Siap-Siap Kondangan! Mengupas Tuntas Etika 'Ngamplop' Paling Krusial!

sumber gambar: Pixabay via pexels
Pernikahan adalah hajatan besar. Di Indonesia, hajatan ini selalu identik dengan ritual memberi amplop. Bagi sebagian orang, amplop adalah "kode wajib" untuk hadir. Bagi pasangan, ini adalah modal awal untuk memulai hidup.
Tapi, tahukah bahwa ritual ngamplop di Jawa, Batak, dan Sunda punya cerita, etika, dan bahkan nama yang berbeda? Ini dia perjalanannya.
Jawa: Filosofi Buwuh dan Catatan "Utang"
sumber gambar: ridzky setiaji via iStock
Di Jawa, istilah untuk pemberian sumbangan dikenal sebagai "Buwuh". Buwuh ini sarat makna gotong royong. Dahulu, sumbangan tidak melulu berupa uang, tapi juga bahan pangan seperti beras, gula, atau kelapa, wujud murni kepedulian.
Yang menarik, di banyak daerah Jawa (terutama pedesaan), praktik buwuh ini sering dicatat dengan detail. Catatan ini bukan sekadar arsip, tetapi semacam "utang budi". Ketika si pemberi buwuh kelak menggelar hajat pernikahan, keluarga penerima wajib membalasnya dengan nominal setidaknya sama, bahkan lebih, sebagai tanda penghormatan. Ini adalah sistem gotong royong yang rapi dan terukur.
Batak: Sinamot yang Penuh Nilai Kehormatan
sumber gambar: Mangkelin via iStock
Berbeda dari sekadar amplop sumbangan kondangan, suku Batak punya tradisi "Sinamot". Sinamot adalah uang mahar yang wajib diberikan pihak laki-laki (paranak) kepada pihak perempuan (parboru).
Sinamot bukan hanya uang mas kawin. Jumlahnya—yang bisa mencapai nominal fantastis—ditentukan berdasarkan status sosial, pendidikan, hingga pekerjaan calon pengantin perempuan. Uang ini kemudian digunakan oleh pihak perempuan untuk membiayai dan mempersiapkan pesta adat yang megah, termasuk pembelian ulos. Sinamot adalah simbol kehormatan dan penghargaan yang besar terhadap keluarga dan marga perempuan, sekaligus menunjukkan kesanggupan laki-laki menafkahi.
Sunda: Berbagi Rezeki Lewat Tradisi Nyawer
sumber gambar: raden yogana via iStock
Meskipun praktik amplop kondangan modern juga berlaku di Sunda, ada satu tradisi unik yang melengkapi prosesi ini, yaitu "Nyawer".
Setelah akad nikah, kedua mempelai akan duduk di atas kursi (atau kadang di pelaminan), sementara pihak yang nyawer (biasanya orang tua atau kerabat) akan melemparkan atau menaburkan beras, permen, kunyit, dan uang koin. Beras melambangkan kemakmuran, permen melambangkan manisnya hidup berumah tangga, dan uang koin melambangkan rezeki yang harus dipegang erat namun juga dibagikan secara ikhlas.
Secara umum, tradisi amplop memang bergeser menjadi lebih praktis dengan amplop berisi uang tunai. Namun, seperti yang terlihat, di balik kertas berisi nominal itu, tersimpan kisah panjang gotong royong, kehormatan, dan harapan yang membuat pernikahan di Nusantara begitu kaya makna. Jadi, saat mengisi amplop, ingatlah bahwa kita sedang ikut melestarikan warisan budaya.





