang terasa low-key sekaligus membawa suasana dari musim panas ke musim gugur. Topi trucker, jeans straight-leg biru dengan ikat pinggang cokelat, serta Uggs pendek menegaskan nuansa Western yang terasa model-off-duty, solid namun tidak berpretensi. Tas bahu Coach Coachtopia Alter/Ego cokelat bertindak sebagai statement bag musim gugur yang menyatukan semuanya. Beberapa jam kemudian, narasi berubah total: flanel tergantikan gaun midi Prada vintage champagne gold dengan aksen latex transparan, tas bowling Prada vintage dalam rona tan lembut, dan pumps merah ceri mengilap yang menyalakan keseluruhan tampilan. Ini bukan sekadar ganti baju; ini bukti bahwa satu wardrobe bisa melayani dua kepribadian gaya dalam sehari, asalkan pilar estetikanya jelas.

Cool-Girl Aesthetic Masuk Kantor: Minidress Rajut dan Power of Layering

Jika pagi dan malam di NYC menunjukkan skala kasual–glamor, tampilan siang Bella pada hari terakhir New York Fashion Week menunjukkan bagaimana cool-girl aesthetic workwear bisa terasa office-ready tanpa kehilangan kehangatan personal. Basisnya sederhana: minidress rajut abu-abu tanpa lengan dipakai di atas kemeja putih yang lengan dan kerah lancipnya sengaja dibiarkan menyembul, menciptakan layering strategis yang rapi namun santai. Detail material rajut yang ‘melilit’ pinggang seperti sweater yang diikat di depan memberi ilusi effortless styling, seolah ini spontan padahal sangat terencana. Kalung vintage Givenchy dari In the Mood Archives berperan sebagai aksesori statement yang mengangkat seluruh look ke ranah corporate chic. Ditambah kacamata oval Ray-Ban dan sepatu hak tinggi Valentino dengan garis hitam-putih di vamp serta sol merah yang playful, tampilan cozy tersebut berubah menjadi template workwear yang relevan untuk 9-to-5.

Menurut Harper’s Bazaar US yang disadur, Bella Hadid menunjukkan bahwa tampilan terbaik untuk kerja tak harus lahir di runway, tapi dari kombinasi cerdas layering dan aksesori.

Dari Uggs ke Prada: Seni Transisi Gaya Sehari ala Bella Hadid

Mengawinkan Western Casual dan Luxury: Tips Mixing yang Tetap Kohesif

Kekuatan styling Bella ada pada caranya mengawinkan elemen Western-inspirasi dengan luxury fashion items tanpa membuat tampilan terasa ‘tempelan’. Topi trucker, jeans straight-leg, ikat pinggang cokelat, dan Uggs pendek membentuk inti kasual yang kuat bersandar pada estetika cowgirl yang belakangan makin lekat dengan dirinya. Tas Coach berkonstruksi slouchy dan finishing cokelat memberi nuansa lebih premium, menghubungkan dunia koboi santai dengan city girl yang peduli detail. Pada spektrum luxury, ia kembali ke Prada berkali-kali: dari set biru pucat koleksi 1999 di French Riviera hingga gaun column strapless satin abu-abu di Cannes, menegaskan bahwa ia tahu persis merek yang berbicara dalam bahasanya sendiri. Luxury brand mixing tips yang bisa dipetik: mulai dari satu estetik inti (Western, Sciura, boho, atau minimalis ’90-an yang ia sukai) lalu tambahkan item luxury yang mendukung narasi tersebut, bukan menabraknya.

Evolusi Gaya Personal: Saat Preferensi Menjadi Identitas

Pola yang muncul dari semua tampilan ini cukup jelas: Bella Hadid gaya personal bukan soal mengikuti tren, melainkan mengumpulkan estetika yang ia sukai lalu menggunakannya lintas konteks. Ia dikenal menyukai gaun vintage bergaya Sciura, boho romantis, dan minimalis ’90-an, kemudian menambah lapisan cowgirl yang kian eksplisit meski hubungan dengan sang koboi Adan Banuelos telah berakhir. Di Cannes, ia tampil dengan sederet busana vintage dan rancangan desainer yang luar biasa, dengan Prada memainkan peran besar dalam beberapa momen kunci. Apa yang bisa dikatakan? Ia tahu betul apa yang ia sukai. Intinya, transisi dari Uggs ke Prada dalam satu hari bukan performa dramatis, melainkan konsekuensi alami dari identitas gaya yang matang. Kesimpulannya: fleksibilitas styling transisi casual formal yang terasa meyakinkan lahir ketika preferensi pribadi konsisten, sehingga setiap outfit—baik santai maupun corporate—terasa sebagai versi lain dari orang yang sama, bukan kostum sementara.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!