AI Kesehatan Super Canggih, Tapi Ritme Pakai Terancam Charging Lambat
Galaxy Watch9 dan Galaxy Watch Ultra2 adalah smartwatch AI kesehatan yang menggabungkan layar super terang, chipset 3nm hemat daya, dan sensor kesehatan lengkap dengan fitur pemantauan kesehatan pintar dari olahraga hingga istirahat, namun di sisi lain dilaporkan mengalami masalah smartwatch charging cepat yang membuat pengisian baterai bisa memakan waktu berjam-jam, sehingga mengganggu ritme penggunaan harian pengguna yang aktif dan sangat mengandalkan pemakaian sepanjang hari termasuk saat tidur.
Peluncuran keduanya bukan sekadar rilis smartwatch baru; ini adalah pernyataan bahwa Samsung ingin menjadikan gelang pintar ini sebagai "pelatih pribadi" yang selalu menempel di pergelangan tangan. Masa pre-order Galaxy Watch Ultra2 dan Galaxy Watch9 dibuka pada 22 Juli, dengan penjualan perdana dijadwalkan pada 14 Agustus. Ambisi tersebut terasa meyakinkan di atas kertas, tetapi laporan early adopter tentang pengisian daya yang bisa tembus empat jam perlahan menggerus janji pengalaman tanpa jeda.

Galaxy Watch9: Layar 3000 Nits dan Galaxy Watch9 Fitur yang Menggoda
Pada level hardware, Galaxy Watch9 tampak seperti jawaban ideal bagi pengguna yang ingin naik kelas dari smartband ke smartwatch AI kesehatan premium. Salah satu Galaxy Watch9 fitur yang paling menonjol adalah layar Super AMOLED 1,47 inci dengan kecerahan puncak hingga 3.000 nits. Ini bukan sekadar angka pamer: tampilan yang tetap jelas di bawah terik matahari membuat pemantauan kesehatan pintar dan statistik latihan jauh lebih praktis, terutama untuk pelari dan pesepeda yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Di balik layar terang tersebut, Galaxy Watch9 menggunakan Snapdragon Wear Elite Platform Qualcomm SDW6100 berbasis proses 3 nanometer yang menjanjikan efisiensi daya dan performa lebih baik. Varian 40 mm mendapat peningkatan kapasitas baterai hingga 20 persen, membantu menjaga Always-on Display dan pemantauan kesehatan sepanjang hari tetap aktif. Untuk konektivitas, tersedia pilihan Bluetooth dan LTE dengan dukungan eSIM serta jaringan GSM, HSPA, dan LTE, sehingga jam tangan bisa lebih mandiri dari ponsel bila operator mendukung layanan ini.

Galaxy Watch Ultra2: Spesifikasi Buas untuk Pengguna Serius
Jika Galaxy Watch9 membidik pengguna umum, Galaxy Watch Ultra2 jelas menyasar mereka yang menginginkan perangkat pendamping olahraga dan aktivitas ekstrem yang lebih serius. Di atas kertas, Galaxy Watch Ultra2 spesifikasi baterainya mengesankan: kapasitas meningkat menjadi 800 mAh, sekitar 35 persen lebih besar dari generasi sebelumnya yang 590 mAh. Klaimnya, peningkatan ini mendukung GPS, Always-on Display, dan pemantauan kesehatan sepanjang hari tanpa sering-sering menempel di charger.
Kedua smartwatch berbagi platform Snapdragon Wear Elite 3nm, yang semestinya membuat AI kesehatan dan fitur pelacakan lebih responsif sekaligus hemat energi. Ultra2 juga hadir dalam ukuran 47 mm dengan material titanium dan desain yang jelas diarahkan ke pengguna outdoor dan atlet. Dengan harga resmi Rp10.499.000 untuk Galaxy Watch Ultra2 47 mm dan Rp5.999.000–Rp6.499.000 untuk Galaxy Watch9 40 mm dan 44 mm, Samsung secara eksplisit menempatkan kedua jam ini di segmen premium—ekspektasi pengguna terhadap kualitas, termasuk urusan charging, otomatis ikut melambung.
