Mengapa Membandingkan Diri di Medsos Merusak Kesehatan Mental
Membandingkan diri di media sosial adalah kebiasaan menilai nilai hidup, penampilan, dan pencapaian diri berdasarkan unggahan orang lain di platform digital, yang sering kali sudah melalui proses pemilihan, penyuntingan, dan kurasi sehingga tidak merefleksikan kondisi nyata secara utuh.
Intinya: berhenti membandingkan diri di medsos adalah langkah berani untuk menjaga kesehatan mental sosial media dan ketenangan jiwa digital. Di usia 54 tahun, Yuni Shara memilih menjalani hidup tanpa terus membandingkan dirinya dengan orang lain, terutama lewat media sosial, karena ia tahu hal itu memicu kelelahan mental yang tidak perlu. Kebiasaan membandingkan kehidupan sendiri dengan orang lain dapat membuat seseorang lelah secara mental; kesehatan mental berkaitan dengan cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika feed penuh foto sempurna dan pencapaian orang lain, dorongan untuk ikut menyetarakan diri mudah muncul. Namun alih-alih memotivasi, perbandingan sosial yang terus-menerus sering berubah menjadi racun halus yang mengikis rasa cukup dan syukur.
Pelajaran dari Yuni Shara: Stop Membandingkan, Pilih Waras
Kisah Yuni Shara adalah contoh nyata bagaimana tokoh publik bisa memilih sehat daripada tenggelam dalam standar media sosial. Ibu dua anak tersebut secara tegas menghentikan kebiasaan membanding-bandingkan kehidupan pribadinya dengan unggahan orang lain di media sosial, karena dorongan untuk terus menyetarakan diri dengan orang lain menjadi pemicu utama kelelahan mental yang tidak perlu. Ini bukan sikap pasrah, melainkan keputusan sadar: tidak menjadikan kehidupan orang lain sebagai pembanding.
Ia mengingatkan bahwa yang ditampilkan di media sosial adalah konten yang sudah dikurasi, diedit, dan dipilih yang bagus-bagus saja. Pernyataan yang layak dikutip darinya adalah: “Masyarakat kerap lupa bahwa hanya hal-hal indah saja yang ditampilkan di media sosial.” Ketika kita lupa hal ini, kita menuntut diri untuk hidup sesuai ilusi digital. Memilih berhenti membandingkan diri medsos berarti mengembalikan standar ke dalam diri: apakah hidup kita selaras dengan nilai yang kita percaya, bukan dengan apa yang tampak di gawai orang lain.
Self-Acceptance di Masa Penuaan: Menerima Tubuh yang Berubah
Self-acceptance penuaan bukan slogan manis, tetapi pekerjaan batin yang konkret: menerima kerutan, perubahan bentuk tubuh, dan pergeseran hormon sebagai bagian alami dari bertambahnya usia, tanpa terus mengeluh dan mengutuk diri. Di atas usia 50, Yuni Shara menyebut banyak hal yang secara hormonal memang dialami dan tidak bisa dipungkiri. Kerutan dan perubahan fisik lain akan muncul, dan itu harus diterima dulu agar kita tidak terus resah dan komplain.
Bagi Yuni, kemunculan kerutan di wajah maupun perubahan bentuk tubuh adalah proses alamiah yang wajib diterima dengan lapang dada. Di sinilah kesehatan mental sosial media bertemu dengan realitas penuaan: jika standar kecantikan kita dibentuk oleh foto yang sudah difilter, tubuh nyata akan selalu terasa kurang. Kunci ketenangan hidup, menurutnya, adalah rasa syukur dan keikhlasan dalam menerima realitas kondisi diri sendiri. Menerima penuaan berarti berani bilang: “Saya tidak akan memaksa tubuh saya untuk mengikuti usia orang lain atau standar digital yang tak realistis.”
Strategi Praktis Menjaga Ketenangan Jiwa Digital
Menjaga ketenangan jiwa digital tidak terjadi dengan sendirinya; perlu strategi sehari-hari yang tegas dan konsisten. Yuni Shara menunjukkan salah satu langkah kunci: putus kebiasaan membandingkan hidup dengan unggahan orang lain, terutama saat menatap layar sosial media terus-menerus. Ini terkait langsung dengan cara kita memandang diri sendiri; ketika tolok ukur diambil dari kehidupan orang lain, kesehatan mental mudah goyah.
Beberapa sikap yang bisa ditiru dari pendekatan Yuni adalah: sadar bahwa konten digital sudah melalui proses kurasi dan pengeditan, sehingga tidak menggambarkan keadaan utuh orang tersebut; berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai pembanding; membatasi konsumsi konten yang memicu rasa iri dan kurang; dan menguatkan rasa syukur atas kondisi diri saat ini. Ketika dorongan membandingkan diri medsos dikurangi, ruang batin untuk merasakan tenang, cukup, dan bersyukur akan melebar. Ini bukan sekadar tips, melainkan cara memilih hidup yang lebih waras di tengah bisingnya platform sosial.
Dampak Positif Saat Berhenti Hidup dari Perbandingan Sosial
Menghentikan kebiasaan perbandingan sosial membawa dampak nyata pada kesehatan mental. Menurut Yuni, jika memilih membandingkan terus hidup kita, terutama saat melihat sosial media terus-menerus, kita akan lelah. Kelelahan mental ini bukan hal sepele: perlahan mengikis motivasi, rasa percaya diri, hingga kemampuan menikmati hal kecil dalam hidup. Sebaliknya, ketika perbandingan dihentikan, energi emosional yang tadinya habis untuk iri, minder, dan menyesali diri bisa dialihkan menjadi syukur dan pengembangan diri.
Rahasia ketenangan jiwa yang dibagikan Yuni berpusat pada keikhlasan menerima diri dan menolak standar palsu di ruang digital. Hasilnya, ia bisa memasuki usia 54 tahun tanpa tenggelam dalam kecemasan mengejar standar penampilan atau pencapaian orang lain. Begitu perubahan fisik diterima, kita tidak akan resah dan komplain. Di sini terlihat bahwa kesehatan mental sosial media bukan mitos: dengan menghentikan membandingkan diri medsos dan mempraktikkan self-acceptance penuaan, kita memberi diri kesempatan hidup lebih tenang, cukup, dan damai, apa pun yang lewat di linimasa.






