Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Mindfulness Gagal bagi Mereka yang Sekadar Bertahan Hidup

Mengapa Mindfulness Gagal bagi Mereka yang Sekadar Bertahan Hidup
Minat|Kesehatan Mental

Mindfulness Bukan Obat Universal di Tengah Stres Struktural

Mindfulness sebagai praktik mengarahkan perhatian penuh pada momen kini sering dipromosikan sebagai solusi universal untuk stres dan kecemasan, seolah semua orang bisa tenang hanya dengan mengatur napas dan mengurangi konsumsi berita, padahal bagi mayoritas yang dihimpit ketidakamanan finansial, ketimpangan ekonomi, dan ancaman ekologis, sumber stres mereka bersifat struktural, bukan sekadar persoalan cara berpikir individu atau teknik relaksasi yang dapat dipilih sesuka hati. Di sinilah persoalan mindfulness dan ketimpangan sosial menjadi terang. Ketika anjuran “batasi berita buruk” berhadapan dengan kenyataan keluarga yang kehilangan pekerjaan, sawah yang retak, atau rumah yang dikepung asap, nasihat menenangkan itu terdengar seperti saran memakai tabir surya kepada orang yang rumahnya sedang terbakar. Kritik praktik mindfulness muncul bukan karena orang anti ketenangan, melainkan karena narasi ketenangan itu menyingkirkan fakta bahwa banyak orang tidak punya tombol untuk mematikan sumber penderitaan mereka.

Mengapa Mindfulness Gagal bagi Mereka yang Sekadar Bertahan Hidup

Kesehatan Mental sebagai Privilege Kelas Menengah dan Ke Atas

Kontroversi seputar video mindfulness Maudy Ayunda memperlihatkan secara telanjang bahwa kesehatan mental privilege itu nyata: kemampuan untuk menjauh dari berita buruk merupakan sebuah keistimewaan. Tidak semua orang bisa mengurangi paparan informasi ketika “berita” itu sendiri adalah udara beracun yang dihirup setiap hari atau status kontrak kerja yang tidak jelas. Di level makro, pertumbuhan ekonomi dan penurunan angka pengangguran membuat negeri tampak baik-baik saja, tetapi di balik grafik, ratusan ribu kasus pemutusan hubungan kerja dan menipisnya kelas menengah menempatkan sekitar 142 juta orang di posisi rentan jatuh miskin. Dalam situasi seperti itu, layanan kesehatan jiwa yang mahal membuat ketenangan menjadi hak istimewa mereka yang mampu membayar ratusan ribu rupiah per sesi konseling. Ketika mindfulness dan ketimpangan sosial bertemu, jurang bukan hanya soal pendapatan tetapi juga soal siapa yang berhak merasa tenang tanpa merasa bersalah.

Bias Kelas dalam Praktik Mindfulness Komersial

Industri wellness modern sering memoles mindfulness sebagai gaya hidup: kelas, retret, ruang meditasi kedap bising, dan kesempatan mematikan ponsel selama beberapa hari. Kemampuan untuk mengurasi informasi, mematikan ponsel, lalu bermeditasi di ruang isolasi nyaman adalah privilese struktural yang mewah. Mayoritas pekerja prekariat yang berjibaku dengan jam kerja panjang, gaji yang pas-pasan, dan ancaman PHK tidak memiliki ruang dan waktu untuk berhenti demi ketenangan batin. Di sinilah kritik praktik mindfulness menemukan relevansinya: praktik mindfulness komersial kerap terjebak dalam toxic positivity institusional yang menggeser tanggung jawab kegagalan sistemik atau ketimpangan ekonomi menjadi sekadar urusan kegagalan personal mengelola stres. Narasi seolah “kamu yang kurang mindful” menutupi fakta bahwa stres struktural vs individual adalah dua hal berbeda; mengatasnamakan napas panjang untuk mengatasi PHK massal adalah bentuk pengaburan politik.

Kasus Maudy Ayunda: Ketika Mindfulness Dianggap Tidak Peka

Gelombang kritik terhadap video “mindfulness in the age of bad news” Maudy Ayunda bukan terjadi di ruang hampa. Warganet menyebutnya tidak peka dan tone-deaf karena bagi banyak orang, kabar tentang kebakaran hutan dan lahan bukanlah konten yang bisa digeser ke bawah, melainkan kenyataan yang mereka hirup setiap pagi. Bagi anak di kawasan terdampak, asap masuk lewat celah jendela, menempel di seragam, mengendap di paru-paru; tidak ada fitur mute untuk penderitaan itu. Ketika kiat personal detoks berita disampaikan sebagai solusi universal oleh figur publik dengan jutaan pengikut, narasi tersebut membentur dinding realitas akar rumput. Kegusaran warganet sesungguhnya kegusaran struktural yang menemukan sasaran yang terlalu mudah: seorang perempuan yang berusaha merawat jiwanya, sementara sistem yang memproduksi krisis ekologis dan ekonomi lolos dari sorotan. Di titik ini, masalahnya bukan hak individu atas kewarasan, melainkan pesan publik yang mengabaikan ketidaksetaraan akses terhadap ketenangan.

Dari Ketangguhan Emosional ke Tuntutan Perubahan Sosial

Mindfulness yang sejati seharusnya tidak mematikan kepekaan atau empati sosial; kesadaran penuh mesti menjadi bahan bakar emosional agar kita tetap waras, jernih, dan tajam mengawal keadilan struktural. Thich Nhat Hanh pernah menegaskan, “Once there is seeing, there must be acting”: melihat lalu bertindak, bukan berhenti di ketenangan batin. Fokus berlebihan pada ketenangan pikiran individual mengalihkan perhatian dari kebutuhan akan perubahan sosial dan kebijakan publik yang lebih adil. Dunia nyata tidak akan berubah menjadi lebih baik hanya karena kita mengelola napas dengan tenang di kamar sejuk; yang harus diubah adalah sistem dan struktur sosial yang merusak. Bangsa ini sedang lelah secara kolektif, di ruang ber-AC maupun gubuk beratap seng. Jawaban atas kelelahan itu bukan memilih antara waras atau peduli, melainkan menolak dipaksa memilih: merawat ketangguhan emosional sambil secara aktif menuntut perbaikan kebijakan, distribusi kekayaan, dan perlindungan ekologis.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!