Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ibu Hamil Lari Maraton: Aman atau Terlalu Berisiko?

Ibu Hamil Lari Maraton: Aman atau Terlalu Berisiko?
Minat|Lari

Keamanan lari bergantung pada kondisi kehamilan

Lari maraton saat hamil adalah partisipasi dalam lomba lari jarak jauh selama masa kehamilan, yang keamanannya bergantung pada kondisi medis dan kebiasaan berlari sebelum hamil. Karena itu, jawaban atas pertanyaan apakah ibu hamil lari maraton boleh dilakukan bukanlah ya atau tidak untuk semua orang. Dokter spesialis obstetri dan ginekologi Natasya Prameswari menjelaskan bahwa ibu hamil masih dapat berlari jika tidak memiliki kondisi medis yang menghalangi dan memang sudah terbiasa berlari sebelum hamil. Kehamilan bukan waktu yang tepat untuk mulai mencoba olahraga baru dengan intensitas tinggi. Riwayat kesehatan, keadaan kehamilan, dan kemungkinan komplikasi perlu dinilai sebelum memilih jenis maupun beban olahraga. Dengan kata lain, kebiasaan berlari sebelumnya bukan jaminan seseorang aman menempuh maraton. Lari jarak jauh berintensitas tinggi memerlukan pertimbangan khusus dan penilaian dokter sesuai kondisi masing-masing.

Kisah Patricia Rani memberi inspirasi, bukan resep umum

Patricia Rani berhasil menuntaskan lari 10 kilometer di JRF 2026. Pencapaian itu menunjukkan bahwa kehamilan tidak otomatis mengharuskan seseorang menghentikan seluruh aktivitas fisik. Namun, satu kisah sukses tidak dapat dijadikan bukti bahwa lomba dengan jarak atau intensitas serupa aman bagi setiap ibu hamil. Kondisi tubuh, riwayat latihan, dan keadaan kehamilan berbeda-beda; keputusan mengikuti lomba sebaiknya dibuat bersama dokter kandungan, bukan berdasarkan dorongan untuk meniru pengalaman orang lain. Aktivitas fisik kehamilan yang sesuai dapat membantu menjaga kebugaran ibu serta mendukung kesehatan ibu dan janin selama tidak ada larangan medis. Karena itu, kisah Patricia lebih tepat dibaca sebagai inspirasi untuk berdiskusi dan menyusun pilihan yang sesuai, bukan sebagai ajakan untuk mengejar garis finis dengan mengabaikan penilaian kesehatan.

Konsultasi dan penyesuaian lebih penting daripada target lomba

Bagi pelari yang sudah rutin berlari, keamanan berlari saat hamil tetap menuntut penyesuaian. Olahraga dapat meningkatkan denyut jantung dan suhu tubuh, sehingga peningkatan intensitas perlu dilakukan bertahap sambil memperhatikan kemampuan tubuh beradaptasi. Berkonsultasilah dengan dokter kandungan sebelum menentukan latihan atau mendaftar lomba; dokter dapat menilai apakah kondisi kehamilan memungkinkan aktivitas tersebut. Ibu hamil tanpa komplikasi atau kontraindikasi dianjurkan berolahraga setidaknya 150 menit dalam seminggu, yang dapat dibagi menjadi beberapa sesi sesuai kemampuan. Angka itu merupakan anjuran aktivitas fisik, bukan sasaran untuk berlatih maraton. Jika berlari tidak sesuai, pilihan lain mencakup berjalan kaki, berenang, bersepeda ringan, atau menggunakan sepeda statis. Sikap paling bijak bukan memaksakan jarak, melainkan memilih kegiatan yang cocok dengan kondisi tubuh dan arahan tenaga medis.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!