Retinopati Diabetik: Komplikasi yang Terlalu Sering Diabaikan
Retinopati diabetik adalah kerusakan pembuluh darah kecil di retina akibat kadar gula darah tinggi jangka panjang pada penyandang diabetes, yang sering berkembang perlahan tanpa gejala awal namun dapat berujung pada penurunan penglihatan berat hingga kebutaan permanen jika tidak terdeteksi dan ditangani sejak dini.
Masalahnya, banyak penyandang diabetes baru peduli pada mata saat penglihatan mulai kabur. Padahal, pada tahap awal, retinopati diabetik hampir tidak menimbulkan gejala sama sekali. Ini membuat banyak orang terlena, merasa “baik-baik saja”, sampai akhirnya dokter mengatakan kerusakan sudah berat dan sulit diperbaiki.
Menurut Prof. Muhammad Bayu Sasongko, retinopati diabetik adalah salah satu komplikasi diabetes yang paling umum, namun kesadaran pasien terhadap risiko ini masih rendah. Sementara analisis data BPJS Kesehatan menunjukkan sekitar 5,2 juta penyandang diabetes sudah mengalami retinopati diabetik, dan 1,2 juta di antaranya membutuhkan terapi laser, injeksi, atau operasi. Ini bukan angka kecil; ini alarm keras.

Mengapa Deteksi Dini Penentu Nasib Penglihatan Anda
Retinopati diabetik tidak bisa dipulihkan sepenuhnya, tetapi dapat diperlambat perkembangan kerusakannya jika diketahui pada tahap awal. Artinya, waktu adalah segalanya. Semakin lama menunda pemeriksaan, semakin sedikit pilihan terapi yang tersisa dan semakin besar risiko kebutaan diabetes. Dalam banyak kasus, pasien datang ketika retina sudah mengalami perdarahan atau pembengkakan berat.
Kadar gula darah tinggi yang berlangsung lama merusak pembuluh darah kecil retina dan menyebabkan kebocoran atau perdarahan. Jika proses ini dibiarkan, jaringan retina akan semakin rusak hingga penglihatan turun drastis. Dengan deteksi dini, dokter dapat memberikan intervensi seperti terapi laser atau injeksi sebelum kerusakan menjadi permanen, sehingga kebutaan diabetes pencegahan bukan sekadar slogan, tapi langkah nyata.
Pengendalian gula darah yang baik tetap fondasi utama, namun tidak cukup berdiri sendiri. Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, Prof. Em Yunir, menegaskan bahwa kontrol gula darah harus dibarengi pemeriksaan mata rutin untuk memperlambat kerusakan retina. Tanpa skrining mata diabetes, Anda seperti mengemudi malam hari dengan lampu dimatikan.
Skrining Retina: Prosedur Sederhana, Manfaat Besar
Pemeriksaan retina diabetes bukan prosedur rumit yang menakutkan. Dokter menyarankan skrining retina rutin sebagai bagian dari manajemen diabetes komprehensif: kontrol gula, tekanan darah, kolesterol, gaya hidup, dan pemeriksaan mata berkala berjalan beriringan.
Skrining retina dapat dilakukan dengan foto fundus atau foto retina menggunakan alat khusus, termasuk perangkat portabel yang kini sudah tersedia. Prosesnya biasanya hanya beberapa menit: pupuk mata mungkin dilebarkan, lalu retina dipotret. Dari gambar ini, dokter bisa menilai apakah sudah ada tanda retinopati diabetik, dari tahap paling ringan hingga berat.
Yang sering dilupakan: skrining tetap wajib meski penglihatan terasa normal. Pada tahap awal, retinopati diabetik sering berkembang tanpa gejala. Menunggu sampai penglihatan kabur sama saja memberi kesempatan penyakit melangkah lebih jauh. Skrining mata diabetes adalah investasi kecil untuk menyelamatkan modal terbesar Anda: penglihatan.
Siapa Saja yang Harus Waspada, Termasuk Anak
Diabetes bukan penyakit eksklusif usia lanjut. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes P2KB Kabupaten Lumajang, dr. Marshall, menegaskan bahwa diabetes melitus dapat terjadi pada semua kelompok usia, termasuk anak-anak. Bahkan pada 2026 tercatat dua kasus diabetes melitus pada anak di layanan Puskesmas. Ini menunjukkan bahwa ancaman retinopati diabetik juga bisa menyentuh usia muda.
Secara resmi tercatat 23.971 warga menderita diabetes melitus di satu kabupaten sepanjang 2025. Lebih luas lagi, sekitar 70 persen dari lebih 20 juta penyandang diabetes diperkirakan belum menyadari kondisi mereka. Banyak orang baru tahu mengidap diabetes setelah muncul komplikasi serius, termasuk retinopati. Artinya, kelompok yang perlu skrining retina bukan hanya pasien yang sudah lama didiagnosis, tapi juga siapa pun dengan faktor risiko tinggi.
Faktor risiko retinopati diabetik meningkat bila gula darah tidak terkontrol, disertai hipertensi, kolesterol tinggi, dan kebiasaan merokok. Di sisi lain, dr. Marshall mengingatkan bahwa pengendalian diabetes yang baik—pola makan sehat, aktif bergerak, menjaga berat badan, tidak merokok, dan kontrol teratur—penting untuk menekan risiko komplikasi pada berbagai organ, termasuk mata.
Langkah Praktis: Jadikan Pemeriksaan Mata Rutin, Bukan Pilihan
Jika Anda penyandang diabetes, pemeriksaan retina bukan lagi opsi tambahan, melainkan bagian wajib dari perawatan diri. Menunda berarti menerima risiko kebutaan yang sebenarnya bisa dicegah. Deteksi dini memberi kesempatan intervensi medis sebelum kerusakan permanen terjadi.
Jadwalkan skrining retina secara berkala sesuai anjuran dokter, biasanya setidaknya setahun sekali, atau lebih sering bila sudah ditemukan retinopati diabetik. Di sela jadwal skrining, jaga gula darah, tekanan darah, dan kolesterol, serta hentikan merokok untuk menurunkan tekanan pada retina.
Intinya, kebutaan diabetes pencegahan ada di tangan Anda: disiplin kontrol metabolik, konsisten memeriksakan mata, dan patuh pada terapi yang disarankan. Dengan pengendalian yang baik, risiko komplikasi dapat ditekan dan penyandang diabetes tetap dapat hidup sehat dan produktif. Pilihannya jelas: skrining rutin hari ini, atau menanggung konsekuensi di kemudian hari.






