Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

2.700 Pemimpin Digital Dunia Bahas Masa Depan AI dan Cloud di APAC

2.700 Pemimpin Digital Dunia Bahas Masa Depan AI dan Cloud di APAC
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

BATIC 2026 Bali: Konferensi Teknologi Internasional yang Menguji Kepemimpinan Digital APAC

BATIC 2026 Bali adalah konferensi teknologi internasional yang mempertemukan lebih dari 2.700 delegasi dari 760+ perusahaan di 67 negara untuk membahas masa depan AI, cloud computing, dan konektivitas sebagai fondasi transformasi digital Asia Pasifik, sekaligus membuka ribuan pertemuan bisnis terjadwal yang menjadikan kawasan ini panggung utama ambisi kepemimpinan digital regional. Konferensi ini jelas bukan sekadar agenda rutin TelkomGroup; ia tampil sebagai ujian paling konkret atas keseriusan ekosistem digital Asia Pasifik memposisikan diri sebagai pusat AI cloud APAC dan saraf konektivitas global. Dengan tema “Menyatukan Ekosistem untuk Mendorong Kemajuan yang Terhubung”, BATIC 2026 mengirim pesan tegas: tanpa kolaborasi lintas pemain global dan lokal, mimpi menjadi hub digital hanya akan berhenti di slogan. Fakta bahwa tercatat lebih dari 4.500 meeting lewat aplikasi resmi BATIC menunjukkan bahwa agenda nyata di balik panggung adalah deal, partnership, dan aliansi strategis, bukan sekadar foto bersama.

2.700 Pemimpin Digital Dunia Bahas Masa Depan AI dan Cloud di APAC

Hari Pertama: Konektivitas Sebagai Tulang Punggung Transformasi Digital Asia Pasifik

Hari pertama BATIC 2026 Bali memantapkan pesan bahwa transformasi digital Asia Pasifik akan berdiri atau tumbang di atas kualitas jaringan generasi berikutnya. Pembukaan oleh Sam Evans dari Teneo menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan sosial masa depan bertumpu pada konektivitas yang tahan banting, bukan sekadar bandwidth besar. Pidato utama Presiden Direktur Telkom Indonesia, Dian Siswarini, bertajuk “Memberdayakan Masa Depan Digital: Konektivitas, Inovasi, dan Pertumbuhan” secara terang menyambungkan jaringan canggih, otomatisasi berbasis AI, dan infrastruktur digital dengan peluang pertumbuhan baru—suatu framing yang berani karena menempatkan AI dan jaringan sebagai urat nadi ekonomi, bukan pelengkap teknologi semata. Panel investasi kabel bawah laut dan fiber, yang melibatkan pemain global dari telekomunikasi dan keuangan, memperlihatkan bahwa isu konektivitas APAC kini berada di meja boardroom, bukan hanya ruang teknis. Di sini, BATIC memaksa para pemimpin untuk mengakui bahwa tanpa investasi besar dan kolaborasi lintas ekosistem, narasi kepemimpinan digital regional akan kehilangan substansi.

