Bukan Tanda Lemah! Pahami Kenapa Stigma Alat Bantu Dengar Itu Keliru

sumber gambar: Mark Paton via unsplash
Ketika ada masalah penglihatan, memakai kacamata terasa normal, bahkan bisa jadi fashion statement. Namun, saat bicara soal pendengaran, menggunakan alat bantu dengar seringkali terasa seperti aib yang harus disembunyikan.
Padahal, gangguan pendengaran adalah kondisi kesehatan yang sangat umum, dan alat bantu dengar adalah solusinya. Mengapa stigma ini begitu kuat dan apa dampaknya pada kita?
Stigma Usia: Mitos Paling Tua
Stigma terbesar yang melekat pada alat bantu dengar adalah anggapan bahwa perangkat itu hanya untuk orang yang "terlalu tua."
Faktanya, gangguan pendengaran tidak mengenal usia. Banyak anak muda dan dewasa produktif mengalami masalah pendengaran akibat kebisingan, genetika, atau kondisi medis lainnya. Namun, karena takut dicap tua atau lemah, banyak yang memilih untuk menunda penggunaan alat bantu dengar, bahkan hingga rata-rata tujuh tahun setelah menyadari masalah.
Penundaan ini fatal. Selain memicu isolasi sosial, penelitian menunjukkan gangguan pendengaran yang tidak diobati berhubungan erat dengan penurunan fungsi kognitif.
Desain Baru: Dari Sembunyi Menjadi Ekspresi
sumber gambar: adamkaz via iStock
Di masa lalu, alat bantu dengar memang besar dan mencolok, menambah kesan 'keterbatasan'. Hari ini, teknologi telah bergeser drastis.
Alat bantu dengar modern hadir dalam desain super kecil yang hampir tidak terlihat (Invisible-in-Canal), atau justru sengaja dirancang menonjol dengan warna-warna keren (Receiver-in-Canal). Pergeseran desain ini mencerminkan perubahan budaya, dari upaya menyembunyikan kondisi menjadi penerimaan dan bahkan perayaan identitas.
Saatnya Mengubah Cara Pandang
Intinya, alat bantu dengar adalah jembatan menuju komunikasi yang lebih baik, bukan simbol kelemahan.
Seperti halnya kacamata membantu melihat dunia dengan jelas, alat bantu dengar memungkinkan otak kita menerima informasi suara secara utuh. Jika menggunakan kacamata itu wajar, seharusnya menggunakan alat bantu dengar juga sama wajarnya.
Mengatasi stigma dimulai dari diri sendiri. Dengan berani mengakui kebutuhan dan menggunakan alat bantu dengar, setiap pengguna tidak hanya meningkatkan kualitas hidupnya sendiri, tetapi juga membantu menghilangkan stigma bagi orang lain yang sedang bergumul dengan keputusan yang sama. Kesehatan pendengaran adalah prioritas, dan tidak ada alasan untuk merasa malu mencarinya.




