Nostalgia Mahal atau Gratis? Membongkar Status Hukum ROM Game yang Diunduh di Internet

sumber gambar: cottonbro studio via pexels
Siapa yang tidak suka merasakan lagi keseruan bermain Super Mario Bros. atau Pokémon di handheld modern? Perangkat seperti Anbernic dan Retroid Pocket menawarkan surga portabel, memungkinkan kita membawa ribuan game lawas dalam satu genggaman. Namun, ada satu pertanyaan besar yang seringkali disembunyikan di balik layar flashy perangkat ini: bagaimana dengan legalitas dan etika di baliknya?
Saat kita berbicara tentang emulasi, kita memisahkan dua komponen utama: Emulator dan ROM/ISO (salinan digital dari cartridge atau disc game).
Emulator: Perangkat Lunak yang Aman
Secara umum, Emulator itu legal. Emulator hanyalah sebuah software yang meniru fungsionalitas perangkat keras aslinya (misalnya, meniru Nintendo 64 atau PlayStation 1). Hukum di banyak negara, termasuk Amerika Serikat (melalui keputusan kasus Sony vs. Connectix), telah menetapkan bahwa pengembangan dan distribusi emulator hanya meniru fungsionalitas perangkat keras, sehingga tidak melanggar hak cipta. Jadi, saat mengunduh emulator di HP atau laptop, itu bukan masalah.
ROM: Di Sini Batasannya Ada
sumber gambar: Renata Angerami via iStock
Masalah muncul pada ROM atau file game-nya. ROM adalah salinan data dari software game yang dilindungi hak cipta. Mengunduh ROM dari internet, tanpa memiliki salinan fisik game tersebut, secara teknis adalah ilegal dan termasuk pembajakan.
Ada satu pengecualian legal yang sering dijadikan acuan: melakukan dump atau menyalin ROM dari cartridge yang dimiliki sendiri. Artinya, jika seseorang memiliki cartridge fisik Final Fantasy VII untuk PS1, menyalin data itu menjadi ISO untuk dimainkan di emulatornya sendiri, adalah praktik yang dapat diterima secara hukum (meskipun ini juga masih diperdebatkan di beberapa yurisdiksi). Begitu ROM itu dibagikan ke internet, statusnya langsung menjadi ilegal.
Pelestarian vs. Pembajakan
Lalu, mengapa emulasi tetap hidup? Karena emulasi memiliki peran penting dalam pelestarian game. Banyak game klasik, terutama yang dirilis sebelum tahun 2000, kini tidak lagi dijual atau dimainkan di perangkat aslinya karena hardware telah rusak. Emulator menjadi satu-satunya cara bagi sejarah game ini untuk bertahan.
Sebagai calon pengguna, keputusan ada di tangan. Perangkat handheld retro adalah alat hebat untuk nostalgia. Namun, etika menuntut kita untuk menghargai karya pencipta game. Jika memungkinkan, dukunglah developer dengan membeli game remaster resmi atau setidaknya memahami bahwa file ROM yang diunduh dari internet memiliki status hukum yang abu-abu.
Sumber Informasi Utama: Keputusan kasus Sony Computer Entertainment, Inc. v. Connectix Corporation (2000) yang sering dijadikan rujukan legalitas emulator.




