Membongkar Rahasia Desain Ergonomi Kursi Sholat yang Aman & Nyaman Bagi Penderita Osteoarthritis

sumber gambar: Çağlar Çarkacı via pexels
Niat tulus beribadah seharusnya tidak terhalang oleh rasa sakit, terutama di area lutut dan punggung. Bagi banyak orang, khususnya para lansia dan mereka yang memiliki masalah persendian, menunaikan salat dengan duduk adalah sebuah kebutuhan. Namun, kursi salat yang tidak tepat justru bisa menimbulkan masalah baru. Kunci utamanya ada pada ergonomi gerakan salat.
Saat beribadah, ada dua gerakan inti yang harus diakomodasi oleh kursi: rukuk dan sujud.
Ketinggian Duduk yang Ideal
Banyak kursi lipat biasa memiliki ketinggian yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Menurut studi tentang desain kursi salat, ketinggian duduk yang ideal harus memungkinkan paha sejajar dengan lantai dan lutut membentuk sudut 90 derajat. Jika terlalu rendah, pinggul akan tertekan dan sulit untuk bangkit. Jika terlalu tinggi, kaki tidak menapak sempurna, menyebabkan tubuh tidak stabil. Para ahli kesehatan menganjurkan, untuk mayoritas orang dewasa, ketinggian permukaan duduk sekitar 45–50 cm dari lantai adalah titik awal yang baik.
Sudut Sandaran dan Stabilitas
Saat rukuk, tubuh cenderung sedikit maju ke depan. Kursi yang baik harus memiliki sandaran yang dapat menopang punggung bawah tanpa memaksa badan terlalu tegak kaku. Stabilitas kursi juga mutlak. Jangan sampai kursi bergoyang saat tubuh bergerak maju atau saat tangan menekan sandaran untuk membantu berdiri. Kursi yang dirancang dengan dasar lebih lebar (struktur H-Frame atau A-Frame) jauh lebih stabil daripada kursi biasa.
Peran Sandaran Tangan saat Sujud dan Bangkit
sumber gambar: Mawaddah Fauziah via iStock
Inilah fitur yang sering diabaikan: sandaran tangan. Dalam kondisi fisik yang lemah, sandaran tangan menjadi tumpuan utama untuk bangkit dari posisi duduk (misalnya, setelah tahiyat). Ketinggian sandaran tangan harus pas, tidak terlalu rendah sehingga memaksa badan membungkuk terlalu jauh, dan tidak terlalu tinggi sehingga bahu terangkat. Sandaran tangan yang ergonomis membantu menjaga netralitas tulang belakang selama proses bangkit dan duduk kembali, meminimalkan tekanan pada lutut.
Memilih kursi salat berarti memilih alat bantu yang menjaga kualitas ibadah. Pastikan kursi yang dipilih benar-benar mempertimbangkan gerakan tubuh saat salat, bukan sekadar kursi lipat biasa. Dengan desain yang tepat, beribadah menjadi lebih nyaman, tenang, dan Insya Allah, lebih khusyuk.
Sumber Informasi dan Referensi Kesehatan:
- Untuk referensi ergonomi gerakan salat, konsep ini sering dibahas dalam studi desain produk untuk lansia atau orang berkebutuhan khusus, serta saran dari ahli fisioterapi. (Disarankan untuk menautkan ke sumber otoritas kesehatan atau penelitian desain produk terkait stabilitas dan tinggi kursi).






