Agentic AI: Dari Eksperimen ke Tulang Punggung Operasi
Agentic AI adalah sistem kecerdasan artifisial otonom yang bukan hanya menganalisis data, tetapi juga mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan mengeksekusi tindakan end-to-end dalam alur kerja bisnis kompleks secara berulang dan adaptif, dengan tetap berada dalam rambu tata kelola manusia agar hasilnya selaras dengan tujuan dan aturan perusahaan. Pelaku bisnis kini tidak lagi puas dengan AI generatif statis; mereka menuntut Agentic AI untuk perusahaan yang sanggup mengotomasi operasi bisnis dari hulu ke hilir. Riset terbaru menunjukkan 58 persen perusahaan sudah merencanakan atau mulai mengadopsi Agentic AI dalam ekosistem bisnis mereka. Menurut Jeff Johnson dari AWS, perusahaan yang memanfaatkannya melaporkan peningkatan produktivitas hingga 84 persen dan pertumbuhan pendapatan 77 persen, jauh di atas rata-rata dampak AI konvensional. Angka ini cukup untuk mengatakan: menunda Agentic AI adalah risiko strategis, bukan lagi pilihan aman.
Tambang Emas Data: BRMS dan Efisiensi Operasi Real-time
Jika dulu tambang identik dengan alat berat dan laporan manual, kini contoh paling jelas transformasi digital Indonesia muncul dari PT Bumi Resources Minerals Tbk. yang mengadopsi sistem berbasis AI dan cloud untuk memodernisasi pengelolaan bisnisnya. Melalui implementasi SAP S/4HANA Cloud Public Edition dalam program SAP GROW, BRMS memusatkan data operasional agar dapat dipantau secara real-time. Ini bukan sekadar upgrade ERP; ini langkah menuju otomasi operasi bisnis yang terukur. Lingkungan data operasional yang terpusat meningkatkan tata kelola, transparansi, konsistensi proses, dan kualitas pengambilan keputusan. Dengan embedded AI dan proses best practice yang distandarkan, BRMS bisa menyederhanakan operasional, meningkatkan visibilitas bisnis, dan membuka jalan menuju autonomous enterprise, di mana otomatisasi cerdas mendukung pengambilan keputusan adaptif berbasis data. Pesannya jelas: tanpa fondasi digital yang terintegrasi, Agentic AI hanya akan menjadi pilot kecil, bukan pengubah permainan.

ERP Dipercepat: Agentic AI Mengubah Rumus Implementasi
Selama ini, implementasi ERP terkenal panjang, mahal, dan melelahkan bagi tim bisnis. Model delivery baru yang didorong Agentic AI mengubah kalkulasi itu. Fortude memperkenalkan model implementasi Infor CloudSuite yang menggabungkan akselerator industri, rangkaian AI agent, dan tata kelola proyek yang tetap dipimpin manusia untuk mengurangi pekerjaan berulang dan mempersingkat waktu membangun fondasi ERP siap pakai. AI agent mereka mengumpulkan dan mengorganisasi pengetahuan proyek, membuat artefak implementasi, hingga mengotomasi langkah yang bisa diulang, lalu konsultan manusia meninjau akurasi sebelum ke pelanggan. Hasilnya adalah fondasi ERP yang lebih cepat dan lebih terjangkau, tanpa mengorbankan akuntabilitas. "Dengan membawa agentic AI ke jantung delivery solusi Infor, kami mengganggu paradigma biaya implementasi," ujar Arjuna Sirinanda, CEO Fortude. Inilah contoh konkret implementasi ERP dengan AI: bukan mengganti konsultan, tetapi menghilangkan beban kerja yang membuang waktu.
Dari Asuransi ke Bank: Otomasi Tugas Kompleks, Bukan Hanya Admin
Transformasi digital Indonesia lewat Agentic AI sudah bergerak jauh melampaui chatbot. Di sektor asuransi, satu perusahaan besar membangun lebih dari 1.000 use case bisnis dengan teknologi agentic yang disebar ke enam departemen untuk membantu karyawan memahami dokumen kebijakan, membandingkan data keuangan, dan merancang alur kerja otonom. Ini contoh jelas bagaimana Agentic AI untuk perusahaan mampu menangani tugas administratif dan operasional yang kompleks, bukan sekadar menjawab pertanyaan rutin. Di perbankan digital yang melayani UMKM, modernisasi aplikasi dengan AI memangkas alur pemrosesan 30 persen dan menghemat biaya infrastruktur 25 persen, tetap taat regulasi. Artinya, otomasi operasi bisnis bukan hanya soal efisiensi, tapi juga kepatuhan dan kecepatan layanan. Pada titik ini, pertanyaannya bukan lagi “apakah proses ini bisa diotomasi?”, melainkan “mengapa proses ini belum diotomasi?”
Menuju Gelombang Berikutnya: Tata Kelola Manusia dan Agenda Bisnis
Lonjakan adopsi Agentic AI muncul karena tekanan yang saling menguatkan: kompleksitas operasional meningkat, kebutuhan analisis data cepat, dan tuntutan organisasi yang lincah serta transparan. Perusahaan membutuhkan digital core modern yang bisa menjadi dasar otomasi dan efisiensi operasi real-time, baik di tambang, pabrik, maupun kantor keuangan. Namun masa depan bukan tentang AI otonom yang berjalan tanpa pengawasan; model Fortude menegaskan pentingnya tata kelola berbasis manusia, di mana AI agent membantu tracking progres, pelaporan status, dan visibilitas risiko, sementara keputusan proyek tetap di tangan manajer. BRMS pun melengkapi teknologi dengan program manajemen perubahan—migrasi data, pelatihan berbasis peran, dan inisiatif kesiapan karyawan—serta berencana memperluas solusi ke Finance, EAM, dan HR untuk menguatkan fondasi digital jangka panjang. Kesimpulannya tegas: kombinasi Agentic AI, arsitektur cloud, dan tata kelola manusia akan membedakan perusahaan yang sekadar go digital dari yang menang dalam kompetisi berikutnya.






