"BMI Normal" Bukan Berarti Sehat Total, Pahami Batasan Kalkulator BMI!

sumber gambar: Moe Magners via pexels
BMI atau Body Mass Index. Siapa yang tidak kenal? Begitu memasukkan berat dan tinggi badan ke kalkulator BMI online, dalam sekejap muncul kategori: BMI normal, overweight, atau obesitas. Angka ini seringkali membuat hati berdebar. Tapi, tunggu dulu. Penting untuk memahami apa sebenarnya angka BMI ini dan apa batasannya.
Bayangkan BMI sebagai lampu indikator di dasbor mobil. Ketika lampu itu menyala, itu artinya ada sesuatu yang perlu diperiksa lebih lanjut. Lampu itu bukan diagnosis kerusakan mesin secara spesifik—itu hanya alarm yang meminta perhatian. Begitu pula BMI. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat dan banyak otoritas kesehatan lain sepakat bahwa BMI berfungsi sebagai alat screening yang cepat, mudah, dan murah untuk mengidentifikasi potensi risiko kesehatan di populasi besar, bukan alat diagnosis penyakit (CDC, NIH).
BMI adalah rasio sederhana antara berat badan dan kuadrat tinggi badan. Jika hasilnya menunjukkan BMI ideal atau normal, itu indikasi awal yang baik. Namun, jika hasilnya overweight atau obesitas, ini adalah trigger untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam.
Di sinilah letak kesalahpahaman terbesarnya. BMI hanya berfokus pada berat total, tidak bisa membedakan mana berat yang berasal dari otot, mana yang dari lemak, dan mana yang dari tulang (American Cancer Society, Cleveland Clinic).
Pernah melihat atlet yang sangat bugar, penuh otot, tapi punya BMI di kategori overweight atau bahkan obesitas? Ini karena otot jauh lebih padat daripada lemak. Berat badan totalnya tinggi, membuat kalkulator BMI salah menempatkannya. Di sisi lain, ada orang yang memiliki BMI normal tetapi menyimpan banyak lemak di area perut—lemak visceral yang sangat berbahaya. Kondisi ini disebut TOFI (Thin Outside, Fat Inside) dan berisiko tinggi terhadap penyakit metabolik (PubMed, seca).
Intinya, jangan biarkan angka BMI menjadi vonis akhir. Gunakan angka BMI normal atau kategori lainnya sebagai pintu masuk untuk dialog lebih lanjut dengan penyedia layanan kesehatan. Angka ini hanyalah peta awal. Diagnosis kesehatan yang sebenarnya harus selalu dilengkapi dengan analisis komposisi tubuh, lingkar pinggang, tekanan darah, dan pemeriksaan lab lainnya (CDC, NHS).
Gunakan kalkulator BMI sebagai alat pemantau konsisten untuk melihat tren dari waktu ke waktu. Jika angka terus naik, itulah saatnya melakukan koreksi gaya hidup. BMI adalah alat pemantau yang hebat, asalkan dipahami sebagai permulaan, bukan akhir dari cerita kesehatan diri.
Sumber Referensi:
-
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). About Body Mass Index (BMI). [Mendukung: BMI adalah alat screening, bukan diagnosis; harus dilihat bersama faktor lain; tidak membedakan otot/lemak].
-
National Institutes of Health (NIH) / PMC. Skeletal Muscle Should Not Be Overlooked. [Mendukung: Keterbatasan BMI dalam membedakan massa otot dan massa lemak].
-
American Cancer Society (ACS). Body Mass Index (BMI) Calculator. [Mendukung: BMI adalah alat, tidak menceritakan keseluruhan kisah; atlet berotot bisa memiliki BMI tinggi].
-
National Health Service (NHS), UK. Obesity. [Mendukung: BMI memiliki batasan; pentingnya rasio pinggang-tinggi sebagai tambahan].
-
Cleveland Clinic. BMI (Body Mass Index): What It Is & How To Calculate. [Mendukung: Batasan BMI; tidak membedakan massa tubuh tanpa lemak dan massa lemak].
-
PubMed / European Journal of Clinical Nutrition. TOFI phenotype – its effect on the occurrence of diabetes. [Mendukung: Konsep TOFI (Thin Outside, Fat Inside) dan risiko metaboliknya].
-
seca. TOFI – Thin On The Outside, Fat On The Inside? [Mendukung: Penjelasan TOFI dan lemak visceral].




