Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Bali Menjelajahi 79 Negara: Solo Rider dan Merah Putih di Lima Benua

Dari Bali Menjelajahi 79 Negara: Solo Rider dan Merah Putih di Lima Benua
Minat|Destinasi Luar Negeri

Bukan Sekadar Touring: Makna Sebuah Perjalanan Lintas Benua

Petualangan Ida Bagus Ngurah Wijaya adalah kisah seorang petualang motor dunia yang memulai perjalanan keliling dunia pada usia 69 tahun, mengendarai sepeda motor berpelat DK seorang diri dengan membawa Bendera Merah Putih melintasi 79 negara di lima benua sejauh kurang lebih 190 ribu kilometer, menjadikannya sosok solo rider internasional yang mengubah touring menjadi misi identitas dan keberanian. Dari awal, perjalanan ini bukan proyek ego, melainkan pernyataan keras bahwa usia dan asal bukan penghalang untuk berdiri sejajar di panggung global. Saat banyak orang di usia pensiun memilih zona nyaman, Ngurah Wijaya memilih jalur gurun Namibia dan rute menantang di Norwegia, menempatkan dirinya di kategori petualangan lintas benua yang biasanya didominasi penjelajah jauh lebih muda. Keputusan itu adalah kritik diam-diam terhadap mentalitas “terlalu tua” dan sekaligus ajakan untuk melihat dunia sebagai ruang belajar tanpa batas.

Dari Bali Menjelajahi 79 Negara: Solo Rider dan Merah Putih di Lima Benua

69 Tahun Menyalakan Mesin: Ketika Usia Tak Lagi Alasan

Fakta paling mengganggu rasa nyaman dalam kisah ini adalah angka 69. Ngurah Wijaya memulai petualangan dengan sepeda motor di Indonesia pada usia tersebut, bukan ketika fisik berada di puncak dan risiko minim. Lebih menantang lagi, perjalanan luar negeri justru dimulai saat usianya sudah 73 tahun, dan ia baru menuntaskan ekspedisi dunianya di usia 75 setelah kurang lebih tujuh tahun di jalan. Pilihan ini menampar pola pikir bahwa eksplorasi ekstrem adalah hak eksklusif anak muda. Dengan latar sebagai tokoh pariwisata dan pemilik Segara Village Hotel Sanur, ia bisa saja puas dengan reputasi lokal yang mapan. Namun ia memilih keluar dari kenyamanan industri pariwisata, menjadi solo rider internasional yang menempuh sekitar 190.000 kilometer sendirian dan menegaskan satu hal: keterbatasan paling berbahaya bukan kondisi fisik, melainkan keberanian yang dipenjara oleh alasan-alasan aman.

Motor Berpelat DK dan Merah Putih sebagai Paspor Moral

Ada banyak orang yang melakukan perjalanan keliling dunia dengan motor, tetapi sedikit yang melakukannya dengan identitas sejelas Ngurah Wijaya. Sepeda motornya berpelat DK dan selalu membawa Bendera Merah Putih, menjadikan setiap kilometer sebagai promosi senyap tentang asalnya. Di jalan-jalan asing, pelat DK adalah tanda kampung halaman, sementara bendera adalah deklarasi: ia datang bukan sebagai turis anonim, tapi sebagai utusan budaya. Perjalanan itu membawa nama baik Bali karena ia konsisten mengikat Merah Putih pada kendaraannya, bahkan ketika menembus negara-negara yang rawan konflik. "Beliau telah membawa harum nama Pariwisata ... ke mata dunia," ujar Ketua NCPI Bali, menegaskan bahwa petualangan lintas benua ini sekaligus kerja promosi yang lahir dari ketulusan, bukan anggaran resmi. Di tengah dunia yang sibuk membangun citra melalui kampanye digital, ia memilih cara paling kuno: hadir secara fisik, menyapa orang-orang di perbatasan dan pom bensin.

Tantangan di Jalan dan Disiplin Persiapan Seorang Solo Rider

Romantisasi perjalanan mudah runtuh ketika ban pecah di tengah gurun atau bensin habis jauh dari pemukiman. Perjalanan solo tersebut tidak selalu berjalan mulus; Ngurah Wijaya berkali-kali menghadapi ban pecah, kehabisan bahan bakar dan berbagai gangguan di jalan, dari medan ekstrem hingga suasana negara yang rawan konflik. Inilah sisi gelap yang sering disembunyikan dalam cerita petualang motor dunia. Alih-alih bergantung pada heroisme sesaat, ia mengandalkan disiplin persiapan: menyiapkan tiga jenis sepeda motor yang berbeda untuk menyesuaikan medan, jarak tempuh dan musim. "Perjalanan dengan motor ini bisa lancar karena motivasi, keberanian dan persiapan yang baik. Itu modal utamanya," tegasnya, sambil mengakui bahwa biaya tetap bagian dari permainan. Pendekatan ini penting bagi siapa pun yang bermimpi menjadi solo rider internasional: keberanian tanpa perencanaan hanya akan menambah daftar korban, bukan menambah daftar negara yang berhasil dilintasi.

Dari Menembus Horizon ke World Solo Ride: Warisan untuk Generasi Berikutnya

Keputusan Ngurah Wijaya mengemas pengalamannya ke dalam dua buku—“Menembus Horizon” dan “World Solo Ride: Dari Bali, Membawa Merah Putih Menjelajah Dunia”—adalah langkah penting mengubah jejak pribadi menjadi referensi kolektif. Peluncuran kedua buku di Istana Taman Jepun, Denpasar, dihadiri tokoh akademik, pengusaha, pengamat budaya hingga tokoh pariwisata, menunjukkan bahwa kisah ini dibaca lebih luas daripada sekadar cerita hobi bermotor. Putu Suasta dan Sugi Lanus menyebut perjalanan ini sebagai bentuk "melepaskan kemelekatan" dan bahkan Dharma Yatra era modern, sebuah perjalanan ideologis yang menuntut kesiapan menghadapi kemungkinan apa pun, termasuk kematian. Suasta berharap kisah ini menginspirasi anak-anak muda Bali berani keluar batas, melakukan misi dengan semangat Sanatana Dharma. Di ujung cerita, warisan terbesar dari petualangan lintas benua ini bukan jumlah negara, melainkan keberanian memaknai perjalanan sebagai pengabdian: pada diri sendiri, pada kampung halaman, dan pada generasi yang akan datang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!