Cinta Tidak Seimbang dan Titik Balik “Cinta Diri Sendiri”
“Cinta Diri Sendiri” adalah single terbaru Budi Doremi yang bercerita tentang perjalanan emosional seseorang ketika menyadari bahwa cinta yang ia berikan berjalan satu arah, tidak seimbang, lalu menjadikannya pelajaran untuk berhenti menyakiti diri dan mulai mencintai dirinya sendiri terlebih dahulu. Single terbaru Budi Doremi ini tidak lahir dari ruang kosong; ia resmi diperkenalkan pada Kamis (13/8) sebagai sebuah lagu tentang cinta tidak seimbang yang terasa sangat dekat dengan pengalaman banyak orang. Alih-alih sekadar menjadi lagu patah hati, Budi Doremi Cinta Diri Sendiri memotret momen ketika seseorang akhirnya berhenti bertanya, “Apa lagi yang kurang dari aku?” dan mulai bertanya, “Kenapa aku tidak melindungi diri sendiri?” Di titik itulah lagu ini terasa lebih seperti cermin daripada sekadar hiburan.

Dari Pangandaran ke Studio: Kegelisahan People Pleasing
Makna lagu Cinta Diri Sendiri tidak bisa dilepas dari proses kreatif yang panjang. Budi menulis lagu ini di Pangandaran pada 2022, ketika ia baru kembali bekerja setelah pandemi. Empat tahun kemudian, saat mendengarkannya lagi bersama tim DRM, ia merasa kisahnya masih relevan dan memutuskan merilisnya sebagai single terbaru Budi Doremi dan bagian dari EP barunya. Di baliknya tersimpan kegelisahan yang sangat personal: kecenderungan people pleasing, yaitu terlalu sibuk menyenangkan orang lain sampai lupa membuat batas untuk diri sendiri. Pola itu, menurut Budi, mudah sekali terbawa ke dalam hubungan romantis—kita memberi perhatian, pengorbanan, bahkan menaruh pusat kebahagiaan pada orang lain, tanpa sadar mengosongkan diri sendiri. Dari sini, “Cinta Diri Sendiri” berdiri bukan sebagai nasihat menggurui, melainkan pengakuan jujur seorang pencipta lagu yang pernah salah menakar dirinya dalam cinta.

Ironi “Terlalu Baik” dan Pelajaran Mencintai Diri
Secara naratif, Budi Doremi Cinta Diri Sendiri menggambarkan sosok yang mulai sadar bahwa perasaannya tidak mendapat balasan setara: hubungan hambar, pasangan pelan-pelan menjauh, lalu memilih orang lain. Di tengah kebingungan, muncul kesimpulan pahit sekaligus ironis: mungkin ia “terlalu baik”, sementara sang pasangan justru mencari sosok yang bisa membuatnya menangis dan bersedih, bukan tersenyum dan bahagia. Alih-alih meratap, Budi memilih menertawakan ironi ini lewat musik yang hangat dan ringan, bertentangan dengan tema patah hati yang dibawa. Di bagian akhir, lirik “Tak baik jika ku teruskan, ku jadikan ini pelajaran, mencintai kamu tak seperti ini, harus cinta diri sendiri” menutup kisah dengan sikap tegas: berhenti menyalahkan diri, berhenti memaksa hubungan satu arah, dan mulai menghargai diri sebagai subjek utama kebahagiaan.

Move On Versi Budi: Tahu Kapan Berjuang dan Kapan Bilang Yaudah
Makna lagu Cinta Diri Sendiri menyentuh titik sensitif yang jarang diakui: kapan usaha kita sebenarnya sudah cukup. Budi menceritakan pengalaman mempertahankan hubungan lebih lama dari yang seharusnya, meski sudah tahu banyak hal sulit dijalankan bersama. Hubungan yang dipaksakan itu pada akhirnya menyakiti, bukan menyelamatkan. Dari sana ia belajar membedakan mana yang masih layak diperjuangkan dan mana yang perlu dilepas. Pertanyaan penting bagi pendengar adalah: “Melakukan yang terbaik itu untuk siapa?” Ia menekankan bahwa hubungan semestinya bertahan karena dua orang memiliki niat dan komitmen yang sama; tanpa komitmen, perjuangan sepihak hanya menguras. Di lagu ini, kata “yaudah” bukan bentuk putus asa, melainkan tanda seseorang menerima bahwa sesuatu memang tidak berjalan, tahu kapan berhenti memperjuangkan, dan berhenti menaruh seluruh kebahagiaan pada satu sosok.
Evolusi Artistik: Dari Sekadar Enak Didengar ke Lagu yang Menyelamatkan
Rilis “Cinta Diri Sendiri” menunjukkan fase baru dalam perjalanan artistik Budi. Lagu ini menjadi bagian dari EP yang sedang ia kerjakan, dengan proses yang disebut sudah mencapai sekitar 60–70 persen. EP tersebut direncanakan berisi empat lagu yang menangkap dirinya di fase hidup sekarang: tentang keluarga, cinta diri sendiri, dan belajar menghargai diri tanpa terlalu sibuk dengan apa kata orang. Setelah sekitar 15 tahun berkarya secara profesional, cara Budi memandang karyanya ikut berubah; ia tidak hanya memikirkan lagu yang enak didengar, tetapi juga apakah lagunya berarti sesuatu bagi pendengar. Dalam konteks itu, lagu tentang cinta tidak seimbang ini terasa seperti penanda: musik pop bisa menjadi ruang refleksi dan penyembuhan emosional yang relevan. Budi tidak sedang mencoba punya jawaban untuk semua persoalan hidup, ia hanya membawa apa yang ia alami, pikirkan, dan pelajari ke dalam lagu-lagunya.






