Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari West End ke Panggung Lokal: Jejak El Haq Latief

Dari West End ke Panggung Lokal: Jejak El Haq Latief
Minat|Menyanyi

Aktor musikal Indonesia yang menjadikan panggung sebagai ruang perubahan

Perjalanan karier El Haq Latief adalah kisah seorang aktor musikal Indonesia yang menapaki jalur seni pertunjukan dari produksi sekolah dan komunitas lokal, berlanjut ke pendidikan Musical Theatre di Royal Academy of Music London, hingga berdiri di West End teater dan tur The Karate Kid Musical, sembari pulang membangun ekosistem teater internasional yang memberi ruang bagi talenta muda melalui Jakarta Art House dan karya seperti Home Sweet Loan The Musical. Dalam satu kalimat, ia menggabungkan ambisi pribadi dengan misi kolektif. Alih-alih puas menjadi “bintang luar negeri”, ia memilih datang dan pergi antara London dan Jakarta untuk memastikan pintu yang ia buka tidak tertutup di belakangnya. Karier seni pertunjukan baginya bukan sekadar pencapaian individu, melainkan tanggung jawab untuk mengembalikan pengetahuan dan kesempatan kepada komunitas yang dulu mengasuhnya.

Dari West End ke Panggung Lokal: Jejak El Haq Latief

Dari komunitas teater ke Royal Academy of Music: jam terbang yang dibangun pelan-pelan

Yang membuat perjalanan El Haq relevan bagi generasi muda adalah cara ia memulai: bukan dari panggung besar, melainkan dari produksi sekolah dan komunitas seperti Jakarta Players dan Jakarta Performing Arts Community. Ia mengikuti program intensif seperti Ruang Kreatif Intensif Musikal Budaya, mempelajari bagaimana bernyanyi, menari, dan berakting menyatu dalam satu tubuh performer, bukan berdiri sendiri-sendiri. Sikapnya jelas: karier seni pertunjukan dibangun oleh banyak pengalaman kecil yang dikumpulkan tekun, bukan satu kesempatan spektakuler. Setelah sempat studi di LSPR, ia melanjutkan pendidikan Musical Theatre di Royal Academy of Music London pada 2022–2023 dengan dukungan beasiswa University of London dan Disney Theatrical Scholarship, dan lulus pada 2023. Di sana, ia memegang teguh prinsip, “When you’re acting, you have to just be. ‘Menjadi’,” sebagai fondasi akting yang jujur dan hidup.

Dari West End ke Panggung Lokal: Jejak El Haq Latief

Menembus West End teater dan The Karate Kid Musical: momentum global yang tidak melupakan akar

Lulus dari RAM bukan akhir, melainkan awal babak baru. El Haq masuk ke lingkaran teater internasional ketika bergabung dengan produksi Cabaret di West End London, memerankan Helga, salah satu penari Kit Kat Club. Dua tahun berada di produksi itu dengan sekitar 800 pertunjukan bukan sekadar angka; itu berarti disiplin harian, konsistensi energi, dan kemampuan menjaga karakter hidup malam demi malam. Momentum berlanjut saat ia bergabung sebagai bagian dari ensemble The Karate Kid The Musical dan ikut The Karate Kid UK Tour, menandai bahwa kehadirannya di panggung global bukan kebetulan sesaat, melainkan karier yang terus menanjak. Namun di tengah kecepatan jadwal tur dan persiapan pertunjukan, ia memilih kembali ke Tanah Air untuk menggarap koreografi Home Sweet Loan The Musical sebelum melanjutkan tur The Karate Kid The Musical di Kanada, menunjukkan bahwa panggung global dan lokal bisa berjalan beriringan, bukan saling meniadakan.

Dari West End ke Panggung Lokal: Jejak El Haq Latief

Jakarta Art House dan Home Sweet Loan: ketika panggung menjadi rumah bagi banyak mimpi

Keputusan El Haq mendirikan Jakarta Art House berangkat dari pengalaman pribadinya mendapat ruang belajar di berbagai komunitas. Awalnya, Jakarta Art House hanya tugas akhir skripsi di LSPR, tetapi berkembang menjadi komunitas dengan studio di Gandaria yang membuka kelas dan produksi bagi talenta baru. Di sini, seorang aktor musikal Indonesia yang sudah mencicipi teater internasional memilih menginvestasikan waktu dan tenaganya untuk menumbuhkan generasi berikutnya, bukan sibuk menjaga jarak sebagai “seniman sukses”. Dalam Home Sweet Loan The Musical, proyek kolaborasi Visinema, Indonesia Kaya, dan Jakarta Art House, ia menjadi salah satu koreografer yang bekerja bersama Kanudi. Ia menolak koreografi yang sekadar heboh; gerakan diolah dari teks, makna lagu, dan observasi kehidupan sehari-hari di MRT, TransJakarta, coffee shop, dan jalanan kota. Menurutnya, “Kalau banyak nari, itu nge-distract lagu utama dan jalan ceritanya,” sebuah sikap kreatif yang mendahulukan cerita, bukan ego koreografer.

Dari West End ke Panggung Lokal: Jejak El Haq Latief

Dari mimpi pribadi ke tanggung jawab kolektif: pelajaran bagi generasi muda

Ada alasan mengapa kisah El Haq Latief layak dibaca oleh siapa pun yang bermimpi berkarier di dunia seni pertunjukan: ia menunjukkan bahwa mimpi panggung besar bisa berjalan seiring dengan komitmen membangun ruang bagi orang lain. Selain tampil sebagai performer dan koreografer, ia sadar pentingnya perlindungan bagi pekerja seni dan berharap ekosistem bisa lebih sehat, dengan aktor yang dilindungi haknya. Perjalanannya menegaskan bahwa kesuksesan di teater internasional bukan garis akhir, melainkan kesempatan untuk kembali, berkolaborasi, dan membuka peluang baru bagi seniman lokal. Cerita ini mengundang generasi muda untuk berhenti memandang karier seni sebagai sesuatu yang glamor namun individualistis. Jam terbang dari komunitas, keberanian terus mencoba, dan keinginan berbagi ruang adalah tiga pilar yang membuat sosok seperti El Haq bukan sekadar “bintang panggung”, tetapi penanda perubahan. Pertanyaannya: ruang mana yang berani kamu masuki untuk mulai berkarya?

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!