Modal swasta menentukan ambisi Danantara
Investasi energi Danantara adalah upaya lembaga pengelola investasi negara untuk membiayai proyek energi dengan mempertimbangkan kelayakan komersial sekaligus dampak strategisnya. Pendekatan ini menempatkan modal swasta sebagai mitra penting, bukan sekadar sumber dana tambahan.
Taruhannya terlihat pada rencana membawa 15–16 proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy atau WtE) ke tahap tender hingga akhir 2026. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Patria Sjahrir, menyebut keterlibatan sektor swasta sebagai kunci mempercepat realisasi dan memperluas sumber pendanaan. Itu pilihan yang masuk akal: proyek dengan kebutuhan infrastruktur besar sulit berkembang hanya dengan mengandalkan satu pihak.
Namun, angka tender bukan ukuran keberhasilan. Danantara juga perlu memastikan pembagian risiko, tata kelola, dan manfaat bagi warga sekitar dirancang sejak awal. Pandu menegaskan bahwa fasilitas WtE semestinya memberi nilai bagi komunitas setempat, selain menghasilkan energi. Sikap ini penting karena penerimaan masyarakat dapat menentukan apakah proyek energi Indonesia mampu bergerak dari rencana ke operasi.
WtE berpotensi menjawab dua persoalan, dengan syarat
Daya tarik proyek waste to energy terletak pada kemampuannya menghubungkan pengelolaan sampah perkotaan dengan pasokan energi. Berbeda dari pembangkit surya, proyek WtE juga harus berfungsi sebagai bagian dari sistem penanganan sampah; karena itu, manfaatnya tidak cukup dinilai dari keluaran listrik saja.
Risikonya pun lebih berlapis. Keberhasilan fasilitas bergantung pada kesinambungan pasokan sampah, tata kelola operasional, serta dukungan warga di sekitar lokasi. Danantara menyatakan proyek WtE di Bali telah mencapai progres sekitar 20% dan menargetkan penyelesaian pada akhir 2027 atau awal 2028. Pembangunan di Bogor juga berjalan, sementara tender di Jakarta dan Tangerang direncanakan diumumkan dalam waktu dekat setelah forum pada 26 Oktober.
Rencana tersebut memberi gambaran bahwa Danantara sedang membangun jalur proyek, bukan sekadar mengumumkan gagasan. Tetapi memperluas tender sebelum kesiapan teknis dan sosial teruji bisa menambah risiko. Karena itu, standar proyek dan pengawasan berlapis akan sama pentingnya dengan kemampuan menarik investor.
Minat PLTS Tiongkok perlu menjadi komitmen nyata
Di sisi lain, dua perusahaan Tiongkok menyatakan minat berinvestasi dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), menurut CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani. Ia tidak mengungkap identitas perusahaan tersebut, sehingga minat ini patut dibaca sebagai peluang penjajakan, bukan investasi yang sudah terealisasi.
Investasi PLTS Tiongkok dapat membuka akses pada mitra untuk mengembangkan kapasitas energi surya. Dibanding WtE, PLTS tidak memikul tugas pengolahan sampah dan persoalan penerimaan fasilitas pengolahan di lingkungan sekitar. Namun, sumber yang tersedia belum menjelaskan rincian proyek, skema kerja sama, atau jadwal realisasi. Tanpa kepastian itu, minat investor belum bisa disamakan dengan proyek yang siap dibangun.
Perbandingannya jelas: WtE menawarkan manfaat ganda tetapi menghadapi kompleksitas operasional dan sosial; PLTS memiliki jalur energi yang lebih langsung, tetapi tetap memerlukan komitmen pendanaan dan pelaksanaan yang terukur. Strategi Danantara sebaiknya menilai tiap proyek berdasarkan kesiapan dan manfaatnya, bukan sekadar banyaknya calon mitra.

Ukur keberhasilan dari proyek yang berjalan
Danantara punya peluang untuk mempertemukan modal swasta dengan kebutuhan transisi energi melalui dua jenis proyek yang berbeda. WtE dapat mengaitkan layanan persampahan dan pembangkitan, sedangkan PLTS menawarkan jalur investasi surya yang menarik minat perusahaan asing. Keduanya dapat melengkapi portofolio, tetapi tidak bisa memakai ukuran kesiapan yang sama.
Ujian berikutnya bukan sekadar memperoleh respons investor, melainkan mengubah penjajakan dan tender menjadi proyek yang dikelola dengan disiplin risiko, tata kelola yang jelas, serta manfaat yang dapat dirasakan. Untuk WtE, penerimaan warga dan kinerja pengolahan perlu berjalan bersama produksi energi. Untuk PLTS, minat harus diikuti rincian kemitraan dan pelaksanaan yang konkret.
Kesimpulannya, investasi energi Danantara akan dinilai dari mutu realisasi, bukan panjangnya daftar proyek atau asal investor. Mengundang modal swasta dan asing merupakan langkah awal yang penting; menjaga agar setiap proyek layak, transparan, dan memberi manfaat publik adalah pekerjaan yang menentukan.






