Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pelatihan AI Etis untuk Kreator Konten Melawan Disinformasi

Pelatihan AI Etis untuk Kreator Konten Melawan Disinformasi
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

AI mempercepat produksi, tetapi menuntut tanggung jawab

Pelatihan AI etis adalah pembekalan praktis bagi kreator konten digital agar dapat memakai kecerdasan buatan secara bertanggung jawab, memeriksa informasi, dan menjaga kepercayaan audiens. Pada Kamis, 23 Oktober 2026, UNESCO dan Mata Media Nusantara mengadakan pelatihan bagi 30 kreator konten dan perwakilan media dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Jawa Barat, serta Jabodetabek. Kegiatan ini berlangsung dalam rangkaian Local Media Summit dan Pekan Literasi Media dan Informasi Global. Langkah ini tepat waktu: AI dapat meringankan proses kreatif, tetapi juga memperbesar risiko disinformasi jika keluaran teknologi dibagikan tanpa pemeriksaan. Karena kreator kini ikut membentuk opini publik, kecepatan membuat konten tidak boleh mengalahkan akurasi. Nilai pelatihan ini bukan pada ajakan memakai AI sebanyak mungkin, melainkan pada penegasan bahwa teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti penilaian dan tanggung jawab manusia.

Pelatihan AI Etis untuk Kreator Konten Melawan Disinformasi

Verifikasi harus menjadi bagian dari proses kreatif

Pelatihan berfokus pada produksi konten tepercaya dan penggunaan AI yang etis, dengan latihan praktis dari Super Creators Toolkit UNESCO. Peserta mempelajari metode SIFT: berhenti sejenak, menyelidiki sumber, mencari liputan yang lebih baik, lalu menelusuri klaim, kutipan, dan media ke konteks asalnya. Urutan ini penting karena konten yang tampak meyakinkan belum tentu benar; kreator perlu memeriksa sumber sebelum meneruskan informasi kepada audiens. Direktur Kantor Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, mengingatkan, “Kreator konten perlu memiliki keterampilan untuk mempertanyakan apa yang mereka lihat, memverifikasi informasi, dan mengambil keputusan yang terinformasi mengenai apa yang mereka bagikan”. Pesan tersebut seharusnya menjadi standar kerja, bukan sekadar materi lokakarya. AI dapat membantu merancang atau mengolah konten, tetapi keputusan untuk mengedarkan klaim tetap harus didasarkan pada bukti.

Kolaborasi media lokal memperkuat kepercayaan publik

Upaya tangkal disinformasi tidak cukup dibebankan kepada satu kreator atau satu redaksi. Pelatihan ini mendorong kolaborasi berkelanjutan antara komunitas kreator dan media lokal Indonesia: media dapat menyumbang pelaporan, penelitian, serta verifikasi fakta, sementara kreator menyajikan informasi dalam format yang lebih mudah diakses dan relevan bagi audiens digital. Pembagian peran ini masuk akal, sebab jurnalisme lokal memiliki disiplin pemeriksaan, sedangkan kreator memahami cara bercerita di platform digital. Jika kerja sama berlanjut, masyarakat berpeluang menerima informasi yang lebih jelas tanpa kehilangan ketelitian. Direktur Utama Mata Media Nusantara, Suwarjono, menekankan bahwa verifikasi dan standar etika penting untuk menjaga kepercayaan publik serta mendukung masyarakat yang terinformasi dan demokratis. Pelatihan 30 peserta ini bukan jawaban akhir atas arus informasi palsu. Namun, dampaknya akan terasa jika keterampilan yang dipelajari diterapkan konsisten dan kolaborasi tersebut terus berjalan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!