Hilirisasi harus menyambungkan seluruh rantai
Rantai pasok nikel adalah rangkaian kegiatan yang menghubungkan pertambangan, pengolahan bahan baku baterai, produksi baterai, hingga manufaktur kendaraan listrik, sehingga nilai tambah dapat dibangun di sepanjang prosesnya. Tanpa hubungan antartahap itu, pertumbuhan kapasitas pengolahan belum tentu memperkuat industri di dalam negeri. Peneliti utama BRIN sekaligus pendiri NBRI, Evvy Kartini, menyatakan pasokan nikel domestik belum terintegrasi dengan kebutuhan pabrik baterai yang beroperasi di dalam negeri. Artinya, persoalannya bukan semata ketersediaan bahan tambang atau fasilitas, melainkan apakah bahan hasil tambang benar-benar bergerak menuju produsen baterai dan kendaraan. Pemerintah perlu memastikan sebagian nikel yang diekspor dapat diproses menjadi material baterai di dalam negeri, lalu dipasok ke pabrik nasional. Inilah ukuran yang lebih berarti bagi hilirisasi: bukan hanya seberapa banyak yang diolah, tetapi seberapa utuh hubungan antara pemasok, pengolah, dan pembuat produk akhir.
Langkah berikutnya adalah produk akhir
Pada 29 Oktober 2026, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mendorong hilirisasi nikel melampaui smelter dan produk setengah jadi, menuju bahan baku baterai, sel baterai, dan baja nirkarat siap pakai. Arah ini tepat: jika kebijakan hanya menambah pengolahan awal, nilai ekonomi dan kemampuan teknologi pada tahap lanjutan berisiko tumbuh di tempat lain. Produksi baterai EV karena itu perlu dipandang sebagai mata rantai industri, bukan proyek yang berdiri sendiri. Bahlil menyatakan sekitar 50–60 persen kapasitas smelter nikel masih menghasilkan produk antara. Angka tersebut menegaskan mengapa pembangunan fasilitas baru saja bukan jawaban. Investasi harus disertai jalur yang jelas dari bahan hasil pengolahan menuju baterai kendaraan listrik, lalu menuju manufaktur kendaraan. Jika tidak, ambisi produk akhir hanya menjadi sasaran kebijakan tanpa hubungan produksi yang cukup kuat untuk mewujudkannya.
Pembatasan smelter mesti diikuti industri lanjutan
Pemerintah mengkaji pembatasan pembangunan smelter baru yang hanya menghasilkan bahan setengah jadi, sebagai cara mengarahkan investasi ke pengolahan bernilai tambah lebih tinggi. Kebijakan ini masuk akal bila disertai dukungan untuk tahapan yang lebih hilir; jika tidak, pembatasan dapat memperlambat kapasitas tanpa otomatis menciptakan industri produk akhir. Tantangannya nyata: teknologi, pasokan energi, ketersediaan cadangan mineral, dan pasar penyerap harus dipertimbangkan dalam menentukan arah investasi. Ekspor nikel beserta produk turunannya meningkat dari USD3,3 miliar pada 2017 menjadi USD33,9 miliar pada 2024, tetapi angka ekspor saja tidak menunjukkan apakah rantai produksi nasional telah tersambung. Keberhasilan kebijakan seharusnya dinilai dari kemampuan mengubah bahan antara menjadi produk akhir, bukan dari bertambahnya jumlah smelter semata.
Baterai perlu terhubung ke kendaraan dan daur ulang
Pabrik baterai tidak boleh menjadi ujung baru yang terpisah dari manufaktur kendaraan listrik. Pengembangan baterai berbasis nikel perlu diikuti peningkatan produksi kendaraan listrik di dalam negeri agar keterkaitan industri hulu dan hilir semakin kuat. Saat ini, ketergantungan pada kendaraan listrik impor menjadi pengingat bahwa produksi baterai saja belum menjamin terbentuknya ekosistem manufaktur yang utuh. Pemerintah juga perlu memasukkan daur ulang baterai ke dalam rancangan rantai pasok, sehingga material yang terkandung di dalamnya dapat digunakan kembali. Dengan demikian, sasaran hilirisasi bukan sekadar menghasilkan baterai kendaraan listrik, melainkan membangun keterhubungan dari tambang ke kendaraan dan kembali ke pemanfaatan material. Tanpa langkah-langkah itu, nilai tambah akan tetap tersebar dan kemampuan industri nasional sulit berkembang seiring besarnya sumber daya nikel.






