Pertumbuhan Kencang, Nilai Tambah Pertanian Lampung Tertahan di Hulu
Nilai tambah pertanian Lampung adalah bagian keuntungan ekonomi yang dihasilkan dari pengolahan, distribusi, dan pemanfaatan komoditas pertanian, yang benar-benar tinggal di daerah dan dirasakan oleh petani, pekerja, serta pelaku usaha lokal, bukan sekadar tercatat sebagai angka produksi besar dan kontribusi persentase terhadap PDRB provinsi saja. Pertumbuhan ekonomi memang tampak mengesankan, tetapi pertanyaan utamanya: seberapa besar kue itu dinikmati masyarakat di kampung-kampung penghasil? Dalam orasi ilmiah di Universitas Lampung, Dany Amrul Ichdan menunjukkan PDRB Lampung melonjak sekitar 3,5 kali dari Rp150 triliun pada 2010 menjadi sekitar Rp523 triliun pada 2025. Angka ini sudah menembus lebih dari Rp500 triliun, dengan hampir 28 persen disumbang sektor pertanian dan menyerap 44 persen tenaga kerja. Namun, jika nilai tambah pertanian Lampung sebagian besar berhenti di tahap bahan mentah, pertumbuhan itu berubah menjadi ilusi kesejahteraan.
Rantai Nilai Terputus: Industri Hilir Pertanian Belum Menjadi Motor
Masalah inti Lampung bukan kurang produksi, melainkan rantai nilai yang berhenti terlalu awal. Nilai sektor pertanian Lampung sekitar Rp150 triliun, tetapi hanya kira-kira Rp20–30 triliun yang masuk ke industri pengolahan. Artinya mayoritas komoditas masih keluar dalam bentuk bahan mentah, sehingga industri hilir pertanian di daerah belum menjadi mesin pencipta nilai tambah. Kontribusi manufaktur yang hanya 17–20 persen dari PDRB menegaskan bahwa ekonomi pertanian berkelanjutan belum tercapai karena tahap pengolahan dan diversifikasi produk masih lemah. Ubi kayu, pisang, jagung, kopi, dan lada hitam memiliki nilai ekonomi besar, tapi tanpa penguatan industri hilir, keuntungan terbesar cenderung dinikmati pihak di luar Lampung. Kalimat Dany, “Kelihatannya capek larinya kencang, tapi posisinya di situ-situ saja,” adalah kritik tajam bahwa pertumbuhan tanpa hilirisasi akan membuat daerah terus menjadi pemasok murah.
Modernisasi Hulu: Penting Tapi Belum Cukup Mengubah Wajah Nilai Tambah
Di sisi lain, pemerintah provinsi bergerak menguatkan hulu dengan teknologi dan modernisasi, lewat program seperti Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS). Wakil gubernur menekankan bahwa modernisasi bukan hanya menghadirkan mesin, tetapi mengurangi biaya dan memperbesar margin petani. Contoh bed dryer di Pringsewu menunjukkan bagaimana pengeringan gabah dari 15 hari menjadi 10–12 jam memberi petani opsi menyimpan gabah dan tidak menjual saat harga rendah. Program pupuk hayati cair, mesin pengering, serta penguatan BUMDes dan koperasi untuk memangkas rantai tata niaga panen adalah fondasi ekonomi pertanian berkelanjutan. Masalahnya, modernisasi hulu tanpa jembatan kuat ke industri hilir pertanian membuat manfaat terbesar tetap terbatas pada efisiensi, belum melompat menjadi lonjakan nilai tambah pertanian Lampung melalui produk olahan, brand lokal, dan pasar baru.
Kerangka DAI dan Kawasan Industri: Harapan Baru yang Harus Dikaitkan dengan Petani
Lampung sudah mulai merumuskan strategi hilirisasi lewat kerangka DAI: distinctive, adaptive, dan inclusive. Distinctive berarti bertumpu pada keunggulan komoditas lokal; adaptive menyiapkan industri, energi, dan infrastruktur; inclusive memastikan petani menikmati bagian lebih besar dari nilai tambah. Di atas kertas, rencana kawasan Katibung sebagai pusat energi terintegrasi dengan kilang 300 ribu barel per hari dan pengembangan bioetanol, peletakan batu pertama yang ditargetkan 2027, lalu KAIL II sebagai ruang pengolahan agro dan Rejosari untuk bioetanol sorgum terlihat menjanjikan. Namun semua kawasan ini masih rencana yang pelaksanaannya harus dibuktikan. Tanpa desain yang secara sengaja menghubungkan pasokan lokal, proses pascapanen, dan akses petani ke fasilitas pengolahan, kawasan industri mudah menjadi enclave tertutup yang mengolah bahan dari luar daerah, meninggalkan petani Lampung tetap berkutat pada jual beli gabah dan umbi mentah.
Menuju Ekonomi Pertanian Lampung yang Berkelanjutan dan Berbasis Nilai Tambah Lokal
Untuk mengubah arah, Lampung perlu melihat nilai tambah pertanian sebagai tujuan utama, bukan efek samping. Minimal ada empat langkah: pertama, tetapkan target jelas peningkatan porsi nilai sektor pertanian Lampung yang masuk industri pengolahan lokal, bukan hanya angka produksi. Kedua, pastikan kebijakan industri hilir pertanian memprioritaskan bahan baku dari petani daerah dengan skema harga yang adil. Ketiga, kuatkan peran kampus dan riset di pengolahan, mutu produk, dan model usaha yang cocok untuk skala desa. Keempat, lanjutkan modernisasi hulu seperti PM-AAS, bed dryer, dan pupuk hayati, tapi kaitkan dengan kontrak pengolahan dan akses pasar agar ekonomi pertanian berkelanjutan terbentuk dari hulu ke hilir. Pertumbuhan PDRB sektor pertanian hanya akan terasa bermakna ketika pekerjaan dan pendapatan baru benar-benar lahir di sekitar lahan-lahan yang selama ini menjadi tulang punggung Lampung.