AI, Google Gemini, dan Visi Smartwatch sebagai Asisten Kesehatan Pribadi
Di sisi software, arah strateginya cukup jelas: menjadikan Galaxy Watch9 dan Ultra2 sebagai pusat pemantauan kesehatan pintar berbasis AI. Samsung menanamkan teknologi AI untuk mengolah data biometrik menjadi rekomendasi kesehatan yang lebih mudah dipahami pengguna, bukan sekadar angka-angka mentah di layar. Dalam konteks tren smartwatch AI kesehatan, langkah ini masuk akal: jam tangan bukan lagi hanya penghitung langkah, tetapi pemberi insight yang bisa memengaruhi kebiasaan tidur, olahraga, dan pemulihan.
Integrasi Google Gemini melalui fitur Raise to Talk memungkinkan pengguna mengakses bantuan berbasis suara langsung dari pergelangan tangan tanpa menghentikan aktivitas. Di atas kertas, kombinasi AI, mikrofon, dan konektivitas LTE membuka peluang skenario penggunaan yang menarik—misalnya meminta saran pola latihan atau menanyakan ringkasan statistik kesehatan saat berlari. Namun semua kecanggihan ini baru terasa sepenuhnya bila jam tangan cukup sering menempel di pergelangan tangan, bukan di atas dock pengisian.
Paradoks Smartwatch Charging Cepat: Klaim Kilat, Realita 4 Jam
Di sinilah titik lemah terbesar generasi ini: smartwatch charging cepat yang belum terasa cepat. Seharusnya, Galaxy Watch9 dan Galaxy Watch Ultra2 menawarkan pengisian baterai sekitar satu hingga satu setengah jam[SRc:249915]. Untuk ukuran 40 mm, klaim resmi menyebut sekitar 80 menit dari 0 sampai 100 persen, sedangkan ukuran 44 mm dan Ultra2 diperkirakan sekitar 90 menit untuk penuh. Dalam praktik, sejumlah pemilik awal melaporkan waktu pengisian membengkak menjadi dua, tiga, bahkan empat jam, jauh dari narasi fast charging.
Masalah utamanya tampaknya adalah kontrol temperatur yang agresif. Saat mengisi daya, jam akan cepat panas dan sistem otomatis menurunkan daya dari sekitar 5,5 W menjadi sekitar 3,5 W atau lebih rendah. Akibatnya, janji pengisian cepat berubah menjadi sesi menunggu panjang di meja kerja. Beberapa pengguna bahkan sampai menyalakan kipas meja saat mengisi daya, atau mencoba metode pendinginan ekstrem, yang jelas bukan pola pakai normal. Jika kelak dipastikan bahwa akar masalahnya ada di software atau pengaturan suhu, pembaruan firmware bisa menjadi jalan keluar—namun sampai itu terjadi, konsumen tidak punya kepastian lain selain berharap unit mereka tidak terdampak.
Haruskah Membeli Sekarang atau Menunggu?
Melihat kombinasi fitur, Galaxy Watch9 dan Ultra2 adalah paket yang menggoda bagi siapa pun yang serius dengan pemantauan kesehatan pintar: layar 3.000 nits, chipset 3nm, baterai besar, konektivitas LTE dengan eSIM, serta AI kesehatan dan Google Gemini yang siap membantu dari pergelangan tangan. Di sisi lain, laporan pengisian daya hingga empat jam membuat pengalaman sehari-hari berpotensi berantakan—terutama bagi pengguna yang ingin memantau tidur dan tidak punya banyak waktu siang hari untuk charging panjang.
Bagi early adopter yang nyaman menghadapi risiko bug generasi pertama dan rutin mengecek pembaruan software, kedua smartwatch ini tetap menarik—terutama jika AI kesehatan menjadi prioritas utama. Namun bagi pengguna yang mengutamakan kepraktisan dan keandalan, langkah paling rasional adalah menunggu: entah sampai ada pembaruan yang memperbaiki kontrol suhu dan kecepatan charging, atau sampai muncul konfirmasi jelas bahwa batch produksi berikutnya tidak lagi mengalami masalah serupa. Di tengah persaingan smartwatch yang ketat, baterai besar tidak akan berarti banyak bila pengisian dayanya membuat pengguna harus mengubah seluruh jadwal hidup.








