Dari pengalaman styling ke label bermisi
Sejauh Mata Memandang adalah label tekstil yang memadukan wastra Indonesia, gaya kontemporer, dan prinsip produksi yang lebih bertanggung jawab dalam pakaian untuk keseharian. Didirikan Chitra Subyakto pada 2014, label ini tumbuh dari keyakinan bahwa busana tradisional tak perlu disimpan sebagai peninggalan seremonial: ia bisa hidup di lemari modern tanpa kehilangan akar budaya. Sebelum mendirikan labelnya, Chitra telah bekerja di dunia kreatif sebagai penata gaya. Ia memulai karier pada 2001 di majalah CosmoGirl! Indonesia, lalu menangani iklan, video musik, konser, teater, pertunjukan musikal, dan film. Pengalaman itu bukan sekadar bekal estetika; ia mengajarinya memahami bagaimana pakaian bergerak, dipakai, dan bercerita. Maka gagasan awal Sejauh terasa praktis sekaligus kultural: merancang pakaian terinspirasi busana tradisional, nyaman untuk iklim tropis, dan pantas dikenakan sehari-hari. Inilah titik pembeda yang membuat label tersebut lebih dari bisnis pakaian.

Tradisi yang dipakai, bukan dibekukan
Kekuatan desain Sejauh terletak pada penerjemahan, bukan penyalinan. Motif ayam, misalnya, berangkat dari gambar pada mangkuk yang lazim dipakai pedagang makanan di Indonesia, lalu diolah menjadi motif busana dengan siluet modern. Pendekatan semacam ini membuat rujukan budaya terasa dekat dengan kehidupan, bukan sekadar ornamen yang ditempel demi kesan etnik. Di balik tampilan kontemporer itu ada kerja teknik dan material. Sejauh menggabungkan batik tulis serta batik cap dengan teknik modern, dan berkolaborasi dengan perajin dari berbagai daerah. Katun, linen, dan tencel termasuk material yang digunakan. Kombinasi tersebut memberi slow fashion Indonesia yang ditawarkan label ini landasan nyata: tradisi hadir dalam proses dan kemitraan, sementara desainnya tetap berupaya relevan untuk pemakaian masa kini. Menurut saya, nilai pentingnya ada pada hubungan antara bentuk pakaian dan orang-orang yang membuatnya—bukan pada motif semata.
Keberlanjutan sebagai proses, bukan klaim sempurna
Sejauh Mata Memandang tidak dibangun untuk mengejar pergantian tren secepat mungkin. Label ini mengembangkan pendekatan slow dan circular fashion melalui koleksi upcycled, benang daur ulang, pewarna alami, serta upaya mengurangi limbah dalam produksi. Namun, kekuatan pendekatan Chitra justru tampak ketika ia tidak menjanjikan kesempurnaan: produksi pakaian tetap membutuhkan sumber daya dan energi, sehingga tanggung jawab berarti terus memperbaiki proses, bukan mengklaim bebas dampak. Sikap itu penting bagi pembicaraan tentang fashion berkelanjutan. Ia menghindari kesan bahwa satu bahan atau teknik otomatis menyelesaikan persoalan lingkungan. Hingga 2024, Sejauh telah menggelar 17 pameran yang mengangkat isu lingkungan. Studio Sejauh juga menjadi ruang pertemuan artisan, petani, UMKM, komunitas, seniman, desainer, dan masyarakat untuk membangun ekosistem tekstil yang lebih sirkular. Dengan demikian, dampak label ini layak dinilai bukan hanya dari pakaian yang dijual, tetapi juga dari jejaring yang ikut dibentuk.
Sorotan JFW 2027: RAUNG dan dialog tekstil
Di JFW 2027, Sejauh Mata Memandang tampil bersama Oscar Lawalata Culture dalam “BTN Presents: DEWI Luxe Market Culture / Nature”. Sejauh membawa koleksi “RAUNG”, yang mengambil dualitas sifat kucing—nyaman sekaligus dapat menjadi liar—sebagai refleksi keresahan sosial. Chitra Subyakto dan ko-direktur kreatif Felix Tjahjadi menyusun 29 tampilan, memadukan ilustrasi kucing karya seniman Bangkok O Terawat dengan pola geometris jalanan. Motif Ayam Kincir juga hadir kembali dalam susunan baru. Kolaborasi dengan perajin menghasilkan tas tenun berbentuk kucing, syal rajut tangan, serta busana dan aksesori daur ulang melalui patchwork, origami, dan rajut tangan. Di panggung yang sama, Asha Smara Darra menghadirkan Oscar Lawalata Culture melalui eksplorasi kain lurik yang telah ditekuninya selama 25 tahun; garis, struktur, dan lapisan diterjemahkan ke dalam siluet kontemporer. Pertemuan ini memperlihatkan bahwa tradisi tekstil bukan satu gaya tunggal, melainkan bahan dialog yang terus berkembang.
Perjalanan Chitra menunjukkan bahwa slow fashion Indonesia bisa berangkat dari keterampilan kreatif, lalu berkembang menjadi kerja panjang bersama perajin dan komunitas. Sejauh belum dapat menghapus seluruh dampak produksi, dan memang tidak berpura-pura demikian. Justru pengakuan atas batas itu membuat komitmennya lebih meyakinkan: tradisi dirawat melalui pemakaian, keberlanjutan dikerjakan bertahap, dan desain tetap berbicara kepada kehidupan sehari-hari. Kesimpulannya, kekuatan Sejauh Mata Memandang bukan hanya pada pakaian yang dihasilkan, tetapi pada cara label ini menghubungkan budaya, proses produksi, dan tanggung jawab.







