KuybeliKuybeli

Ponsel Murah Terancam Punah di Tengah Krisis Harga RAM

Ponsel Murah Terancam Punah di Tengah Krisis Harga RAM
Minat|Memilih dan Membeli Ponsel

Ponsel Murah Terancam: Ketika AI Mengejar DRAM dan Memeras Pasar Budget

Krisis harga RAM dalam konteks smartphone adalah situasi ketika biaya dan ketersediaan memori—khususnya DRAM—naik tajam karena produksi dialihkan ke server kecerdasan buatan (AI), sehingga ponsel murah terancam menghilang dari pasar atau dipaksa memotong spesifikasi penting demi bertahan pada rentang harga terjangkau.

Inti masalahnya sederhana: AI kejar DRAM jauh lebih agresif daripada kebutuhan ponsel murah. Sejumlah analis memperkirakan lebih dari 60% produksi DRAM global akan diserap server AI, membuat produsen smartphone harus berebut sisa pasokan yang terbatas. Ketika pasokan menyempit, harga memori melonjak. Laporan menunjukkan harga mobile DRAM naik lebih dari 70%, sementara NAND Flash melompat lebih dari 100% dibanding periode sebelumnya. Dalam kondisi seperti ini, kita perlu jujur: “ponsel murah terancam” bukan lagi judul sensasional, tetapi gambaran realistis dari arah industri yang memprioritaskan pusat data AI di atas kebutuhan pengguna beranggaran minim.

Ponsel Murah Terancam Punah di Tengah Krisis Harga RAM

Krisis Harga RAM: Dari Pusat Data AI ke Kantong Pengguna

Sejak 2025, industri semikonduktor mengalihkan kapasitas ke memori berperforma tinggi seperti HBM untuk GPU AI di pusat data, sehingga pasokan DRAM untuk smartphone dan PC makin terbatas. Permintaan AI yang terus meningkat mendorong produsen memori lebih memilih kontrak pusat data dengan margin tinggi dibanding pasar elektronik konsumen. Inilah akar krisis harga RAM yang kini merembet ke ponsel budget.

Dampaknya terasa brutal pada struktur biaya. Memori kini menyumbang lebih dari 20% dari total biaya produksi sebuah smartphone. Untuk ponsel ultra murah sekitar USD 99 (sekitar Rp1.600.000), RAM bisa mencapai 64% dari biaya komponen, sementara di segmen USD 100-400 (sekitar Rp1.600.000–Rp6.400.000) porsinya sekitar 59%; padahal pada kuartal ketiga 2025 hanya 32% di segmen itu. Ketika satu komponen memakan lebih dari separuh biaya, ruang untuk menawarkan smartphone budget mumpuni menyusut drastis. Vendor dihadapkan pilihan pahit: menaikkan harga atau memangkas spesifikasi inti.

Ponsel Murah Terancam Punah di Tengah Krisis Harga RAM

Smartphone Budget Hilang Perlahan: Spesifikasi Ponsel Turun demi Menyelamatkan Margin

Kenaikan biaya memori membuat perangkat di bawah USD 400 (sekitar Rp6.400.000) menjadi zona merah. Laporan menunjukkan smartphone di rentang ini mulai terkena dampak dan diprediksi menghilang perlahan dari pasar. Omdia memperkirakan penjualan smartphone di bawah angka tersebut akan turun 22% dibanding tahun lalu. Artinya, segmen smartphone murah yang selama ini menjadi tulang punggung pasar global berpotensi berubah besar-besaran, baik lewat kenaikan harga maupun spesifikasi yang dikorbankan.

Vendor ponsel pun mulai mundur pelan-pelan dari segmen low-end karena produk low-end dianggap tidak lagi menguntungkan di tengah lonjakan harga memori. Titik kritisnya berada di sekitar USD 400, di mana produsen cenderung menaikkan harga atau menghapus model tersebut dari lini produk. Untuk yang masih bertahan, trik utamanya adalah menurunkan spesifikasi ponsel: kualitas panel display dikurangi, jumlah kamera dan ukuran sensor dipangkas, serta chipset generasi lama kembali dipakai demi mengalokasikan lebih banyak biaya ke RAM. Hasilnya, ponsel Android murah dengan spesifikasi mumpuni akan semakin langka dalam beberapa tahun ke depan.

Jurang Merek Kecil vs Raksasa: AI sebagai Tiket Masuk yang Terlalu Mahal

Gelombang AI bukan hanya menggeser DRAM, tetapi juga mengubah peta persaingan merek. Persaingan AI di ponsel pintar memperlebar jurang antara pemain besar dan merek kecil, menjadikan AI semacam biaya masuk baru yang mahal. Contoh paling gamblang adalah keputusan Meizu yang mengakhiri proyek ponsel tradisional dan beralih fokus ke perangkat berbasis AI pada 2024. Itu sinyal bahwa mempertahankan model lama tanpa strategi AI semakin sulit.

Untuk disebut “serius” di era ponsel AI, produsen butuh chip terbaru, memori lebih besar, infrastruktur cloud, kemitraan model AI, dukungan software jangka panjang, dan anggaran pemasaran besar. Beban ini relatif ringan bagi raksasa dengan margin tinggi di segmen premium, tetapi mematikan bagi merek kecil yang selama ini hidup dari smartphone budget. Ketika uang dan DRAM terkonsentrasi di ponsel mahal, ruang bagi brand unik yang dulu membuat ekosistem Android lebih berwarna makin menyempit. Pengguna dengan anggaran terbatas kehilangan bukan hanya pilihan harga, tetapi juga variasi pengalaman.

Ponsel Murah Terancam Punah di Tengah Krisis Harga RAM

Apa Artinya bagi Pembeli Beranggaran Tipis dan Ke Mana Arah Pasar?

Biaya produksi smartphone diperkirakan terus naik sepanjang 2026 hingga 2027. Jika kapasitas produksi memori baru belum mampu mengejar ledakan permintaan AI, tekanan terhadap harga smartphone akan berlanjut hingga setidaknya 2027. Di sisi lain, pengapalan ponsel murah turun tajam, sementara ponsel di atas USD 400 diproyeksikan naik sekitar 5,7% tahun ini. Pasar bergeser ke atas, meninggalkan mereka yang dananya terbatas.

Bagi pembeli, konsekuensinya jelas: smartphone budget hilang pelan-pelan, atau tetap ada tetapi dengan spesifikasi ponsel turun jauh dari apa yang kita anggap standar beberapa tahun lalu. Pada akhirnya, pertanyaan pentingnya bukan lagi “ponsel murah apa yang harus saya beli?”, melainkan “apakah saya harus membeli sekarang sebelum pilihan makin menyusut?”. Selama AI kejar DRAM dan industri memprioritaskan margin tinggi, konsumen beranggaran tipis akan terus membayar harga—baik lewat uang ekstra, maupun lewat ponsel murah yang terasa usang sejak hari pertama.

Kuybeli earns a commission when you shop through our links, at no extra cost to you. Editorial content is independently selected by our team.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!