Si Mungil Labubu dan Si Cengeng Crybaby, Sampai Kapan Tren Ini Bertahan?

sumber gambar: David Kristianto via unsplash
Fenomena art toy dari POP MART, khususnya Labubu dan Crybaby, telah menciptakan gelombang besar di Asia, bahkan meluas ke pasar global. Boneka plush dari karakter-karakter unik ini, yang sering dirilis dalam konsep blind box, dengan cepat menjadi barang koleksi yang sangat dicari. Kamu mungkin pernah melihat Labubu dalam seri The Monsters atau Crybaby dengan air matanya yang khas, mendominasi unggahan media sosial. Pertanyaannya, apakah daya tarik magnetis ini akan tetap kuat seiring berjalannya waktu? Mengingat siklus tren yang cepat, mari kita telisik posisi Labubu dan Crybaby di tahun 2026.
Key Trend: Dari Mainan Hobi Menjadi Investasi Sosial
Di tahun 2026, popularitas Labubu dan Crybaby diprediksi telah bertransformasi. Tren utamanya bergeser dari sekadar koleksi hobi menjadi investasi sosial dan ekspresi identitas. Kelangkaan (terutama untuk edisi limited atau secret) mendorong nilai jual kembali (resale value) yang tinggi. Selain itu, memiliki plush ini menjadi statement di kalangan tertentu. Mereka bukan hanya dipajang, tetapi juga dibawa bepergian, difoto, dan diunggah. Aktivitas "berburu" blind box kini menjadi momen komunal, menciptakan ikatan dan sense of belonging di antara para kolektor.
Mengapa Hal Tersebut Terjadi, Efek FOMO dan Desain yang Terus Berinovasi
Dua faktor utama menjadi pendorongnya. Pertama, strategi pemasaran yang berbasis keterbatasan dan kejutan. Konsep blind box secara efektif memicu Fear of Missing Out (FOMO) dan menciptakan excitement saat membuka. Kedua, desain karakter yang terus berinovasi melalui kolaborasi dan seri musiman. Baik Kasing Lung (pencipta Labubu) maupun Molly (pencipta Crybaby) secara konsisten merilis varian baru yang segar, mencegah kejenuhan pasar. Misalnya, Labubu edisi macaron yang viral menunjukkan bagaimana variasi warna dan tekstur sederhana dapat menghidupkan kembali minat publik secara instan.
sumber gambar: hapabapa via iStock
Pengaruhnya Terhadap Industri Terkait, Kolaborasi Lintas Batas dan Peningkatan Art Toy Lokal
Dampak terhadap industri sangat signifikan. Sektor ritel melihat peningkatan drastis dalam permintaan art toy secara umum, membuka jalan bagi desainer lokal untuk menonjolkan karya mereka. Selain itu, Labubu dan Crybaby telah menjadi platform kolaborasi lintas industri. Mereka muncul di kemasan makanan, produk fashion, hingga game seluler. Hal ini membuktikan bahwa karakter art toy kini memiliki kekuatan brand setara dengan franchise besar. Di tahun 2026, kita mungkin melihat lebih banyak crossover yang mengejutkan, semakin memperluas jangkauan pasar mereka.
Prediksi Kedepannya, Ekspansi Digital dan Koleksi yang Lebih Personal
Di masa mendatang, Labubu dan Crybaby tidak hanya akan eksis di dunia fisik. Ekspansi ke ranah digital seperti Non-Fungible Token (NFT) atau metaverse adalah langkah logis berikutnya. Untuk menjaga daya tarik, brand ini perlu menekankan koleksi yang lebih personal dan interactive, mungkin memungkinkan customization atau alur cerita yang berkembang. Labubu & Crybaby terbukti bukan tren sesaat, melainkan fenomena budaya. Selama perusahaan di baliknya terus merespons permintaan pasar dan menjaga kualitas desainnya, plush menggemaskan ini diperkirakan akan tetap menjadi ikon budaya pop yang diminati hingga 2026 dan seterusnya!






