Fantasy Bra sebagai Simbol Comeback, Bukan Sekadar Bra Berpermata
Victoria's Secret Fashion Show 2026 adalah sebuah pertunjukan lingerie runway show yang menandai kembalinya estetika lama merek melalui Fantasy Bra kontroversial, sambil memicu perdebatan baru tentang standar kecantikan fashion dan relevansi konsep keseksian di panggung mode masa kini. Di Sony Pictures Studios, Culver City, acara ini mempertemukan model lintas generasi seperti Gigi Hadid, Bella Hadid, Adriana Lima, Candice Swanepoel, dan Anok Yai dalam satu runway yang sarat nostalgia. Cosmopolitan mencatat empat penampil musik—Megan Moroney, Tate McRae, KATSEYE, dan Megan Thee Stallion—yang seluruhnya tampil dengan busana terinspirasi lingerie, menegaskan bahwa show ini masih bertumpu pada visual tubuh dan sensualitas. Pertanyaannya: apakah ini perayaan kepercayaan diri, atau pengulangan formula lama yang mengabaikan evolusi standar kecantikan yang lebih beragam?

Momen Kylie Jenner dan Fantasy Bra: Spektakel Seksinya atau Kemunduran?
Sekitar tiga perempat acara berlalu sebelum sorotan terbesar malam itu muncul: Fantasy Bra rancangan Jacob Arabo dari Jacob & Co, dikenakan Kylie Jenner setelah pertunjukan cahaya yang dirancang untuk membangun ketegangan. Bra ini dihiasi berlian kuning dan ribuan berlian putih, dipadukan dengan sayap terinspirasi unicorn dan rok mini transparan, menghadirkan kembali ikon lama yang sempat absen sejak 2018. Menurut laporan yang mengutip The New York Times, kembalinya Fantasy Bra menimbulkan pertanyaan apakah Victoria's Secret benar-benar menciptakan ulang konsep keseksian atau sekadar kembali ke stereotip lama. Di tengah wacana #MeToo dan kritik atas penggambaran perempuan sebagai "panutan sempurna di kamar tidur", langkah ini terasa seperti sinyal bahwa daya tarik seksual masih didefinisikan lewat pandangan laki-laki, bukan pengalaman perempuan sendiri.

Segmen Pink dan KATSEYE: Playful, Tapi Masih Pola Lama
Segmen Pink menjadi contoh jelas bagaimana merek berusaha tampak segar, namun tetap terikat pola lama. KATSEYE menghadirkan gaya playful lewat paduan korset dan rok mini saat tampil di Victoria's Secret Fashion Show 2026, dengan Daniela Avanzini, Lara Raj, Megan Skiendiel, dan Yoonchae kompak membawakan konsep senada di segmen Pink. Busana panggung mereka mengusung siluet korset dengan rok pendek berhias beragam ornamen, selaras dengan identitas lini Pink yang girly dan menggoda. Dalam penampilan berjudul "Pink", band ini digambarkan berubah menjadi siswi-siswi nakal, sementara atlet Trinity Rodman tampil dengan celana pendek berpayet dan bra yang menopang. Di pink carpet, keempat member memilih gaya lingerie-inspired dressing dengan garis leher rendah dan material transparan. Alih-alih menantang standar kecantikan fashion, segmen ini terasa seperti penguatan fantasi remaja nakal yang sudah lama dikritik.

Rebranding Setengah Hati: Antara Inklusivitas dan Nostalgia Angel
Selama dua tahun terakhir, Victoria's Secret secara bertahap mengembalikan elemen khasnya, termasuk mengatur ulang pertunjukan setelah pembatalan 2019 yang terkait dengan skandal mantan pemilik Les Wexner dan Jeffrey Epstein. Para Angels yang sempat dihentikan untuk memberi ruang bagi perwakilan perempuan yang lebih beragam kini pelan-pelan kembali, bahkan Gisele Bündchen ditampilkan dalam video promosi sebelum show, meski akhirnya tak berjalan di runway karena cedera. Di level narasi, CEO Hillary Super dan Chief Creative Officer Adam Selman berbicara tentang pemberdayaan perempuan, kepercayaan diri, dan kegembiraan tubuh. Namun di panggung, desain yang menonjolkan lekuk tubuh, korset, dan sayap malaikat tetap menjadi ciri utama. Banyak pengamat menilai peragaan ini masih mengikuti gaya gadis Vargas tradisional dan daya tarik seksual ala Playboy yang menekankan fisik para model. Rebranding terasa setengah hati: kata-kata baru, visual lama.

Apakah Victoria's Secret Masih Relevan di Era Inklusif?
Keputusan menghidupkan kembali Fantasy Bra dan estetika Angel dijelaskan sebagai respons terhadap permintaan penggemar, dengan tema Fandemonium yang menekankan peran komunitas penonton. Secara komersial, strategi ini tampak berhasil: harga saham merek naik dan simbol saham diubah dari VSCO menjadi VSXY, menegaskan arah baru yang kembali menonjolkan seksualitas. Namun, penciptaan kembali citra model berkorset yang memamerkan lekuk tubuh menandakan kembalinya ke masa ketika daya tarik seksual dinilai terutama melalui mata laki-laki. Di era ketika standar kecantikan fashion bergerak menuju inklusivitas—berbagai bentuk tubuh, usia, latar belakang—Victoria's Secret tampak lebih tertarik menghidupkan nostalgia daripada memimpin perubahan. Sumber yang sama menilai, alih-alih sekadar menghidupkan masa lalu dengan arketipe menggoda yang familiar, merek ini seharusnya mengeksplorasi cara baru menyampaikan pemberdayaan tubuh yang lebih khas dan berperspektif luas. Tanpa itu, relevansi mereka akan terus dipertanyakan.







