Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Universitas Luncurkan Program Edukasi Kesehatan Mental untuk Remaja

Universitas Luncurkan Program Edukasi Kesehatan Mental untuk Remaja
Minat|Kesehatan Mental

Edukasi kesehatan mental remaja: dari isu pribadi jadi agenda kampus

Edukasi kesehatan mental remaja adalah serangkaian upaya terstruktur untuk membantu siswa dan santri mengenali emosi, memahami tekanan psikologis, serta mengembangkan keterampilan regulasi emosi dan dukungan sosial sehingga mereka mampu menjaga kesejahteraan psikologis selama masa perkembangan yang penuh perubahan dan tantangan. Program seperti ini bukan lagi tambahan, melainkan kebutuhan pokok di sekolah dan pesantren. Kampus-kampus mulai mengambil posisi tegas: kesehatan mental bukan urusan individu yang harus dipikul diam-diam, tetapi tanggung jawab bersama yang perlu dijawab dengan program literasi mental health yang terencana. Langkah UPN Jawa Timur, UNNES, dan USM menunjukkan bahwa perguruan tinggi melihat krisis kesadaran mental di sekolah sebagai pintu masuk untuk membangun generasi muda yang lebih tahan banting secara emosional dan sosial.

UPN Jawa Timur: mengikat potensi santri dan kesehatan mental di pesantren

Langkah UPN Jawa Timur mengintegrasikan pengembangan potensi diri dan kesehatan mental di Pondok Pesantren Darunnajah Tulungagung adalah sinyal penting bahwa dunia pendidikan keagamaan tidak boleh menutup mata pada isu psikologis santri. Alih-alih hanya menekankan hafalan dan disiplin, kegiatan bertajuk “Kuatkan Mentalmu, Raih Potensimu” mengajak santri mengenali minat dan bakat, membangun kepercayaan diri, dan mengasah komunikasi sambil belajar mengelola emosi, tekanan, pola pikir positif, serta relasi sosial yang sehat. Pendekatan ini berani karena mengakui bahwa santri bisa mengalami khawatir, kegagalan, dan tekanan sebagai bagian wajar dari proses belajar, bukan aib yang harus disembunyikan. "Kesehatan mental merupakan bagian penting dari perkembangan diri" kata Reza Mehdi Fauzi, dosen pendamping UPN Jatim, sambil menekankan perlunya ruang bagi santri untuk bercerita dan mencari dukungan ketika kesulitan.

Farmasi UNNES: kader kesehatan remaja dan literasi digital anti-bullying

Di SMPN 3 Semarang, Program Studi S1 Farmasi UNNES mengambil pendekatan berbeda: mencetak kader kesehatan remaja sebagai penggerak literasi mental health berbasis digital. Delapan mahasiswa semester 5 turun langsung membentuk 12 Kader Kesehatan Remaja dari ekstrakurikuler PMR, dengan target mereka mampu menjadi peer educator di lingkungan sekolah. Pemicu program ini jelas: pentingnya kesadaran kesehatan mental dan maraknya bullying di kalangan remaja, yang selama ini sering dianggap sekadar masalah kedisiplinan, bukan luka psikologis. Melalui FGD, para kader memilih isu mental health khususnya bullying sebagai fokus gerakan, lalu menyusun presentasi dan video edukasi yang akan diunggah ke YouTube agar penyuluhan menjangkau teman sebaya secara berkelanjutan. Pendekatan digital ini menunjukkan bahwa kesadaran mental di sekolah harus mengikuti pola komunikasi remaja, bukan memaksakan ceramah satu arah yang mudah dilupakan.

Universitas Luncurkan Program Edukasi Kesehatan Mental untuk Remaja

Psikologi USM: regulasi emosi siswa sebagai keterampilan hidup, bukan teori kelas

Di SMAN 8 Semarang, tim dosen Psikologi USM membawa agenda lebih spesifik: literasi regulasi emosi siswa sebagai upaya promotif kesehatan mental remaja. Program pengabdian masyarakat ini tidak kecil—diikuti 720 siswa yang terbagi dalam empat kelas, menandakan kesediaan sekolah menjadikan kesehatan mental sebagai materi bersama, bukan konseling untuk segelintir siswa bermasalah. Alih-alih berhenti pada definisi, siswa diajak mengenali emosi, memahami pemicunya, kebutuhan di balik emosi, dan cara merespons secara sehat dalam kehidupan sehari-hari. Sri Widyawati menegaskan bahwa masa remaja sarat perubahan pribadi, akademik, keluarga, dan sosial, sehingga regulasi emosi menjadi keterampilan kunci untuk merespons situasi secara adaptif. Pendekatan edukatif dan interaktif yang mereka gunakan mengirim pesan penting: regulasi emosi bukan teori psikologi abstrak, melainkan skill yang harus dilatih seperti kemampuan akademik lain.

Mengapa kampus harus terus memimpin kesadaran mental di sekolah

Tiga inisiatif ini memperlihatkan pola yang sama: perguruan tinggi memosisikan diri sebagai penggerak awal edukasi kesehatan mental remaja, dari pesantren hingga sekolah menengah. UPN Jatim menautkan pengembangan diri dengan kesehatan mental santri, Farmasi UNNES melahirkan kader kesehatan remaja dan media digital anti-bullying, sedangkan Psikologi USM mengajarkan regulasi emosi kepada ratusan siswa sebagai bekal menghadapi dinamika remaja. Program-program ini jelas menargetkan remaja untuk membangun kesadaran dini tentang kesehatan mental dan keterampilan emosional, agar mereka tidak tumbuh dengan asumsi bahwa tekanan harus dipendam sendirian. Kesimpulannya, jika kampus konsisten membawa keilmuan psikologi dan kesehatan ke ruang kelas dan pesantren, sekolah tidak lagi menjadi tempat yang hanya menilai nilai akademik, tetapi juga kualitas kehidupan mental siswanya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!