Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Riset ke Sketsa 3D: Gemini Mengubah Cara Desainer Bekerja

Dari Riset ke Sketsa 3D: Gemini Mengubah Cara Desainer Bekerja
Minat|Industri Fashion

AI desain fashion: kawan, bukan pengganti desainer

AI desain fashion adalah penggunaan kecerdasan buatan untuk mendukung proses kreatif dan teknis di industri mode, mencakup riset, eksplorasi ide, simulasi visual hingga workflow produksi efisien yang lebih presisi, tanpa menggantikan intuisi dan identitas estetika desainer sebagai sumber utama keputusan kreatif. Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan mengambil alih peran desainer, tetapi bagaimana desainer memilih untuk memegang kendali atas algoritme. Teknologi artificial intelligence bisa menjadi kawan maupun lawan; di fashion, kontroversinya bermula saat mesin diminta merancang busana hanya lewat prompt, seolah kreativitas bisa diotomatisasi. Tiga label—Kraton Auguste Soesastro, Two Stitches, dan STELLARISSA—menawarkan jawaban berbeda: AI bukan pensil utama, melainkan alat bantu yang mempercepat, memperdalam, dan memperluas karya mereka dalam program "With Gemini, In Craft" di Taman Ismail Marzuki.

Dari Riset ke Sketsa 3D: Gemini Mengubah Cara Desainer Bekerja

Auguste Soesastro: riset desain AI untuk couture yang bertutur

Jika ada desainer yang membuktikan bahwa riset bisa seanggun couture, itu adalah Auguste Soesastro. Pendiri Kraton ini menjadikan Gemini sebagai mitra riset desain AI untuk merancang bespoke couture bagi Kenya Kamalashila Soekarno. Alih-alih mengandalkan moodboard seadanya, ia memanfaatkan Gemini Deep Research untuk mengakses arsip internasional yang sulit dijangkau, menerjemahkan dokumen sejarah berbahasa asing, dan memverifikasi silsilah antargenerasi di enam wilayah leluhur Kenya. Hasilnya bukan sekadar gaun, tetapi busana dengan catatan naratif terstruktur dan bibliografi riset yang komprehensif yang menyatu dengan teknik potongan arsitektural khas Auguste. Di sini terlihat jelas: AI digunakan untuk memperkuat kedalaman cerita, bukan menentukan selera. Algoritme mengerjakan kerja kasar literasi dan data, sementara kepekaan desain tetap berpusat pada tangan manusia.

Dari Riset ke Sketsa 3D: Gemini Mengubah Cara Desainer Bekerja

Stella Rissa: membangun semesta karakter tanpa melepas coretan tangan

Stella Rissa mengambil jalur berbeda: alih-alih menyuruh Gemini menggambar gaun, ia memanfaatkannya untuk memperluas semesta karakter muse imajiner bernama Starlet. Berawal dari lukisan cat air, Starlet bertransformasi menjadi karakter animasi yang bahkan memiliki podcast sendiri berkat bantuan Gemini sebagai penutur kisah digital. Namun garis batasnya tegas. Stella mengakui bahwa prompting butuh pemahaman mendalam, tetapi menegaskan, “Sama seperti Starlet, semua berawal dari coretan tangan. Everything from scratch”. AI dipakai untuk mengubah sketsa analog menjadi format multimedia, bukan menggantikan sketsa itu sendiri. Identitas STELLARISSA yang selama ini dikenal fierce bergeser menjadi lebih fun, ekspresif, dan colorful lewat Starlet, tanpa kehilangan sidik jari estetik Stella. Inilah contoh bagaimana Gemini fashion Indonesia bisa memperluas cerita label tanpa mengaburkan nama kreatornya.

Dari Riset ke Sketsa 3D: Gemini Mengubah Cara Desainer Bekerja

Two Stitches: sketsa 3D otomatis dan workflow produksi efisien

Two Stitches—diinisiasi Andy Tan dan Jerome Kurnia—menggunakan Gemini untuk menjawab problem paling mahal di fashion: waktu dan limbah. Brand ini memanfaatkan AI untuk menyatukan tim desain dan bisnis yang tersebar di Jakarta, Bali, dan Berlin dalam pengembangan koleksi MRTYNY. Menggunakan AI untuk membuat simulasi model, mereka mengubah sketsa konsep menjadi simulasi jatuh kain 3D dan virtual fitting di Gemini, pada dasarnya menghadirkan sketsa 3D otomatis yang bisa dipelajari dari berbagai sudut. Cara ini membantu menghitung kebutuhan bahan, waktu pembuatan sampel, hingga proyeksi harga produksi dengan lebih presisi. Dampaknya konkret: waktu pembuatan sampel fisik yang biasanya memakan hitungan bulan turun menjadi hitungan hari. Inilah workflow produksi efisien yang relevan dengan isu limbah fashion, karena keputusan produksi bisa diambil berdasarkan simulasi, bukan coba-coba berulang dengan kain nyata.

Dari Riset ke Sketsa 3D: Gemini Mengubah Cara Desainer Bekerja

Dari pameran ke pengguna sehari-hari: masa depan AI di studio mode

Program “With Gemini, In Craft” sengaja dirancang bukan sebagai ajang demo teknologi, tetapi sebagai argumen publik bahwa AI desain fashion dapat memberdayakan imajinasi manusia. Pameran ini menampilkan proses kreatif ketiga label dan mengajak pengunjung mencoba virtual fitting koleksi terbaru Two Stitches serta membuat stiker personal bergaya Stella Rissa, memberi gambaran langsung bagaimana AI bisa menyentuh pengalaman konsumen, bukan hanya studio. Menurut Google, Indonesia kini masuk lima besar negara dengan penggunaan Gemini terbesar di dunia, dengan hampir 9 juta gambar yang dihasilkan pengguna di aplikasi Gemini setiap hari. Sekitar satu dari dua prompt bersifat multimodal, termasuk kombinasi teks dengan gambar atau video—pola yang sangat relevan untuk fashion. AI bisa mempercepat pekerjaan dan membuka kemungkinan baru, sementara ide dan keputusan tetap di tangan desainer. Pertanyaannya sekarang: apakah pelaku mode lain siap mendesain ulang cara mereka bekerja, sebelum pasar yang mendesain ulang mereka?

Dari Riset ke Sketsa 3D: Gemini Mengubah Cara Desainer Bekerja

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!