Hari Kedua: Cloud dan AI Menjadi Mesin Nilai Bisnis, Bukan Sekadar Buzzword

Jika hari pertama BATIC 2026 mengukuhkan pentingnya konektivitas, hari kedua menggeser fokus ke cloud dan AI sebagai mesin nilai bisnis bagi perusahaan di APAC. Sesi pembuka Sam Evans tentang “Peran Cloud dalam Pertumbuhan Perusahaan dan Ekonomi di APAC” menegaskan bahwa AI cloud APAC bukan lagi wacana visioner, melainkan strategi pertumbuhan yang mengubah cara perusahaan membangun layanan, skala, dan keunggulan kompetitif. Fireside chat antara Herson Suindah (SM+ Holdings) dan Michael McPhail (MoraRepublic) mengenai peran data center dan konektivitas di era AI menunjukkan bahwa pusat data kini dipahami sebagai aset strategis, bukan sekadar fasilitas teknis. Toto Sugiri dari DCI Indonesia mengurai pendorong permintaan cloud di kawasan, sementara Lu Heng dari LARUS menggarisbawahi bagaimana BYOIP menjadi lapisan nilai strategis baru bagi penyedia cloud, konektivitas, dan data center. Panel eksekutif “Dari Permintaan ke Dampak: Fase Berikutnya dalam Inovasi dan Adopsi Cloud di APAC” menandai perubahan penting: diskusi bergeser dari "mengapa" ke "bagaimana" cloud dan integrasi AI diterjemahkan menjadi dampak bisnis, investasi, dan inovasi lintas ekosistem.

Side Events dan Kemitraan: Networking Serius Mengarah ke Kolaborasi Nyata

Kekuatan BATIC 2026 Bali tidak berhenti di panggung utama; rangkaian side events dan kesepakatan strategis menjadikannya arena networking yang sebetulnya adalah pabrik kolaborasi regional. Workshop TM Forum tentang Composable IT, Trustworthy AI, dan Autonomous Networks, diskusi data center berbasis AI, pembahasan ekosistem mobile dan intelligent engagement, hingga Mplify Southeast Asia Council Meeting menunjukkan bahwa isu teknis dan bisnis diurai bersama, bukan terpisah antara vendor dan operator. “BATIC adalah platform tempat seluruh ekosistem digital berkumpul untuk mengubah diskusi menjadi kolaborasi yang bermakna,” ujar CEO Telin, Abdul Rahman Ansyori—pernyataan yang tercermin nyata dalam deretan LoI dan MoU yang diteken sepanjang acara, mulai dari ekspansi konektivitas dengan PEACE hingga Manifesto Open API & Open Digital Architecture bersama TM Forum. Telin juga mengikat kemitraan strategis dengan SM+, GTI untuk proyek kapasitas BSC Fiber Pair, serta langkah eksplorasi aset di Timor-Leste bersama Mitratel. Lebih dari 4.500 pertemuan bisnis terjadwal lewat aplikasi BATIC menjadi bukti bahwa konferensi ini telah berevolusi menjadi pasar ide dan kesepakatan lintas negara yang konkret, bukan sekadar forum presentasi.

Menegaskan Posisi Sebagai Hub Digital dan Pusat Inovasi APAC

Pada level strategis, BATIC 2026 Bali adalah pernyataan ambisi kawasan APAC untuk mengokohkan diri sebagai hub digital dan pusat inovasi cloud serta AI. Pidato tingkat menteri bertajuk “Memperkuat Transformasi Digital Indonesia: Menjaga Masa Depan Digital Indonesia di Era Cloud dan AI” yang disampaikan oleh Edwin Hidayat Abdullah menggarisbawahi kebutuhan ekosistem digital yang tangguh, aman, dan inklusif yang disangga kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat. Dalam konteks kepemimpinan digital regional, BATIC menempatkan Telin dan TelkomGroup sebagai penggerak yang tidak hanya membangun jaringan dan data center, tetapi juga menenun aliansi cloud, AI, dan arsitektur digital terbuka yang akan menentukan kompetitifnya APAC ke depan. Pernyataan Abdul Rahman Ansyori bahwa industri perlu bekerja bersama di seluruh ekosistem infrastruktur, teknologi, dan bisnis untuk membangun fondasi digital yang tangguh, skalabel, dan inklusif bukan sekadar ajakan moral; itu adalah blueprint kepemimpinan digital yang memaksa pemain di kawasan untuk memilih: ikut membangun atau tertinggal. Kesimpulannya jelas—siapa pun yang ingin menjadi bagian dari garda depan transformasi digital Asia Pasifik harus menganggap BATIC bukan acara opsional, melainkan arena strategis yang menentukan posisi mereka di peta AI cloud APAC.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!