Dua ikon yang menentukan wajah Guci
Revitalisasi Guci adalah upaya membangun kembali dan menata fasilitas pemandian serta akses wisata yang rusak, sembari mempertahankan ciri khas kawasan agar pengunjung dapat menikmati pengalaman yang lebih tertib dan aman. Pemerintah Kabupaten Tegal mempercepat pekerjaan di Pancuran 5 dan Pancuran 13 untuk menyambut lonjakan wisatawan pada libur Natal dan Tahun Baru 2026/2027.
Kedua pemandian air panas ini bukan sekadar fasilitas tambahan: keduanya disebut sebagai ikon wisata Guci, sehingga kondisi dan kesiapan operasionalnya ikut membentuk kesan pengunjung terhadap seluruh kawasan. Pancuran 5 Guci akan mempertahankan bangunan ikoniknya dalam penataan yang lebih kekinian, sementara pekerjaan di Pancuran 13 mencakup pembangunan jembatan. Memulihkan tempat-tempat yang paling dikenal pengunjung adalah langkah tepat; namun, hasil revitalisasi baru bernilai jika kenyamanan dan keselamatan juga terasa di lapangan.

Progres pekerjaan dan perubahan bagi pengunjung
Pemkab menargetkan revitalisasi Pancuran 5 dan pembangunan jembatan Pancuran 13 rampung pada awal Desember 2026, sebelum masa liburan akhir tahun. Hingga awal Oktober, pekerjaan Pancuran 5 dilaporkan mencapai 46 persen dengan anggaran sekitar Rp1,3 miliar, sedangkan jembatan Pancuran 13 mencapai 60 persen dengan nilai sekitar Rp2,5 miliar. Angka itu menggambarkan progres yang masih harus dikejar, bukan jaminan bahwa semua pekerjaan selesai tepat waktu. Kepala bidang pariwisata setempat menyatakan optimistis kedua fasilitas dapat mencapai 100 persen pada awal Desember.
Bagi pengunjung, rancangan Pancuran 5 mencakup kolam renang baru di bagian atas dan pemisahan jalur masuk serta keluar untuk mengurangi penumpukan. Tidak ada retribusi tambahan untuk masuk Pancuran 5 karena biayanya sudah termasuk dalam tiket utama kawasan. Jembatan Jedor juga dilaporkan telah selesai dan beroperasi normal bersama jalur utama menuju Guci.
Luapan viral bukan alasan menghentikan pembangunan
Video luapan sungai setelah hujan deras pada Minggu, 1 November 2026, menyebar di media sosial dan memunculkan kekhawatiran karena mengingatkan warga pada banjir bandang sebelumnya. Namun, Kepala UPTD Objek Wisata Kabupaten Tegal, Wahyudi, menjelaskan air meluap sekitar 10–15 sentimeter dari dasar sungai dan kembali surut setelah sekitar satu hingga dua jam; kejadian itu bukan banjir bandang seperti yang merusak kawasan pada akhir 2025 dan awal 2026.
Wahyudi menegaskan luapan tersebut tidak berdampak pada pembangunan kembali Pancuran 5 dan Pancuran 13, yang terus berjalan. Itu kabar penting, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan risiko hujan deras. Penataan yang lebih aman harus dibuktikan melalui pekerjaan perlindungan tebing dan pengelolaan aliran air, bukan hanya melalui kelanjutan proyek. Pemkab juga membangun talud di sepanjang aliran Sungai Gung untuk membantu menahan tanah dan menghadapi luapan.
Kesimpulan: pemulihan harus terasa, bukan hanya terlihat
Revitalisasi ini penting karena Guci masih menarik pengunjung, dengan hunian hotel, penginapan, dan vila yang disebut tinggi setiap akhir pekan. Menjelang libur akhir tahun, Pancuran 5 Guci yang tertata dan jembatan Pancuran 13 Guci yang kembali berfungsi dapat membantu memulihkan pengalaman wisata sekaligus mengurangi kepadatan di titik populer. Namun, target awal Desember seharusnya menjadi awal pembuktian, bukan garis akhir penilaian.
Pekerjaan ini dilakukan setelah banjir bandang akibat luapan Sungai Gung pada Desember 2025 dan Januari 2026 merusak sejumlah pemandian serta jembatan. Karena itu, keberhasilan revitalisasi Guci tidak cukup diukur dari bangunan yang selesai sebelum Nataru. Pengunjung perlu melihat akses yang tertata, perlindungan kawasan yang memadai, dan informasi yang jelas saat hujan deras. Kesimpulannya, pembangunan yang tetap berjalan meski video luapan viral adalah perkembangan positif, tetapi kepercayaan wisatawan hanya akan pulih jika keselamatan dan kesiapan operasional terbukti nyata.






