Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tari Zapin Menuju UNESCO: Kolaborasi Empat Negeri Melayu

Tari Zapin Menuju UNESCO: Kolaborasi Empat Negeri Melayu
Minat|Destinasi Luar Negeri

Mengapa Nominasi Tari Zapin ke UNESCO Adalah Langkah Politik Budaya

Tari zapin UNESCO merujuk pada upaya empat negara Melayu mengusulkan zapin, seni tari tradisional berakar pada komunitas Melayu, ke daftar warisan budaya takbenda manusia UNESCO melalui nominasi multinasional yang diharapkan mengakui nilai historis, sosial, dan spiritualnya bagi kawasan Asia Tenggara. Langkah ini jauh dari sekadar formalitas administratif; ia adalah pernyataan politik budaya bahwa identitas Melayu tidak terkurung dalam garis batas negara. Indonesia bersama Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura resmi mengambil langkah bersama mengusulkan tari zapin sebagai Warisan Budaya Takbenda Manusia ke UNESCO. Pengajuan bersama yang diumumkan oleh Dewan Warisan Nasional Singapura pada 24 September menandai momen ketika zapin diakui sebagai milik kolektif, bukan komoditas yang harus diperebutkan. Ini jawaban tajam terhadap narasi sempit yang sering memecah warisan serumpun menjadi klaim-klaim nasional yang saling berhadapan.

Kolaborasi Negara Melayu: Dari Diskusi Internasional ke Berkas Nominasi

Pengajuan multinasional ini lahir dari diskusi internasional yang melihat zapin sebagai bentuk seni yang berakar kuat di Asia Tenggara dan berkembang melintasi batas wilayah. Dewan warisan Singapura menegaskan bahwa berkas pencalonan ditargetkan rampung dan diserahkan ke UNESCO pada Maret 2027, dengan hasil evaluasi yang diperkirakan keluar dalam dua hingga tiga tahun setelah pengajuan. Hingga Desember 2025, sudah ada 716 unsur dalam daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Manusia; jika zapin lolos, ia akan masuk ke jajaran penting itu. Menariknya, ini kali pertama Singapura mengajukan nominasi bersama untuk bentuk seni pertunjukan dan sekaligus menjadi nominasi keempat bagi daftar UNESCO. Secara politis, kolaborasi negara Melayu ini menggeser fokus dari "siapa pemilik" menuju "siapa penjaga". Kerja sama ini membuka ruang koordinasi lintas negara dalam dokumentasi praktik zapin, penyusunan FGD, hingga perumusan strategi pelestarian yang tidak terputus oleh perbedaan regulasi nasional.

Zapin sebagai Inti Identitas Melayu, Bukan Sekadar Pertunjukan

Bagi banyak komunitas, zapin bukan hiasan festival, melainkan bahasa tubuh identitas Melayu. Di berbagai daerah, zapin berkembang sebagai bagian dari tradisi seni Melayu dengan gerak kaki dinamis dan iringan musik ceria yang mengisi perayaan dan ritus sosial. Nominasi ini secara eksplisit menegaskan signifikansi budaya zapin bagi masyarakat di Singapura dan seluruh kawasan, bukan hanya sebagai tontonan panggung. Dalam perjalanannya, zapin terus beradaptasi dan melahirkan beragam varian lokal seperti Zapin Asyik, Zapin Telok Blangah, dan Zapin Sungei Kallang, yang merekam sejarah komunitas setempat. Justru keragaman gaya inilah yang menunjukkan bahwa sebuah warisan budaya takbenda dapat hidup dan berubah tanpa kehilangan akarnya. Ketika tarian yang sama menyeberangi empat negeri, klaim tunggal atas asal-usul menjadi kurang relevan dibanding komitmen bersama untuk menjaga makna dan praktiknya di tengah modernisasi yang sering menomorduakan seni tradisional.

Pelestarian Seni Tradisional: Dari Generasi ke Generasi, Menembus Turisme

Inti penting dari nominasi tari zapin UNESCO adalah pelestarian seni tradisional melalui komunitas, bukan sekadar sertifikat dari lembaga internasional. Di keempat negara, komunitas praktisi zapin yang berkembang pesat terus mementaskan dan mewariskan seni pertunjukan ini dari generasi ke generasi. Menurut pernyataan resmi, nominasi ini diharapkan menginspirasi generasi baru praktisi untuk melestarikan zapin sebagai bagian dari warisan budaya hidup sekaligus mendorong masyarakat untuk mengeksplorasi tradisinya yang kaya. Koreografer Zapin Telok Blangah menilai pengakuan UNESCO dapat membuka ruang luas bagi pengembangan zapin di masa depan, yang selama ini dijaga lewat kerja sama komunitas antarnegara. Seniman lain optimistis bahwa pengakuan itu akan memperluas apresiasi publik dan memikat generasi muda untuk terlibat. Jika diolah serius, pengakuan UNESCO juga dapat menjadi daya tarik wisata budaya, tetapi harus dipastikan bahwa turisme hadir sebagai penopang, bukan pengendali arah perkembangan zapin.

Apa yang Terjadi Setelah Nominasi: Tantangan di Balik Pengakuan Global

Setelah berkas dikirim ke UNESCO pada Maret 2027, proses evaluasi selama dua hingga tiga tahun akan menilai bukan hanya keunikan zapin, tetapi juga sejauh mana pelestarian seni tradisional ini ditopang oleh komunitas, kebijakan, dan pendidikan. Dalam proses itu, UNESCO bersama pihak terkait akan menggelar diskusi kelompok terfokus untuk menghimpun pandangan pemangku kepentingan mengenai nilai budaya dan strategi pelestariannya. Dokumen pendaftaran menyoroti upaya dokumentasi praktik zapin dan keterlibatan aktif generasi muda, sebuah indikator apakah zapin dikembangkan sebagai warisan hidup, bukan artefak mati. Di sisi lain, keempat negeri Melayu sedang menunggu hasil nominasi lain seperti Chingay, yang menjadi ujian bagaimana kerja sama budaya lintas negara dibaca oleh UNESCO. Kesimpulannya, nominasi zapin akan bernilai hanya jika ia memaksa pemerintah dan komunitas menyelaraskan kebijakan, pendidikan, dan ruang tampil agar zapin tetap menari dalam kehidupan sehari-hari, bukan berhenti di daftar panjang 716 unsur warisan budaya takbenda.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!