Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lalita: Lompatan Teknologi AI untuk Membaca Asal Arca

Lalita: Lompatan Teknologi AI untuk Membaca Asal Arca
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

Lalita, Saat Pengenalan Wajah Artefak Masuk Ruang Riset

Lalita adalah aplikasi Lalita BRIN berbasis kecerdasan buatan yang dirancang sebagai katalog interaktif untuk teknologi AI identifikasi arca, memanfaatkan pengenalan wajah artefak dan data tiga dimensi guna membantu penelusuran asal budaya serta penelitian dan AI pelestarian warisan secara digital dalam bidang arkeologi. Badan Riset dan Inovasi Nasional memperkenalkan Lalita Interactive Catalogue dalam puncak acara IRIFair di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo sebagai teknologi pendeteksi profil arca yang mengandalkan pencocokan karakter wajah dengan basis data digital yang telah dihimpun. Langkah ini bukan sekadar demo teknologi; ini adalah pernyataan bahwa kecerdasan buatan tidak berhenti pada aplikasi komersial, melainkan mulai masuk ke ruang laboratorium, museum, dan situs arkeologi. Jika selama ini analisis arca bergantung pada mata ahli dan tumpukan arsip fisik, Lalita mencoba menghadirkan "mata kedua" yang digital, cepat, dan terstruktur.

Cara Kerja Lalita: Dari Wajah Arca ke Peta Persebaran Artefak

Inti kekuatan Lalita ada pada kemampuan pengenalan wajah artefak. Aplikasi ini menerapkan AI untuk mencari arca atau asal-usul arca dengan melihat kecocokan wajah arca yang ditemukan terhadap data yang telah dikatalogkan. Sistem bekerja dengan mencocokkan karakter wajah arca dengan data yang tersedia, sehingga peneliti dapat melihat kemungkinan hubungan antara sebuah arca dengan lokasi asal tertentu, misalnya Candi Borobudur atau Candi Sewu. Penting digarisbawahi: hasil pencocokan bukan vonis tunggal, melainkan hipotesis awal yang harus diuji lewat kajian arkeologis lebih dalam. Justru di sini nilai opini saya: AI seperti Lalita sebaiknya diposisikan sebagai rekan diskusi ilmiah, bukan hakim tunggal asal-usul artefak. Ia mengusulkan pola, sementara manusia tetap memegang keputusan interpretatif.

Data Tiga Dimensi dan Dampaknya bagi Peneliti dan Publik

Pengembangan Lalita bertumpu pada kumpulan data tiga dimensi arca yang diolah menjadi dataset untuk ditampilkan dalam aplikasi. Representasi 3D memberi gambaran objek secara lebih detail: bentuk, struktur, dan karakter fisik artefak menjadi sumber informasi yang bisa diamati berkali-kali tanpa menyentuh objek aslinya. Di era penelitian digital, ini adalah lompatan penting. Data digital tidak hanya menyimpan informasi, tetapi juga membuka kemungkinan analisis ulang ketika metode baru lahir. Lalita membantu peneliti mendokumentasikan arca lebih rapi dan terstruktur, sekaligus mempercepat proses identifikasi saat menghadapi artefak dengan asal yang belum jelas. Pandangan saya, bila akses publik kelak dibuka, arsip 3D seperti ini berpotensi mengubah cara masyarakat belajar sejarah: bukan lagi lewat foto statis di buku, tetapi lewat katalog interaktif yang dapat dieksplorasi secara daring.

Kolaborasi Arkeolog–AI dan Peluang Pelestarian Warisan

Lalita tidak lahir dari tim teknologi yang bekerja sendirian. Pengembangannya dikonsultasikan dengan arkeolog Indonesia dan museum di Belanda, sehingga konteks sejarah dan benda cagar budaya tetap menjadi rujukan utama. Kolaborasi lintas bidang ini penting: AI membutuhkan data yang bermakna, sementara arkeolog memerlukan alat bantu yang memahami konteks. Teknologi seperti Lalita berpotensi membantu kajian persebaran artefak di masa lalu, memetakan hubungan antara objek, lokasi penemuan, dan kemungkinan pergerakan masyarakat atau keterkaitan budaya. Menurut saya, di sinilah AI pelestarian warisan menemukan bentuk nyatanya: bukan sekadar mengarsipkan, tapi membantu menjawab pertanyaan sejarah yang selama ini lambat disentuh. Kecerdasan buatan menjadi mitra metodologis yang dapat menyaring pola dari kumpulan data yang terlalu besar untuk dikerjakan manual.

Masih Uji Coba, Tapi Sudah Menunjukkan Arah Baru

Meski hak cipta Lalita sudah didaftarkan dan aplikasinya dapat diakses, untuk saat ini penggunaannya masih dibatasi pada jaringan internal lembaga karena masih dalam proses uji coba dan pengembangan lebih lanjut. Tahap ini penting untuk menemukan kesalahan sistem dan menyempurnakan fitur agar sesuai kebutuhan penelitian. Saya menilai keputusan menahan akses publik sementara waktu itu tepat: teknologi AI identifikasi arca bukan mainan, melainkan alat ilmiah yang harus dapat dipertanggungjawabkan. Namun, arah yang ditunjukkan sudah jelas: Lalita memperlihatkan bahwa perkembangan kecerdasan buakan tidak hanya berkaitan dengan aplikasi umum, tetapi juga bisa diarahkan untuk mendukung bidang ilmu sejarah dan kebudayaan. Kesimpulannya, Lalita adalah sinyal bahwa ekosistem AI mulai bergeser dari sekadar mengejar klik dan iklan, menuju tugas yang lebih sunyi namun jauh lebih bernilai: memahami dan menjaga warisan budaya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!